MIU Login

I-YES 2026 Usai, Peserta Bawa Pulang Persahabatan Lintas Batas

HUMANIORA – (7/10/2026) — Sebuah program dapat berakhir ketika rangkaian agendanya selesai, tetapi pengalaman dan hubungan yang terbentuk di dalamnya dapat terus berlanjut. Begitulah kesan yang tergambar dari sejumlah peserta International Youth Enhancing Study (I-YES) 2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang setelah mengikuti rangkaian program selama tujuh hari.

Read too:

Sebanyak 27 peserta dari berbagai negara hadir dalam I-YES 2026 dan menjalani beragam pengalaman akademik, budaya, sosial, hingga aktivitas bersama. Selama berada di Malang, mereka tidak hanya mengenal Indonesia melalui berbagai kegiatan, tetapi juga membangun pertemanan dengan peserta lain yang datang dari latar negara dan budaya yang berbeda.

Foto : Keceriaan peserta I-YES 2026 menjadi potret persahabatan yang tumbuh sepanjang perjalanan lintas budaya di Fakultas Humaniora

Ketika program resmi berakhir, kebahagiaan bercampur haru menjadi bagian dari suasana perpisahan. Bagi para peserta, I-YES 2026 meninggalkan lebih dari sekadar dokumentasi kegiatan. Mereka membawa pulang pengalaman baru, wawasan global, serta persahabatan yang melampaui batas geografis.

Sujood Boulad dari Palestina mengungkapkan kebahagiaannya setelah mengikuti I-YES 2026. Baginya, program tersebut menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru sekaligus bertemu dengan teman-teman baru.

Kesan khusus juga diberikan Sujood kepada teman sekamarnya selama berada di villa. Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari pengalamannya, terutama ketika menghadapi kendala komunikasi selama mengikuti program.

Foto : Tiga peserta I-YES 2026 menikmati kebersamaan di sela rangkaian kegiatan sambil berbagi senyum dan gestur penuh keakraban

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kedekatan dalam I-YES tidak hanya dibangun melalui agenda resmi. Kehidupan bersama selama program juga menjadi ruang bagi peserta untuk saling membantu, memahami perbedaan, dan membangun hubungan yang lebih dekat.

Sujood pun berharap pelaksanaan I-YES pada tahun berikutnya dapat berlangsung semakin baik.

Kesan haru juga disampaikan Muhammed Camara dari Gambia. Baginya, perpisahan dengan I-YES 2026 bukan sesuatu yang mudah karena program tersebut telah menghadirkan kenangan indah, pengalaman bermakna, serta orang-orang yang akan selalu dikenangnya.

Foto : Kebersamaan peserta I-YES 2026 terasa hangat hingga dalam aktivitas outbound di alam terbuka. Tawa, kekompakan, dan interaksi lintas budaya mengubah perjumpaan dari berbagai negara menjadi persahabatan yang nyata—sebuah pengalaman yang akan tetap melekat meski rangkaian I-YES 2026 telah usai.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Faculty of Humanities, panitia, dan seluruh peserta atas keramahan, penerimaan, serta berbagai momen yang telah mereka lalui bersama. Muhammed juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama mengikuti program terdapat perkataan, kesalahpahaman, maupun tindakan yang kurang berkenan.

Bagi Muhammed, berakhirnya program bukan berarti berakhirnya hubungan yang telah terbangun. Ia berharap dapat bertemu kembali dengan teman-teman I-YES pada kesempatan lain.

Pesan serupa datang dari Aisha Moussa Abisso Khamis dari Chad. Ia menggambarkan I-YES 2026 sebagai pengalaman yang mempertemukan peserta dari berbagai negara dan pada akhirnya melahirkan persahabatan yang melampaui batas.

Menurut Aisha, kesempatan untuk bertemu, belajar, berbagi cerita, dan tertawa bersama menjadi pengalaman yang akan selalu dikenangnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Fakultas Humaniora dan tim penyelenggara yang telah membuka ruang perjumpaan tersebut.

Kepada sesama peserta, Aisha menyampaikan bahwa kebersamaan mereka telah membuat I-YES menjadi pengalaman yang sangat berharga. Ia berharap komunikasi dan hubungan yang telah dibangun dapat terus terjaga meskipun para peserta kembali menjalani kehidupan di negara masing-masing.

“We arrived from different countries, but we are leaving with friendships that go beyond borders,” ungkap Aisha.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu gambaran kuat dari makna I-YES 2026. Peserta memang datang dari negara yang berbeda, tetapi pengalaman selama program mempertemukan mereka dalam ruang belajar dan kebersamaan yang sama.

Bagi Farah Naz dari Pakistan, I-YES 2026 memberikan pengalaman yang tidak hanya berkesan, tetapi juga menghadirkan kejutan. Ia mengaku menikmati setiap rangkaian kegiatan tanpa menyangka dirinya akan mendapatkan penghargaan sebagai Best Participant.

Farah merasa senang dapat bertemu dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia. Baginya, pengalaman mengikuti seluruh rangkaian I-YES menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus berkesan.

Pengalaman Farah menunjukkan bahwa penghargaan bukan satu-satunya tujuan dalam sebuah perjumpaan. Justru ketika peserta menikmati proses, berinteraksi, dan berpartisipasi secara aktif, pengalaman tersebut dapat berkembang menjadi pencapaian yang tidak disangka sebelumnya.

Sementara itu, M. Afrin Hidayatulloh dari Indonesia memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya I-YES 2026, mulai dari dosen, sekolah mitra, sponsor, hingga pihak-pihak lain yang turut menyukseskan program.

Bagi Afrin, I-YES menjadi kesempatan untuk menemukan teman-teman baru sekaligus mendapatkan wawasan global yang lebih luas. Ia juga menilai pengalaman tersebut sangat berharga karena tidak semua mahasiswa Humaniora memperoleh kesempatan untuk mengikuti program seperti I-YES.

Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya program internasional bagi mahasiswa Humaniora. Perjumpaan dengan peserta dari berbagai negara memberikan kesempatan untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih beragam, sekaligus memperluas pemahaman tentang budaya dan kehidupan masyarakat di luar Indonesia.

Beragam testimoni peserta tersebut memperlihatkan satu benang merah: I-YES 2026 meninggalkan pengalaman yang lebih panjang daripada durasi programnya.

Tujuh hari menjadi ruang bagi peserta untuk belajar, mengenal budaya Indonesia, berinteraksi dengan masyarakat, mengikuti berbagai aktivitas, dan membangun hubungan dengan teman-teman dari berbagai negara. Ketika seluruh rangkaian kegiatan berakhir, pengalaman tersebut kemudian berubah menjadi cerita dan persahabatan yang dibawa pulang oleh masing-masing peserta.

Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pengalaman para peserta menjadi bagian penting dari perjalanan I-YES sebagai ruang perjumpaan global. Program internasional tidak hanya mempertemukan individu dari berbagai negara, tetapi juga membuka peluang untuk membangun pemahaman lintas budaya dan jejaring yang dapat terus berkembang.

I-YES 2026 pun akhirnya sampai pada penghujung perjalanan. Namun, bagi para peserta, akhir program bukanlah akhir dari perjumpaan. Dari Malang, mereka kembali ke negara masing-masing dengan membawa pengalaman baru, teman baru, serta cerita tentang Indonesia yang akan terus menjadi bagian dari perjalanan mereka. [unr-sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait