Oleh: Ustaz H. M. Faisol Fatawi
Seperti pada umumnya, Ramadhan menjadi bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam. Kehadirannya sungguh sangat didambakan. Bukan saja karena Ramadhan menjadi momentum dari salah satu bulan yang dimuliakan dalam agama Islam, tetapi secara kultural telah melahirkan praktik budaya penyambutan yang beragam di tengah masyarakat. Misalnya saja, maraknya jualan makanan takjil, bukber bersama,pembagian takjil gratis, dan lain-lain. Atau bahkan sebelum Ramadhan betul-betul hadir di desa-desa tak jarang ditemukan tradisi nyekar ke kuburan, atau bahkan mengecat rumah-rumah demi menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Read too:
- Prestasi Mendunia: Mahasiswa Humaniora Sabet Juara Esai Internasional di Chulalongkorn University Thailand
- Humaniora dan Makna Ramadhan: Menemukan Kembali Manusia di Tengah Ibadah
Rasulullah Saw sendiri dalam sabdanya mengatakan, bahwa “siapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan maka jasadnya diharamkan masuk neraka.” Ini menjadi kabar gembira yang luar biasa bagi umat Islam. Betapa tidak, dengan “modal” bahagia saja maka seseorang mendapat garansi bebas dari api neraka. Lantas, mungkin tidak berlebihan jika sabda Beliau Saw itu diterjemahkan dalam berbagai perilaku dan tradisi. Menyambut Ramadhan kemudian dimaknai layaknya menyambut tamu yang harus disiapkan segala demi menghormati sang tamu yang Bernama Ramadhan.
Coba saja dilihat, di bulan Ramadhan mendadak medsos dipenuhi dengan berbagai ragam ucapan selamat. Misalnya saja,“Marhaban ya Ramadhan,” “Mohon maaf lahir batin,” dan seterusnya “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Ucapan ini muncul mulai dari atas nama individu hingga atas nama Lembaga atau institusi atau bahkan tokoh-tokoh penting. Kata-kata tersebut sungguh sarat dengan makna religious dan membentuk ruang rekonsiliasi dan menciptakan relasi social yang penuh kedamaian. Melalu kalimat-kalimat seperti itu, tatanan sosial seolah terbangun begitu sangat apik, tanpa permusuhan dan jauh dari perselisihan. Dunia mendadak menjadi santun dan damai.
Dalam kajian bahasa, kita mungkin pernah mendengar teori Tindak Tutur. Menurut teori ini, Bahasa bukan sekadar menginformasikan tentang sesuatu, apalagi menjadi sekadar alat komunikasi dalam menyampaikan suatu pesan. Namun lebih dari itu, menurut teori ini mengucapkan sesuatu berarti melakukan sesuatu. Ketika seseorang berkata, “Saya memaafkan,” ia tidak hanya berbicara, tetapi bertindak. Begitu pula ketika masyarakat mengucapkan “Mohon maaf lahir batin,” mereka sedang membuka pintu rekonsiliasi.
Begitu juga saat seseorang mengucapkan “Marhaban Ramadhan” atau “Selamat menjalankan puasa”, maka pada hakikatnya ia sedang membuka ruang dukungan moral dan mengafirmasi identitas keagamaan bersama. Seolah mengisyarakat kita berada dalam ruang spiritual yang sama (yaitu Ramadhan), maka ayo dijalani bulan ini bersama-sama.
Dalam perspektif ilmu linguistik, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pembentuk realitas. Kata-kata tidak hanya menyampaikan makna; ia menciptakan makna. Maka ketika Ramadhan menghadirkan bahasa yang sarat doa, maaf, dan harapan, sesungguhnya ia sedang membangun ulang tatanan emosional masyarakat. Ia membentuk suasana batin kolektif, menciptakan ruang rekonsiliasi, dan memperhalus relasi sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, konflik kecil sering mengendap tanpa penyelesaian. Ego, gengsi, atau jarak sosial membuat orang enggan memulai dialog. Ramadhan menyediakan legitimasi kultural untuk memulai kembali. Bahasa menjadi jembatan yang memungkinkan percakapan yang selama ini tertunda.
Dalam konteks bangsa yang majemuk seperti Indonesia, budaya bahasa Ramadhan dapat menjadi modal sosial yang berharga. Ia membiasakan masyarakat untuk memulai percakapan dengan doa, mengakhiri pertemuan dengan saling memaafkan, dan menempatkan kelembutan sebagai nilai utama.
Di era media sosial, bahasa sering kali menjadi alat serangan. Kata-kata tajam, hujatan, dan polarisasi menjadi pemandangan sehari-hari. Namun di bulan Ramadhan, ada kecenderungan kolektif untuk menahan diri. Ujaran kebencian berkurang, digantikan dengan pesan-pesan motivasi dan nasihat.
Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan dan bahkan nafsu syahwat. Dalam ajaran Islam, menjaga ucapan adalah bagian dari kesempurnaan puasa. Maka bahasa Ramadhan menghadirkan etika komunikasi: berkata baik atau diam. Dengan berkata baik akan menyembuhkan luka dan amarah serta menumbuhkan ikatan solidaritas kemanusiaan. Semoga Ramadhan kali ini betul-betul menjadi ruang rekonsiliasi diri, bukan sekadar seremonial ibadah dan rangkaian kata-kata bijak belaka.





