MIU Login

Ramadhan dan Seni Bertahan di Dunia yang Serba Instan

Oleh: M. Faisol

Di antara sekian banyak ibadah dalam Islam, puasa memiliki posisi yang unik. Dalam hadis Qudsi disebutkan: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Kalimatnya singkat, tetapi maknanya sangat dalam. Seolah Allah ingin menegaskan bahwa puasa adalah ibadah yang punya kedekatan khusus antara manusia dan Tuhan.

Baca juga:

Kalau dipikir-pikir, puasa memang berbeda dari ibadah lainnya. Shalat terlihat—orang bisa melihat kita berdiri, rukuk, dan sujud. Zakat juga terlihat—ada harta yang dikeluarkan dan diberikan kepada orang lain. Haji bahkan lebih jelas lagi—orang melakukan perjalanan ke tanah suci dengan berbagai rangkaian ritual yang bisa disaksikan banyak orang. Puasa justru sebaliknya. Ia hampir sepenuhnya tersembunyi.

Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang sedang puasa atau tidak. Secara teori, seseorang bisa saja terlihat seperti orang puasa, tetapi diam-diam makan atau minum ketika tidak ada yang melihat. Karena itu, puasa menjadi ibadah yang sangat personal. Ia bergantung pada kejujuran seseorang terhadap dirinya sendiri dan terhadap Allah.

Di situlah letak keindahan puasa. Ia melatih apa yang oleh para ulama disebut sebagai muraqabah, yaitu kesadaran batin bahwa Allah selalu mengawasi. Puasa mengajarkan bahwa integritas tidak diukur dari apa yang kita lakukan di depan orang lain, tetapi dari apa yang kita lakukan ketika tidak ada siapa pun yang melihat. Maka puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan membangun hubungan yang jujur dan intim antara manusia dengan Tuhannya.

Di sisi lain, puasa juga memiliki dimensi perjuangan melawan diri sendiri. Nabi Muhammad Saw. pernah menjelaskan bahwa “setan mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah, dan cara mempersempit jalannya adalah dengan lapar”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa nafsu sering menjadi pintu masuk godaan. Ketika manusia terlalu kenyang, terlalu nyaman, dan terlalu dimanjakan, kontrol dirinya cenderung melemah.

Dengan berpuasa, manusia belajar menahan diri. Ia belajar menunda keinginan. Ia belajar bahwa tidak semua dorongan harus langsung dipenuhi. Rasa lapar yang muncul sepanjang hari sebenarnya bukan sekadar ujian fisik, tetapi juga latihan mental. Ia melatih disiplin, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri.

Kalau dilihat dari perspektif ini, puasa sebenarnya bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga strategi pembebasan. Ia membebaskan manusia dari dominasi syahwat dan dorongan impulsif. Puasa mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu menjadi budak dari keinginannya sendiri.

Karena itu, puasa bisa dipahami sebagai semacam revolusi yang sunyi. Ia tidak riuh, tidak dramatis, dan sering kali tidak terlihat dari luar. Namun di dalam diri manusia, ia sedang membangun kekuatan yang sangat mendasar: kemampuan untuk menguasai diri sendiri.

Pada akhirnya, puasa mengajarkan sebuah pelajaran sederhana tetapi penting. Kekuatan manusia bukan terletak pada seberapa banyak yang bisa ia konsumsi atau miliki, melainkan pada seberapa mampu ia menahan diri. Bukan pada kelimpahan yang ia nikmati, tetapi pada kendali yang ia miliki atas dirinya sendiri.

Al-Qur’an menyebut kemampuan menahan diri dengan istilah kesabaran (al-shabr). Dalam Al-Qur’an Allah menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan orang yang sabar. Dalam Qur’an Surah al-Anfal 65 disebutkan bahwa jika ada dua puluh orang yang sabar, mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh; dan jika ada seratus orang yang sabar, mereka dapat mengalahkan seribu orang. Ayat ini sebenarnya bukan sekadar berbicara tentang perang, tetapi tentang kekuatan mental yang lahir dari kesabaran.

Kesabaran di sini bukan berarti pasif atau menyerah pada keadaan. Kesabaran adalah kemampuan bertahan, tetap teguh, dan tidak runtuh ketika menghadapi tekanan. Orang yang sabar tidak mudah panik, tidak mudah menyerah, dan tidak mudah kehilangan arah.

Puasa sebenarnya adalah sekolah kesabaran itu sendiri. Setiap hari orang yang berpuasa sedang melatih dirinya untuk bertahan—menahan lapar, menahan haus, menahan emosi, bahkan menahan kata-kata yang tidak perlu. Semua itu adalah latihan mental yang membangun daya tahan batin.

Jika latihan ini benar-benar berhasil, maka puasa tidak hanya melahirkan orang yang taat secara ritual, tetapi juga manusia yang kuat secara mental. Manusia yang mampu bertahan dalam situasi sulit, tidak mudah goyah oleh godaan, dan tidak mudah runtuh oleh tekanan hidup.

Mungkin itulah salah satu rahasia mengapa puasa begitu dimuliakan. Karena pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan makan dan minum. Puasa adalah latihan panjang untuk membentuk manusia yang sabar, tangguh, dan mampu berdiri tegak dalam situasi apa pun.

Hal ini terasa semakin relevan jika kita melihat kehidupan modern hari ini. Kita hidup di era yang serba cepat dan serba instan. Makanan bisa dipesan dalam hitungan menit, hiburan tersedia tanpa batas di layar ponsel, dan hampir semua keinginan bisa dipenuhi dengan satu sentuhan jari. Tanpa sadar, manusia semakin terbiasa dengan budaya “ingin sekarang, dapat sekarang”.

Di tengah arus seperti itu, puasa terasa seperti latihan yang sangat kontras. Ia mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, menahan diri, dan tidak selalu menuruti semua keinginan. Puasa mengingatkan bahwa kebebasan sejati bukanlah ketika seseorang bisa memiliki apa saja, tetapi ketika ia mampu mengendalikan dirinya sendiri.

*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait