
Oleh: Muhammad Hasyim* Di dalam rangkaian ayat-ayat puasa, tepatnya di dalam surah Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman: وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan
Oleh: Muhammad Mubasysyir Munir* Setiap Ramadhan, kita menyaksikan perubahan yang terasa serempak di ruang-ruang kehidupan. Masjid lebih ramai, jadwal makan bergeser, lantunan ayat suci terdengar di berbagai sudut, dan ucapan “selamat berbuka” membanjiri percakapan, baik secara langsung maupun di media sosial. Ada ritme yang berubah dan suasana yang berbeda dari
Oleh: Istiadah* Puasa sering kali dipahami sebatas kewajiban ritual tahunan. Kita menahannya dari lapar dan haus, menunggu azan magrib, lalu merasa tugas telah selesai. Padahal, jika kita melihatnya dari perspektif sains otak, puasa adalah momen emas untuk melakukan rewiring—menyetel ulang “perkabelan” di dalam diri kita. Ia bukan hanya latihan spiritual,
Oleh: Halimi Zuhdy* Bagi mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, khususnya mahasiswa sastra dan bahasa Arab, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan ruang teks yang hidup, ia sebuah “diwan” tahunan yang bisa dibaca dari berbagai sudut, ada tubuh, bahasa, dan masyarakat. Siangnya adalah narasi disiplin dan penahanan diri, malamnya metafora cahaya,
Oleh: Nur Hasaniyah* Hari kelima Ramadhan telah menyapa kita dengan kehangatan rohani yang semakin dalam. Setelah rahmat dan maghfirah yang mengalir di hari-hari sebelumnya, kini saatnya membangkitkan semangat قيام الليل (qiyām al-lail) – bangun malam untuk beribadah. Puasa siang hari melatih ketabahan fisik, sementara malam Ramadhan menjadi panggung bagi jiwa
Oleh: Khafid Roziki* Ramadan sering dipahami sebagai bulan ibadah yang sarat nilai spiritual. Namun jika ditelaah lebih dalam, Ramadan juga merupakan ruang latihan pengendalian diri yang sangat sistematis. Puasa tidak hanya berbicara tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang bagaimana manusia mengelola dorongan fisik, emosi, dan hasrat sosialnya secara lebih
Oleh: A. Fahmi Fahrurrozi* Marhaban tiba Marhaban Tiba. Tiba-tiba Ramadan. Tiba-tiba Ramadan… Tentunya kita tidak asing dengan penggalan lirik yang keliru diucapkan oleh salah satu artis di tanah air. Sekilas memang seperti guyonan.tapi lihatlah justru dari situ banyak konten yang muncul. Yang semakin kreatif dan lucu. Banyak lagu-lagu spesial edisi
Oleh: Makhiulil Kirom* Bulan suci Ramadhan senantiasa disambut dengan sukacita oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Ia dikenal sebagai bulan kemuliaan, keberkahan, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa pada bulan inilah diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (QS. al-Baqarah: 185), dan pada bulan ini pula diwajibkan
Oleh: Achmad Diny Hidayatullah* Kita hidup di zaman yang gemar mengukur segala sesuatu dengan angka. Jurusan dinilai dari prospek kerja. Penelitian diukur dari hilirisasi. Bahkan minat dan bakat pun ditanya: “Bisa jadi cuan nggak? Ilmu-ilmu humaniora—sastra, bahasa, filsafat, sejarah, antropologi—sering ditempatkan di sudut ruangan dengan pertanyaan klasik: “Lulusannya jadi apa?”
Oleh: Ahmad Ghozi* Di tanah Jawa, agama tidak hadir di ruang kosong. Ia tumbuh di atas lapisan kepercayaan dan kebudayaan yang lebih dahulu mengakar. Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara telah mengenal ritus, simbol, dan tata nilai yang membentuk cara mereka memahami kehidupan. Karena itu, ketika Islam hadir sebagai agama