HUMANIORA – (8/7/2026) Keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi bukan sekadar ditandai dengan kelulusan akademik, tetapi juga dengan kematangan karakter dan kesiapan menjalani kehidupan setelah kampus. Bagi lulusan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari prestasi profesional yang akan diraih, melainkan juga dari kemampuan menjaga kualitas batin melalui rasa syukur, kerendahan hati, dan nilai-nilai spiritual. Pesan itulah yang menjadi inti sambutan Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., dalam Yudisium dan Pelepasan Mahasiswa Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung di Ruang Aula Lantai 3 Gedung Huruf Ya’ (ي), Rabu (8/7/2026).
Baca juga:

Di hadapan ratusan calon wisudawan, Prof. Faisol mengajak seluruh peserta menjadikan momen yudisium sebagai ruang refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Menurutnya, keberhasilan yang diraih hari ini merupakan nikmat besar dari Allah SWT sekaligus buah dari ikhtiar, pengorbanan, dan doa tulus kedua orang tua.
“Kami sangat bangga. Yudisium kali ini menjadi yang terbesar dalam sejarah Fakultas Humaniora. Selamat kepada seluruh peserta. Pencapaian ini patut kita syukuri sebagai karunia Allah SWT yang lahir dari kerja keras, doa, dan perjuangan yang panjang,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Prof. Faisol menegaskan bahwa rasa syukur merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang sukses dan bermakna. Syukur, menurutnya, bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, melainkan kondisi batin yang melahirkan ketenangan, kebahagiaan, dan kerelaan menerima setiap ketentuan Allah SWT.
Ia kemudian mengutip nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya menjaga hati dari kebiasaan mengeluh dan menyalahkan keadaan.
“Janganlah kalian suka mengeluh, maka kesedihan akan datang. Sebaliknya, ketika kita membiasakan diri bersyukur, kebahagiaan akan lebih mudah menghampiri kehidupan kita.”
Menurut Prof. Faisol, orang yang memiliki hati penuh syukur akan lebih siap menghadapi perubahan, tidak mudah putus asa ketika gagal, dan tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan.
Prof. Faisol kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri. Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut memiliki makna yang sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Mengutip penafsiran Syihabuddin Mahmud Al-Alusi dalam kitab Ruh al-Ma’ani, ia menjelaskan bahwa perubahan kehidupan berawal dari transformasi kondisi batin manusia. Pemahaman tersebut, menurutnya, sejalan dengan konsep psychological well-being dalam psikologi positif yang menekankan adanya hubungan erat antara kesehatan psikologis, cara berpikir, dan keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan.
“Apa yang kita lakukan memiliki hubungan erat dengan kondisi batin kita. Ketika rasa syukur tumbuh dengan benar, seseorang akan lebih terarah, lebih produktif, dan lebih mampu melihat peluang untuk terus berkembang.”
Ia juga mengutip pandangan para ulama yang menyebut bahwa rasa syukur merupakan pintu menuju hikmah (wisdom). Tanpa kemampuan bersyukur, seseorang akan sulit memperoleh kebijaksanaan dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Menurutnya, konsep gratitude yang banyak dikaji dalam psikologi kontemporer sesungguhnya telah lama diajarkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT menjanjikan tambahan nikmat kepada hamba-hamba yang mampu mensyukuri karunia-Nya. Karena itu, rasa syukur bukan hanya bernilai spiritual, tetapi juga menjadi energi yang mendorong produktivitas, optimisme, dan semangat untuk terus meningkatkan kualitas diri.
Lebih lanjut, Prof. Faisol menegaskan bahwa lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki keunggulan yang tidak hanya terletak pada kompetensi akademik, tetapi juga pada karakter spiritual yang dibangun selama proses pendidikan.
Ia mengingatkan agar para lulusan tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur utama kesuksesan.
“Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Ketika gagal, jangan berputus asa. Ketika berhasil, jangan menjadi jumawa. Itulah keseimbangan yang diajarkan Al-Qur’an kepada kita.”
Baginya, kemampuan menjaga keseimbangan batin merupakan bekal penting dalam menghadapi dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan.
Menutup sambutannya, Prof. Faisol mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga hubungan baik dengan kedua orang tua, khususnya ibu. Menurutnya, di balik setiap keberhasilan seorang anak terdapat doa yang tidak pernah putus dipanjatkan oleh orang tua.
“Jangan pernah lupa meminta doa kepada kedua orang tua, terutama ibu. Teruslah menjaga komunikasi dengan beliau, karena ridha dan doa seorang ibu merupakan salah satu pintu keberkahan dalam kehidupan.”
Pesan tersebut menjadi penutup yang sarat makna dalam prosesi yudisium, mengingatkan para lulusan bahwa keberhasilan akademik bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan baru untuk mengabdikan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat.
Sejalan dengan semangat Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam melahirkan lulusan yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global, para peserta yudisium diharapkan mampu membawa nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan keilmuan dalam setiap langkah pengabdian mereka. Dengan menjadikan rasa syukur sebagai fondasi kehidupan, para lulusan diharapkan tidak hanya meraih kesuksesan profesional, tetapi juga menjadi pribadi yang tangguh, rendah hati, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, umat, dan peradaban. [al/Infopub]





