Oleh: Maulida Az-Zahra*
Dua Puluh Lima Juli Dua Ribu Dua Puluh Lima, menjadi hari di mana doa-doa terbaik terbang bersama langkah saya. Bandara Juanda pagi itu dipenuhi wajah harap dan senyum perpisahan. Dengan hati yang berdebar, saya melangkah memasuki gerbang perjalanan yang akan membawa saya jauh dari rumah.
Baca juga:
- Perkuat Jejaring dan Sinergi Alumni, IKAFAHUMA Gelar Kunjungan Kerja ke Pulau Garam
- Tembus Jurnal Scopus Q2, Skripsi Mahasiswa BSA UIN Malang Rekam Jejak Subaltern dalam Sastra Arab
Ketika pesawat menembus langit biru, saya menatap awan-awan putih yang berarak. Ada perasaan haru yang sulit dijelaskan, campuran antara rindu, syukur, dan rasa ingin tahu akan dunia baru yang akan segera saya jelajahi. Hingga akhirnya, sayap besi itu mendarat mulus di tanah asing: Bandara Don Mueng, Bangkok.
Sebelum menuju Phetchaburi, saya lebih dulu singgah sehari di Bangkok. Kota ini seperti denyut nadi yang tak pernah berhenti berdetak, perpaduan antara kemegahan modern dan keelokan tradisi yang masih terjaga.
Tanggal 26 Juli, pagi yang cerah membawa langkah saya ke Wat Arun, kuil megah di tepi Sungai Chao Phraya. Dari kejauhan, menara porselennya menjulang bak lukisan yang terukir di langit biru. Saat matahari menyentuhnya, kilauan cahaya memantul indah, seolah waktu berhenti sejenak memberi ruang bagi saya untuk mengagumi sejarah yang begitu agung.
Menjelang sore, langkah saya berlanjut ke Icon Siam. Dari balkon pusat perbelanjaan itu, saya memandang ke arah sungai yang perlahan dipeluk senja. Lampu-lampu mulai menyala, memantulkan cahaya ke permukaan air, menghadirkan panorama yang sulit dilupakan. Bangkok di sore hingga malam hari seperti permadani cahaya gemerlap, megah, namun tetap menyimpan kehangatan.
Malam itu saya tersadar, perjalanan ini bukan sekadar tentang akademik, melainkan juga perjalanan hati: belajar menyapa budaya, menyerap cahaya, dan membawa pulang makna.
Keesokan harinya, perjalanan darat membawa saya menuju Phetchaburi. Phetchaburi terletak sekitar dua jam setengah perjalanan dari ibu kota Bangkok. Kegiatan ini berlangsung selama 20 hari penuh, dan memberikan saya banyak pengalaman yang tak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga memberikan kesan mendalam dalam perjalanan hidup saya. Mulai dari keramahan masyarakat Thailand, dinamika mengajar di sekolah, hingga adaptasi dengan budaya dan kuliner Thailand, semua pengalaman tersebut meninggalkan jejak yang sangat berharga.
Hal pertama yang membuat saya merasa sangat bahagia ketika berada di Thailand adalah sikap ramah dan hangat dari masyarakat di sana. Orang-orang Thailand terkenal sopan, ramah, dan penuh perhatian terhadap tamu. Begitu tiba, saya langsung merasakan sambutan yang luar biasa, baik dari para guru, siswa, maupun masyarakat sekitar. Kehangatan tersebut benar-benar membuat saya merasa tidak seperti orang asing, tetapi lebih seperti bagian dari keluarga besar mereka.
Yang membuat saya kaget adalah bagaimana mereka begitu antusias menyambut kami. Para guru selalu bersikap ramah, bahkan rela membantu kami beradaptasi dengan berbagai kesulitan, terutama dalam bahasa dan kebiasaan sehari-hari. Begitu juga dengan anak-anak yang datang menyapa tanpa perlu diminta. Mereka begitu terbuka dan berusaha untuk akrab dengan kami, meskipun ada hambatan bahasa yang cukup signifikan.
Sikap keramahan ini menjadi modal utama yang membuat saya bisa merasa betah selama 20 hari di Thailand. Saya merasa dihargai, diterima, dan disambut dengan penuh cinta kasih. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa bahasa universal yang bisa menembus segala perbedaan adalah sikap ramah, sopan, dan tulus.
