Oleh: Laily Fitriani*
Saat Ramadan tiba, setiap manusia berupaya berlomba-lomba di jalan Allah untuk beribadah, memperbaiki diri, dan melaksanakan beragam kebaikan seperti membersihkan tempat ibadah, menyediakan takjil gratis memberikan sahur gratis, membayar zakat, melaksanakan infaq dan shadaqah, serta berbagi dengan sesama dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Baca juga:
- Lebaran: Hidangan, Kenangan, dan Perayaan Kemanusiaan
- Percakapan Semesta di Meja Makan; Renungan tentang Lebaran, Dunia, dan Akhirat
Selain itu jauh hari sebelum Ramadan tiba, setiap orang secara langsung atau tidak, ia telah merencanakan, mengusahakan dan menyisihkan penghasilan yang dimilikinya untuk biaya mudik lebaran. Terlepas apakah nanti di saat ramadan ia akan mendapatkan rejeki yang berlebih atau tidak, sebagai biaya dan keperluan mudik lebaran.
Mudik merupakan tradisi pulang kampung yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat akhir ramadan. Tradisi mudik ini telah membudaya di tanah air, hal ini dilakukan oleh siapapun yang sedang merantau dalam rangka bekerja dan melanjutkan pendidikan dengan memanfaatkan kesempatan libur panjang saat lebaran tiba. Mudik lebaran ini menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan, serta menjadi suatu keharusan bagi siapapun yang mampu untuk pulang ke kampung halaman.
Berbicara tentang tradisi mudik, setiap manusia pada hakikatya akan kembali pada sang Pencipta, sebagaimana orang-orang yang meninggalkan kampung halaman, suatu saat ia akan kembali pulang, ke tempat ia lahir dan dibesarkan bersama orang-orang tercinta. Hal inilah yang terjadi di akhir-akhir Ramadan, pemandangan lautan manusia yang memadati area transportasi umum. Jika kita lihat di berbagai media, ruas-ruas jalan mendadak macet, tiket-tiket kereta api, bus, kapal laut, dan pesawat mendadak hadir dengan harga yang melambung dan kadangkala habis terjual, apalagi ditambah dengan acara war tiket jauh-jauh hari demi mewujudkan tradisi mudik ke kampung halaman. Beragam pernak-pernik ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat kita.
Ada beberapa hal yang sebenarnya membuat seseorang rela merogoh kocek dalam-dalam demi mudik ke kampung halaman, yaitu:
- Rindu Kampung Halaman.
Manifestasi diri untuk kembali pulang karena rindu kampung halaman dan merasakan kebersamaan bersama keluarga serta handai tolan menjadi salah satu alasan seseorang memutuskan untuk mudik lebaran, dengan pulang kampung kerinduan seseorang akan terobati apalagi bertemu dengan keluarga yang selalu dirindukan. - Tradisi Khas Turun Temurun Keluarga dan Masyarakat
Mudik lebaran merupakan salah satu tradisi turun temurun yang diwariskan keluarga, sehingga seakan-akan mudik ke kampung halaman itu wajib dilakukan. Pastinya hal ini juga berkaitan dengan kecukupan dari sisi finansial seseorang yang hendak mudik. - Kesempatan Untuk Saling Bersilaturrahmi dan Memaafkan Sesama Keluarga.
Saat mudik lebaran, hampir seluruh keluarga besar berkumpul. Kesempatan yang belum tentu datang dalam satu tahun ini menjadi alasan kuat untuk saling berkumpul, bersilaturrahmi, dan memaafkan sesama. Acara kumpul keluarga ini juga menjadi bagian penting dalam keluarga. - Menghargai Orang Tua dan Keluarga
Salah satu bentuk bakti anak kepada orang tuanya adalah hadir dan bersama-sama saat lebaran, tentunya hal ini disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang dalam memutuskan apakah ia akan mudik tahun ini ataukah tidak. - Mencari Ketenangan Batin
Ketenangan batin yang dimaksud adalah, saat pulang kampung ada rasa damai dalam jiwa, dimana banyak kenangan masa kecil yang sering diulang, seperti merasakan makanan dan masakan khas daerah, melewati jalanan masa kecil, hingga bertemu dengan kawan-kawan lama.
Mudik Lebaran saat ini masih menjadi budaya yang terwariskan kepada lintas generasi kita. Di tengah-tengah kebisingan dunia maya, ternyata dunia realita kita hari ini masih mampu menjadi bentuk perwujudan rasa kemanusiaan manusia yang sejatinya tidak dapat digantikan dalam bentuk apapun, termasuk bentuk digital.
Membaca fenomena mudik di tanah air, hal ini menjadi salah satu momentum membangun rasa persaudaraan manusia untuk saling berkumpul, bersilaturrahmi agar dapat mendapatkan manfaat dari silaturrahmi yaitu sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.”
Hadits diatas menegaskan bahwa silaturrahmi menjadi salah satu moment penting untuk upaya seseorang jika ingin dilapangkan rizki dan diperpanjang umurnya. Dalam hal ini, tradisi mudik juga turut menjadi bagian penting dalam membangun kebersamaan silaturrahmi antar keluarga.
Oleh karena itu, tradisi mudik lebaran ini menjadi sesuatu hal yang penting untuk dilaksanakan. Sehingga, marilah kita berupaya untuk menjaga ukhuwah Islamiyah kita untuk senantiasa merealisasikan perwujudan Ramadan pada moment mudik lebaran bersama keluarga tercinta. Selama kita mendapatkan kelapangan rejeki dari Allah, marilah kita mudik untuk mempererat silaturrahmi antar keluarga agar mudik terasa lebih bermakna. Selamat berlebaran semua.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





