Oleh: Wildana Wargadinata*
Ramadhan sering dipersepsikan sebagai bulan “permakluman”: ritme kerja diturunkan, jam belajar dipersingkat, produktivitas dikurangi, dan puasa dijadikan alasan untuk lemah, mengantuk, dan bermalas-malasan. Institusi kerja melonggarkan target, sekolah memadatkan durasi, proyek melambat. Seolah-olah Ramadhan adalah bulan istirahat kolektif umat. Padahal secara historis dan teologis, Ramadhan justru bulan lahirnya peradaban.
Read too:
Jika kita sepakat bahwa Islam dimulai dengan turunnya Al-Qur’an, dan Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, maka bisa disebut bahwa Ramadhan adalah “bulan kelahiran” peradaban Islam. Ia bukan bulan stagnasi, melainkan bulan revolusi nilai. Dari Ramadhan lahir manusia baru – yang mampu mengendalikan diri, menata hasrat, dan membangun solidaritas. Sejarah emas Islam membuktikan hal itu. Momentum-momentum paling menentukan justru terjadi di bulan puasa Ramadhan:
Perang Badar (17 Ramadhan 2 H / 624 M) – kemenangan strategis pertama umat Islam yang mengubah peta kekuatan di Jazirah Arab. Pertempuran ini berlangsung di Lembah Badar, sebuah wilayah yang terletak sekitar 130 km sebelah barat daya Madinah, di jalur perdagangan antara Mekkah dan Syam.
Fathu Makkah (Ramadhan 8 H / 630 M) – transformasi Mekah dari pusat paganisme menjadi pusat tauhid.
Perang Qadisiyyah (14 H / 636 M) akhir bulan Ramadhan dan memasuki bulan syawal – awal runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah yang berideologi monarki sakral Zoroastrian. Perang ini adalah perang terhadap tradisi religius Zoroastrianisme (kosmologi dualistik: terang vs gelap), struktur sosial aristokratis-kasta, sakralisasi kekuasaan raja (Syahansyah). Perang ini berlangsung di wilayah al-Qadisiyyah, dekat Kufah (Irak sekarang).
Penaklukan Andalusia (28 Ramadhan 92 H / 711 M) – pembuka lahirnya peradaban ilmu di Eropa Barat. Pertempuran yang menentukan antara pasukan Muslim melawan pasukan Kerajaan Visigoth terjadi pada tanggal 28 Ramadhan 92 H (bertepatan dengan 19 Juli 711 M) di tepi Sungai Guadalete. Hakekat Fathu Andalus adalah perang antara ideologi Keadilan (Islam) dan ideologi Tirani (feodalisme Visigoth)
Perang ‘Ain Jalut (25 Ramadhan 658 H / 1260 M) – kemenangan atas Mongol yang menghentikan gelombang destruksi dunia Islam. Perang ‘Ain Jalut terjadi pada 25 Ramadan 658 H / 3 September 1260 M. Pertempuran ini berlangsung di lembah ‘Ain Jālūt (Palestina sekarang), antara pasukan Mamluk Mesir dan pasukan Mongol
Perang Hittin (583 H / 1187 M) – di bawah Salahuddin al-Ayyubi, jalan pembebasan Al-Quds terbuka. Perang Hittin terjadi menjelang bulan Ramadhan pada 1187 Masehi (583 Hijriyah), Pertempuran ini berlangsung di kawasan Horns of Hattin, dekat Tiberias, Palestina, yang kini terletak di wilayah Israel modern.
Perang Yom Kippur (10 Ramadhan 1393 H / 1973 M) – simbol kebangkitan harga diri dunia Arab modern. Bahkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 terjadi pada bulan Ramadhan. Tepatnya, hari Jumat dan bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriah.
Semua ini menunjukkan satu pola historis: puasa tidak melemahkan peradaban, justru menguatkannya. Ketika fisik dikendalikan, ruh menguat. Ketika nafsu ditahan, disiplin lahir. Ketika konsumsi dibatasi, visi diperluas.
