MIU Login

Humaniora Hadirkan Perspektif Sastra, Budaya, dan Spiritualitas dalam Memaknai Kesehatan Mental

HUMANIORA – (21/7/2026) Wacana mengenai kesehatan mental dewasa ini berkembang melampaui pendekatan psikologis dan medis. Pengalaman manusia dalam menghadapi tekanan hidup tidak hanya berkaitan dengan kondisi kejiwaan, tetapi juga dipengaruhi oleh cara seseorang memaknai kehidupan, membangun hubungan sosial, serta menemukan harapan melalui nilai-nilai budaya dan spiritual. Karena itu, pendekatan humaniora menjadi salah satu perspektif penting dalam memperkaya pemahaman tentang proses pemulihan dan pertumbuhan manusia.

Baca juga :

Pandangan tersebut menjadi salah satu gagasan yang disampaikan oleh M. Anwar Mas’adi, M.A., dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam forum bedah buku Broken Strings – We’re Not Okay and That’s Fine yang digelar di Rumah Budaya Ratna, Kota Malang. Bersama Yusuf Ratu Agung, M.A. dari Fakultas Psikologi, ia mengangkat pentingnya dialog lintas disiplin antara psikologi, sastra, budaya, dan spiritualitas dalam membaca dinamika kesehatan mental masyarakat.

Menurut Anwar Mas’adi, pengalaman manusia tidak dapat dipahami secara utuh hanya melalui satu sudut pandang keilmuan. Sastra, budaya, dan spiritualitas memiliki kemampuan menghadirkan ruang refleksi yang membantu seseorang memahami dirinya sekaligus membangun empati terhadap pengalaman orang lain. Melalui karya sastra, pembaca diajak memasuki berbagai pengalaman batin yang sering kali sulit diungkapkan dalam bahasa sehari-hari.

Ia menilai bahwa buku Broken Strings merefleksikan realitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda yang hidup di tengah berbagai tuntutan sosial, tekanan untuk selalu tampil sempurna, serta pergulatan emosional yang kerap tidak terlihat oleh lingkungan sekitar. Buku tersebut menghadirkan narasi bahwa luka dan kerentanan bukan sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan bagian alami dari perjalanan manusia dalam bertumbuh.

Bagi Anwar, ungkapan “We’re not okay and that’s fine” mengandung pesan yang lebih dalam daripada sekadar menerima keadaan. Kalimat tersebut mengajak setiap orang untuk berani mengakui kondisi dirinya tanpa dibebani rasa bersalah. Kesadaran menerima diri menjadi fondasi penting sebelum seseorang mampu membangun kembali optimisme, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat dimensi spiritual dalam kehidupannya.

Perspektif humaniora juga menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental tidak hanya dibangun melalui kajian psikologi, tetapi dapat diperkuat melalui sastra, budaya, filsafat, maupun agama. Berbagai disiplin tersebut menawarkan cara memahami pengalaman manusia melalui narasi, simbol, bahasa, dan nilai-nilai yang membentuk cara seseorang memandang dirinya serta lingkungan sosialnya.

Dalam konteks ini, sastra berfungsi lebih dari sekadar karya estetis. Sastra menjadi medium refleksi yang mempertemukan pengalaman personal dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Kisah-kisah tentang kehilangan, kegagalan, harapan, maupun proses penyembuhan mampu membuka ruang dialog yang lebih empatik dan mendorong pembaca untuk melihat bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Kolaborasi antara Fakultas Humaniora dan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga memperlihatkan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat kontemporer. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa tantangan kehidupan modern memerlukan perspektif yang saling melengkapi agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Keterlibatan dosen dalam ruang-ruang diskusi publik sekaligus mencerminkan komitmen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kepakaran akademik tidak berhenti pada aktivitas pembelajaran dan penelitian, tetapi juga diwujudkan melalui kontribusi dalam membangun budaya literasi, dialog, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui perspektif yang memadukan sastra, budaya, dan spiritualitas, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan bahwa ilmu humaniora memiliki peran strategis dalam membantu masyarakat memahami kompleksitas pengalaman manusia. Pendekatan tersebut membuka ruang bagi tumbuhnya kesadaran bahwa setiap luka dapat dimaknai sebagai bagian dari proses pembelajaran, penguatan diri, dan perjalanan menuju kehidupan yang lebih bermakna. [sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait