Oleh: Nur Hasaniyah*
Hari kelima Ramadhan telah menyapa kita dengan kehangatan rohani yang semakin dalam. Setelah rahmat dan maghfirah yang mengalir di hari-hari sebelumnya, kini saatnya membangkitkan semangat قيام الليل (qiyām al-lail) – bangun malam untuk beribadah. Puasa siang hari melatih ketabahan fisik, sementara malam Ramadhan menjadi panggung bagi jiwa untuk berdialog langsung dengan Sang Pencipta. Dalam perspektif sastra Arab, qiyamul lail bukan sekadar ritual, melainkan “syair tasawuf” yang hidup, di mana kegelapan malam menjadi kanvas untuk melukis kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui doa, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an.
Baca juga:
Al-Qur’an dengan indahnya menggambarkan keutamaan malam sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri. Dalam Surah Al-Muzzammil ayat 1-6, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Artinya: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Terjemahan Kementerian Agama RI).
Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panduan untuk qiyamul lail, yang di Ramadhan menjadi lebih istimewa karena turunnya Al-Qur’an. Dalam sastra Arab, bahasa ayat ini penuh dengan kelembutan perintah: kata قُمْ (qum – bangunlah) seperti panggilan lembut yang membangunkan jiwa dari tidur kelalaian. Qiyamul lail di hari kelima Ramadhan mengajak kita untuk “membaca” malam sebagai teks suci, di mana setiap rakaat shalat adalah bait puisi yang mendekatkan kita kepada-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kebiasaan ini, sebagaimana dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي الْبَيْتِ وَأَنَا مُضْطَجِعَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di rumah sementara aku berbaring di antara beliau dan kiblat…” (HR. Bukhari no. 383 dan Muslim no. 512). Hadits ini menggambarkan kelembutan dan kekhusyukan Nabi dalam qiyamul lail, menjadi teladan bagi umat hingga kini.
Dalam tradisi tasawuf Arab, qiyamul lail sering digambarkan sebagai “munajat/taqarub rahasia” antara hamba dan Tuhannya. Rabi’ah al-Adawiyah, salah satu sufi perempuan terkenal, pernah merangkai kata-kata puitis yang menggetarkan:
يَا رَبِّ إِنْ كُنْتُ أَعْبُدُكَ خَوْفًا مِنْ نَارِكَ فَأَحْرِقْنِي فِيهَا، وَإِنْ كُنْتُ أَعْبُدُكَ طَمَعًا فِي جَنَّتِكَ فَاحْرِمْنِي مِنْهَا، وَإِنْ كُنْتُ أَعْبُدُكَ لِأَجْلِكَ فَلَا تَحْجُبْنِي عَنْكَ
“Ya Tuhanku, jika aku beribadah karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya; jika karena mengharap surga, tutupilah pintunya dariku; tetapi jika karena-Mu semata, janganlah Engkau halangi aku dari-( rahmat) Mu.”
Ungkapan ini mencerminkan esensi qiyamul lail: bukan karena imbalan dunia akhirat semata, melainkan karena cinta murni kepada Allah. Dalam puisi tasawuf klasik, malam sering menjadi metafor “kesunyian yang penuh makna”, dimana heningnya malam justru membuat suara hati semakin terdengar jelas.
Di hari kelima Ramadhan ini, ketika tubuh mulai terbiasa dengan ritme puasa, mari kita hidupkan malam dengan tarawih, tahajjud, atau sejenak duduk membaca Al-Qur’an di sepertiga malam. Sebagai civitas akademika Fakultas Humaniora, qiyamul lail juga bisa menjadi “laboratorium rohani” untuk merenungkan ilmu yang kita pelajari: bagaimana bahasa Arab Al-Qur’an bisa lebih hidup di hati ketika dibaca dalam keheningan malam? Bagaimana ayat-ayat tentang malam dalam Surah Al-Muzzammil bisa menjadi inspirasi untuk menjaga keseimbangan antara tugas akademik dan ibadah?
Qiyamul lail mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu membutuhkan keramaian, melainkan kesunyian yang tulus. Di tengah kesibukan kuliah, mengajar, penelitian, dan aktivitas kampus lainnya, malam Ramadhan menjadi kesempatan emas untuk “mengisi ulang” jiwa. Mari kita manfaatkan momen ini untuk memperbanyak dzikir, istighfar, dan doa, agar hati semakin tenang dan iman semakin kuat.
Semoga di hari kelima ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima qiyam kita dan menjadikannya sarana mendekat kepada-Nya. Taqabbalallaahu minna wa minkum, shalihal a’maal. Amin ya Rabbal ‘aalamiin.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