Sejarawan Barat Will Durant dalam The Story of Civilization menyebut transformasi Arab-Islam sebagai salah satu gejala sosial paling menakjubkan abad pertengahan: dari masyarakat padang pasir yang terpecah menjadi kekuatan yang dalam satu abad mengalahkan Kekaisaran Bizantium dan Persia serta membangun peradaban lintas benua. Fondasi spiritual transformasi itu berawal dari wahyu yang turun di bulan Ramadhan.
Maka Ramadhan bukanlah bulan penurunan produktivitas, melainkan bulan totalitas – totalitas ibadah, totalitas disiplin, dan totalitas kerja peradaban. Ia mengajarkan bahwa energi sejarah tidak selalu lahir dari kelimpahan fisik, tetapi lahir dari kekuatan spiritual yang terorganisasi. Para salafuna as-shaleh mengajarkan mutiara yang tiada tara kepada kita sekarang ini, betapa puasa dan bulan Ramadhan tidak menjadi penghalang untuk melakukan pekerjaan besar yang membutuhkan energi fisik yang besar. Puasa dan Ramadhan telah mengajarkan kepada kita, meski fisik kita lemah tapi ternyata ruh dan spiritual kita menguat, ketika spiritual kita menguat maka lahir prestasi fisik yang tidak terbayangkan.
Rasulullah SAW. menggambarkan keagungan bulan Ramadhan dalam pidatonya di akhir bulan Sya’ban:
خَطَبَنا رسولُ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم – في آخِرِ يومٍ من شعبانَ فقال : يا أَيُّها الناسُ ! قد أَظَلَّكم شهرٌ عظيمٌ، شهرٌ مبارَكٌ، شهرٌ فيه ليلةٌ خيرٌ من ألفِ شَهْرٍ، جعل اللهُ صيامَه فريضةً، وقيامَ ليلِه تَطَوُّعًا، من تَقَرَّبَ فيه بخَصْلَةٍ من الخيرِ ؛ كان كَمَنْ أَدَّى فريضةً فيما سواه، ومن أَدَّى فريضةً فيه ؛ كان كَمَنْ أَدَّى سبعين فريضةً فيما سواه، وهو شهرٌ أولُهُ رحمةٌ، وأوسطُه مغفرةٌ، وآخِرُهُ عِتْقٌ من النارِ، ومن خَفَّفَ عن مَمْلُوكِهِ فيه ؛ غفر اللهُ له وأعتقه من النارِ.الراوي:سلمان الفارسي
Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan kami pada hari terakhir bulan Sya’ban, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada bulan ini sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai shalat sunnah (tathawwu’). Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu amalan kebaikan (sunah) di bulan ini, maka ia seperti orang yang menunaikan kewajiban (fardhu) di bulan lainnya. Dan barangsiapa yang menunaikan suatu kewajiban di bulan ini, maka ia seperti orang yang menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lainnya. Bulan ini adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (ampunan), dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban (pekerjaan) budak/sahayanya di bulan ini, niscaya Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari sahabat Salman Al-Farisi)
Bulan Ramadhan adalah bulan yang begitu istimewa, bulan yang dipenuhi dengan berbagai macam ibadah dan ketaatan yang sulit didapatkan di waktu-waktu lain. Inilah bulan yang Allah muliakan, bulan di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan, setiap doa diangkat ke langit, dan setiap hamba diberi kesempatan untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang suci. Puasa adalah latihan penguasaan diri; dan peradaban besar selalu dibangun oleh manusia yang mampu menaklukkan dirinya sebelum menaklukkan dunia.
Marilah kita bersama-sama memaksimalkan keistimewaan Ramadhan ini untuk meningkatkan kualitas ibadah, ketakwaan, serta produktivitas kita. Jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah, dan meraih keberkahan dalam setiap langkah kita. Jangan biarkan detik-detik Ramadhan berlalu sia-sia, karena kita tidak tahu apakah kita akan diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan lagi di tahun-tahun mendatang. Semoga Allah memberikan kekuatan dan taufik-Nya kepada kita semua untuk menjadikan Ramadhan ini sebagai bulan yang penuh makna dan keberkahan, yang mendorong kita beramal dengan totalitas ibadah, totalitas disiplin, dan totalitas kerja peradaban. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamin.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





