MIU Login

Membaca Ulang Rajah Lokal untuk Generasi Z: Perspektif Kritis dan Kontekstual

HUMANIORA – (24/4/2026) Achmad Diny Hidayatullah hadir sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Filologi dengan membawa perspektif yang menjembatani khazanah manuskrip Nusantara dan realitas generasi masa kini. Dalam forum yang digelar di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut, ia menekankan bahwa rajah lokal perlu dibaca ulang secara kritis dan kontekstual agar tetap relevan bagi generasi Z.

Read too:

Dalam paparannya, Diny menegaskan bahwa manuskrip rajah bukan sekadar artefak budaya atau praktik magis sebagaimana sering dipersepsikan secara dangkal. Lebih dari itu, rajah merupakan teks simbolik yang memuat doa, ayat, serta struktur makna tertentu yang merepresentasikan respons manusia terhadap berbagai persoalan hidup—baik sosial, psikologis, maupun spiritual. Dengan demikian, rajah dapat diposisikan sebagai bagian dari literasi spiritual yang memiliki nilai reflektif bagi kehidupan modern.

Ia mengajak peserta untuk melihat manuskrip tidak hanya sebagai produk masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang hidup dan terus dapat dikontekstualisasikan. Dalam kerangka ini, tradisi lokal Nusantara dipahami sebagai bagian dari jaringan intelektual Islam global yang lebih luas. Salah satu contoh yang diangkat adalah Jawāhir al-Ḥikmah, yang menunjukkan bagaimana ulama Nusantara mengembangkan tradisi keilmuan berbasis tauhid dengan tetap menjaga sanad dan otoritas keilmuan.

Lebih lanjut, Diny menyoroti tantangan kontemporer yang dihadapi manuskrip rajah, mulai dari minimnya perhatian akademik hingga maraknya komodifikasi dalam budaya populer. Fenomena seperti “cek khodam” atau praktik instan lainnya dinilai berpotensi mereduksi makna rajah yang sesungguhnya. Ia mengingatkan bahwa tanpa pemahaman yang benar, khazanah keilmuan ini dapat disalahartikan dan kehilangan substansi.

Sebagai solusi, ia menawarkan pendekatan ilmiah dan moderat dalam mengkaji manuskrip. Dalam tradisi pesantren, menurutnya, rajah dipelajari melalui proses yang ketat—melibatkan sanad, ijazah, dan talaqqi—sehingga tidak dapat dipelajari secara sembarangan. Ia menegaskan pentingnya bimbingan guru dalam memahami dan mengamalkan teks-teks tersebut agar tetap berada dalam koridor keilmuan yang benar.

“Belajar rajah itu harus ada gurunya. Ada sanad dan ijazah. Tidak boleh serampangan, apalagi terpengaruh budaya pop yang cenderung mengkomodifikasi khazanah ini,” tegasnya dalam sesi diskusi.

Dari perspektif akademik, paparan ini memberikan pesan penting bahwa studi manuskrip tidak hanya menuntut kemampuan teknis membaca teks, tetapi juga kedewasaan intelektual dalam memahami konteks historis, kultural, dan spiritual yang melingkupinya. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi penghubung antara warisan masa lalu dan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan akar keilmuan yang otoritatif.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Oesman Mansur ini berjalan dinamis dan interaktif. Praktik langsung membaca manuskrip oleh mahasiswa menjadi salah satu momen yang menarik perhatian, sekaligus memperkuat pengalaman belajar yang aplikatif.

Melalui paparan ini, ditegaskan bahwa menjadi generasi Z tidak berarti tercerabut dari tradisi. Sebaliknya, dengan memahami manuskrip dan khazanah keilmuan masa lalu, generasi muda justru dapat membangun cara pandang yang lebih utuh—adaptif terhadap perubahan, namun tetap berpijak pada nilai dan tradisi yang kuat. [dee/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait