MIU Login

Mahasiswa Sastra Inggris Humaniora Raih Juara II ESEO 2026

HUMANIORA(14/8/2026) Keberanian menguji kemampuan di luar ruang kelas kembali mengantarkan mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menorehkan prestasi. Kharisma Dewi Nur Aziza, mahasiswa semester lima English Literature Study Program, berhasil meraih Juara II dalam ESEO 2026 (Edelweiss Science Excellence Olympiad), kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan secara daring oleh Edelweiss Institute pada 30 Juni–1 Juli 2026.

Read too:

Prestasi tersebut menjadi pengalaman penting bagi Kharisma dalam mengaktualisasikan kemampuan yang selama ini dikembangkannya melalui proses pembelajaran. Berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, ia tidak hanya dituntut menguasai kompetensi yang dilombakan, tetapi juga belajar mengelola kesiapan diri, kedisiplinan, dan kepercayaan diri selama mengikuti kompetisi.

Foto : Sertifikat Kharisma Dewi Nur Aziza

Edelweiss Science Excellence Olympiad 2026 diselenggarakan untuk memberikan ruang bagi peserta dari seluruh Indonesia dalam mengembangkan kemampuan sekaligus membangun semangat berprestasi. Dengan mengusung semangat “Jadi Juara”, kompetisi tersebut menghadirkan berbagai bidang yang dapat menjadi arena bagi peserta untuk menguji kemampuan dan pengalaman akademiknya.

Bagi Kharisma, keputusan mengikuti kompetisi menjadi langkah untuk keluar dari rutinitas pembelajaran dan mengukur kemampuan dalam ruang kompetitif yang lebih luas. Mahasiswa English Literature tersebut mengikuti kompetisi secara individu tanpa berkolaborasi dengan mahasiswa lain.

Proses itu ternyata memberikan pengalaman yang lebih besar daripada sekadar mengejar posisi juara. Persiapan menghadapi kompetisi membuat Kharisma belajar bahwa sebuah capaian membutuhkan proses, mulai dari membangun disiplin hingga menumbuhkan keberanian untuk percaya terhadap kemampuan sendiri.

“Mengikuti olimpiade ini adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Melalui kompetisi ini, saya mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Proses persiapan yang saya lalui mengajarkan saya arti kerja keras, disiplin, dan pentingnya percaya diri saat tampil,” ungkap Kharisma.

Kerja keras tersebut berbuah manis. Di tengah peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Kharisma berhasil menempatkan dirinya sebagai peraih Juara II. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh mahasiswa melalui proses akademik dapat dikembangkan lebih jauh ketika mereka memiliki keberanian untuk mengujinya melalui berbagai ruang kompetisi di luar kampus.

Bagi Faculty of Humanities, pengalaman seperti yang dijalani Kharisma memiliki nilai penting dalam proses pendidikan mahasiswa. Pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan, tugas, dan ujian. Pengalaman mengikuti kompetisi juga dapat menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan sejumlah keterampilan penting, seperti kemampuan berkomunikasi, manajemen waktu, kemandirian, ketahanan menghadapi tekanan, dan kepercayaan diri.

Prestasi Kharisma juga memperlihatkan pentingnya memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan potensinya. Setiap mahasiswa memiliki minat dan kemampuan yang berbeda. Ketika potensi tersebut memperoleh ruang untuk dikembangkan, kompetisi dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang membantu mahasiswa mengenali kapasitas dirinya sekaligus belajar dari peserta lain.

Hal tersebut turut dirasakan Kharisma. Setelah mengikuti ESEO 2026, ia berharap semakin banyak mahasiswa Faculty of Humanities yang berani mengambil kesempatan serupa. Menurutnya, dukungan institusi menjadi salah satu faktor penting agar mahasiswa memiliki keberanian untuk membawa kompetensi yang diperoleh di kampus ke berbagai forum eksternal.

“Saya berharap fakultas dapat terus mendukung dan memberikan izin bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi-kompetisi serupa di luar kampus, karena ajang seperti ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan soft skill, khususnya kemampuan berbahasa Inggris,” tuturnya.

Ia juga berharap dukungan tersebut dapat dikembangkan melalui penyebaran informasi kompetisi maupun pendampingan bagi mahasiswa yang memiliki minat untuk berprestasi.

“Semoga ke depannya semakin banyak mahasiswa yang berani mengikuti kompetisi eksternal, dan fakultas dapat memfasilitasi dengan informasi maupun bimbingan bagi mahasiswa yang berminat,” lanjutnya.

Harapan tersebut sejalan dengan semangat pembinaan mahasiswa di Faculty of Humanities yang mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada pencapaian akademik di dalam kelas. Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk berkompetisi, membangun jejaring, mengembangkan kreativitas, dan mengaktualisasikan kemampuan melalui berbagai forum di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam konteks English Literature Study Program, pengalaman kompetitif juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membawa kompetensi bahasa keluar dari konteks pembelajaran formal. Bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai disiplin akademik, tetapi menjadi kemampuan yang dapat digunakan untuk berkomunikasi, mengembangkan gagasan, memperluas wawasan, serta berinteraksi dalam lingkungan yang semakin global.

Capaian Kharisma menjadi salah satu gambaran bagaimana proses belajar dapat berkembang ketika mahasiswa berani mengambil kesempatan di luar ruang kuliah. Juara menjadi sebuah pencapaian, tetapi pengalaman, kedisiplinan, kerja keras, dan kepercayaan diri yang tumbuh selama proses kompetisi menjadi bekal yang tidak kalah penting bagi perjalanan akademik maupun profesional mahasiswa.

Prestasi ini sekaligus menambah catatan positif mahasiswa Faculty of Humanities dalam berbagai kompetisi eksternal sepanjang 2026. Setiap capaian menjadi bagian dari proses membangun budaya mahasiswa yang aktif, kompetitif, dan berani mengembangkan potensinya dalam berbagai bidang. Melalui pembinaan dan dukungan yang berkelanjutan, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus mendorong mahasiswa untuk menjadikan kampus sebagai ruang tumbuh sekaligus titik awal untuk menjelajahi kesempatan yang lebih luas. Keberhasilan Kharisma Dewi Nur Aziza di ESEO 2026 menunjukkan bahwa ketika kompetensi akademik dipertemukan dengan keberanian mencoba, kerja keras, dan kepercayaan diri, mahasiswa Humaniora memiliki peluang untuk tumbuh, berprestasi, dan menunjukkan kapasitasnya di tingkat nasional maupun global. [sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait