HUMANIORA – (2/10/2026) Enam hari bersama mungkin terasa singkat, tetapi cukup untuk mengubah perjumpaan antara orang-orang dari bahasa, negara, dan budaya berbeda menjadi pengalaman belajar dan persahabatan. Perjalanan International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mencapai penghujungnya melalui Closing Ceremony, Jumat (2/10/2026), setelah peserta menjalani rangkaian pengalaman akademik, sosial, dan budaya sejak awal program.
Penutupan menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui peserta. Dari forum akademik di kampus, kunjungan ke sekolah dan madrasah, percakapan lintas budaya, membatik, memainkan gamelan, menari, hingga menyelesaikan tantangan outbound, I-YES mempertemukan peserta bukan hanya sebagai representasi negara masing-masing, tetapi sebagai individu yang belajar hidup dan bekerja bersama dalam keberagaman.
Acara dipandu oleh Muhammad Jihad Deft Maulana, mahasiswa English Literature, bersama Rasni Haryana Ritonga, mahasiswa Arabic Language and Literature. Nuansa budaya langsung terasa melalui penampilan pembuka berupa Tari Saman dan Badinding yang dibawakan 14 mahasiswa bersama lima dosen.
Foto: Muhammaed Camara dari The Gambia, Sujood Boulad dari Palestina, dan Muhammad Afrin dari Indonesia berbagi kesan dan pesan selama I-YES 2026
Namun, salah satu bagian yang paling merepresentasikan perjalanan I-YES 2026 justru datang dari suara para peserta. Muhammaed Camara dari The Gambia, Sujood Boulad dari Palestina, dan Muhammad Afrin dari Indonesia berbagi kesan setelah melewati rangkaian program bersama.
Muhammad Afrin melihat keberagaman latar belakang peserta sebagai bagian penting dari pengalaman tersebut. Enam hari lima malam memberinya kesempatan bertemu dan belajar bersama orang-orang yang membawa bahasa dan budaya berbeda.
“Banyak sekali pengalaman dan pembelajaran baru, terutama selama enam hari lima malam ini. Kita berasal dari latar belakang bahasa dan negara yang berbeda,” ungkap Afrin.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada panitia, sekolah dan madrasah mitra, serta seluruh pihak yang terlibat. Afrin berharap penyelenggaraan berikutnya dapat menjangkau peserta yang semakin luas, termasuk dari negara-negara Eropa.
Pengalaman serupa dirasakan Sujood Boulad. Baginya, perjalanan I-YES 2026 tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga membuka persahabatan dengan orang-orang dari latar budaya berbeda.
“Everything was well organized. I have learned a lot in this journey, built a lot of friendships, and learned more about their cultures,” ungkapnya.
Refleksi para peserta memperlihatkan bahwa nilai I-YES 2026 tidak hanya berada pada banyaknya agenda yang mereka ikuti. Pengalaman justru tumbuh dari interaksi yang berlangsung di antara agenda-agenda tersebut—ketika peserta berbicara, bekerja dalam kelompok, mencoba budaya baru, menghadapi perbedaan, dan perlahan membangun kedekatan.
Foto: Peserta penuh senyum dan tepuk tangan mewarnai penghujung perjalanan I-YES 2026.
Sebagai penanda selesainya program, sertifikat peserta diserahkan oleh Ketua Program Studi English Literature Dr. Agwin Degaf, M.A. dan Ketua Program Studi Arabic Language and Literature Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd.
Faculty of Humanities juga memberikan piagam penghargaan kepada sekolah dan madrasah mitra serta sponsor melalui Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dr. Galuh Nur Rohmah, M.Pd., M.Ed. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas keterlibatan mitra yang turut membuka ruang bagi peserta untuk memperoleh pengalaman lintas budaya di luar kampus.
Sementara itu, sertifikat bagi narasumber diserahkan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Halimi, M.Pd. Kehadiran narasumber, sekolah mitra, serta berbagai pihak yang terlibat menjadi bagian penting dari model pembelajaran I-YES yang membawa peserta bertemu langsung dengan lingkungan akademik dan masyarakat.
Foto bersama perwakilan dari SDI Baitul Makmur dan MTs Almaarif 01 SingosariKeberhasilan I-YES 2026 juga tumbuh dari kolaborasi banyak pihak, termasuk mitra dan sponsor.
Suasana penutupan semakin cair melalui sejumlah penampilan. Para peserta I-YES 2026 kembali menunjukkan kreativitas mereka, sementara Yasmin Annabella, siswi kelas V SD Islam Baitul Makmur, hadir membawakan penampilan menyanyi. Kolaborasi tari antara siswa MTs Almaarif 01 Singosari dan peserta I-YES 2026 menjadi gambaran lain tentang relasi yang tumbuh selama program: sekolah mitra tidak sekadar menjadi lokasi kunjungan, tetapi ikut menjadi bagian dari pengalaman peserta.
Sejumlah peserta kemudian menerima penghargaan berdasarkan keterlibatan mereka sepanjang program. Prisca Livania Do Rego Tilman dari Timor Leste terpilih sebagai Peserta Terbaik Gamelan, sedangkan Muhammad Afrin Hidayatullah dari Indonesia memperoleh penghargaan kategori membatik. Baby Farhana Tunggay dari Filipina menjadi Peserta Terbaik Menari Tradisional dan Farah Naz dari Pakistan meraih penghargaan Peserta Terbaik Outbound.
Tari Saman oleh mahasiswa menyatukan panggung I-YES 2026.Kolaborasi mahasiswa dan dosen Fakultas Humaniora menyanyikan lagu You Raised Me Up
Sementara itu, Muhammaed Camara dari The Gambia terpilih sebagai Peserta Terfavorit. Farah Naz kembali memperoleh apresiasi tertinggi sebagai Best ParticipantI-YES 2026.
Momen reflektif kembali terasa ketika video dokumentasi perjalanan I-YES 2026 diputar. Potongan-potongan kegiatan membawa peserta mengingat kembali perjumpaan yang mereka lalui selama enam hari—dari pertemuan pertama hingga kebersamaan yang terbentuk menjelang kepulangan.
Foto: Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag. memberikan sambutan pada closing ceremony I-YES 2026
Dean Faculty of Humanities, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., kemudian memberikan sambutan sebagai bagian dari penutupan program. Kehadiran pimpinan fakultas dalam sesi tersebut menegaskan I-YES sebagai bagian dari upaya Humaniora membangun lingkungan akademik yang semakin terbuka terhadap dialog, pengalaman internasional, dan interaksi lintas budaya.
Bagi Faculty of Humanities, berakhirnya I-YES 2026 bukan sekadar selesainya sebuah agenda internasional. Program ini memperlihatkan bagaimana internasionalisasi dapat bergerak keluar dari ruang seminar dan diterjemahkan menjadi pengalaman langsung: mahasiswa internasional dan Indonesia belajar bersama, masyarakat sekolah bertemu dengan budaya dunia, sementara peserta internasional memperoleh kesempatan mengenal Indonesia melalui orang, seni, bahasa, dan kehidupan sehari-hari.
Foto: Sojood Boulad (Palestina) dan Aisha Moussa Abisso Khamis (Chad) membacakan syair Arab
Semangat tersebut sejalan dengan tema “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Selama enam hari, suara-suara dari latar budaya berbeda tidak hanya hadir untuk memperkenalkan identitas masing-masing, tetapi bertemu dalam dialog dan pengalaman bersama.
Rangkaian Closing Ceremony akhirnya ditutup dengan doa yang dipimpin Arif Rahman Hakim, M.Pd.I. Peserta mungkin akan kembali ke aktivitas dan tempat masing-masing, tetapi pengalaman I-YES 2026 tidak serta-merta berakhir bersama penutupan acara.
Foto: Arif Rahman Hakim, M.Pd.I menutup acara closing ceremony I-YES 2026 dengan doa
Yang dibawa pulang bukan hanya sertifikat atau dokumentasi kegiatan. Ada nama-nama baru dalam lingkar pertemanan, budaya yang sebelumnya asing menjadi lebih dekat, dan pengalaman hidup bersama orang-orang yang berbeda. I-YES 2026 berakhir sebagai sebuah program, tetapi perjumpaan yang dibangunnya membuka kemungkinan bagi dialog dan persahabatan lintas budaya untuk terus berlanjut. [unr/Infopub]