Meskipun suasana penuh keramahan, saya tidak memungkiri bahwa terdapat tantangan besar selama PKL, terutama terkait bahasa. Saya sempat terkejut ketika mengetahui bahwa sebagian besar anak-anak di sekolah tersebut masih belum menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. Padahal, saya mengira bahwa kedua bahasa tersebut akan menjadi penghubung utama dalam proses belajar-mengajar.
Kondisi ini menuntut kami untuk benar-benar berusaha keras. Dalam banyak kesempatan, kami harus menggunakan bahasa Thailand agar komunikasi berjalan lancar. Bahkan ketika menyiapkan materi, kami perlu membuat presentasi (PPT) dengan menambahkan terjemahan dalam bahasa Thailand agar anak-anak bisa lebih mudah memahami pelajaran. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri, karena kami pun tidak menguasai bahasa Thailand.
Namun, justru dari tantangan inilah saya belajar bahwa seorang pendidik tidak boleh kaku. Ia dituntut untuk lentur seperti air yang mengalir, sabar seperti tanah yang menanti hujan, dan kreatif seperti pelangi yang memberi warna pada langit. Mengajar bukan sekadar menyalin isi kurikulum, melainkan menghadirkan ilmu dengan cara yang bisa dipahami hati. Saya pun menyadari, hakikat mengajar adalah membangun jembatan komunikasi, agar pengetahuan dapat sampai dengan ringan dan tulus kepada murid.
Selama PKL, saya tak hanya mengajar di kelas, melainkan juga ikut menyelami kehidupan sehari-hari anak-anak di sekolah dan pondok. Rutinitas mereka begitu padat: sejak pukul tujuh pagi mereka sudah duduk di kelas, belajar hingga sore, lalu selepas salat Asar kembali menyiapkan diri untuk kegiatan pondok hingga selepas Isya. Malam menutup hari mereka dengan doa bersama sebelum akhirnya kembali ke asrama dan beristirahat.
Namun, di balik rutinitas yang penuh disiplin itu, ada wajah-wajah ceria yang memberi kehangatan. Kadang, anak-anak datang berlarian ke kamar saya. Dengan malu-malu mereka mengetuk pintu, lalu tersenyum sambil membawa makanan kecil buah tangan sederhana yang terasa begitu berharga. Kami pun berbincang dengan cara unik: mereka menuliskan kata-kata dalam Google Translate, lalu memperlihatkannya dengan mata berbinar. Saya menjawab dengan cara yang sama, dan tawa pun pecah ketika terjemahan terasa lucu atau janggal.
Ada pula momen sederhana ketika mereka hanya berdiri di belakang saya, sekadar menyapa dalam diam. Mereka tidak berkata banyak, hanya ingin berada dekat. Kehadiran kecil itu senyum, tawa, dan kesederhanaan menjadi bahasa lain yang tak kalah indah dibanding kata-kata.
Dari kebersamaan singkat itu, saya belajar bahwa kasih sayang tak butuh bahasa yang sempurna. Kadang, sebuah perhatian kecil, sepotong makanan, atau sekadar kehadiran di belakang punggung kita sudah cukup untuk menyampaikan: “Kami ada untukmu, dan kami senang kau ada di sini.”
Kedisiplinan ini membuat saya kagum. Anak-anak di Thailand tumbuh dengan pola pendidikan yang cukup terstruktur. Meski di sisi lain mereka mengalami keterbatasan dalam penguasaan bahasa asing, mereka justru unggul dalam hal kedisiplinan, kemandirian, dan etika. Hal ini membuat saya menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tentang materi pelajaran, tetapi juga pembentukan karakter.
Salah satu pengalaman menarik sekaligus menantang selama PKL adalah beradaptasi dengan makanan Thailand. Pada awalnya, saya mengalami kesulitan besar dalam menerima cita rasa masakan Thailand. Sebagian besar makanan di sana memiliki rasa asam dan pedas yang cukup kuat, sementara saya pribadi tidak terlalu menyukai makanan dengan cita rasa tersebut.
Hari-hari pertama di Thailand, saya hanya bisa makan satu atau dua suap karena merasa tidak cocok dengan rasa makanannya. Hal ini membuat saya kehilangan selera makan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan makanan-makanan yang sesuai dengan selera saya, seperti ayam goreng (kai), berbagai gorengan, hingga jajanan sederhana yang mirip dengan gorengan di Indonesia, seperti sosis goreng.
Saya mulai menemukan makanan-makanan yang bisa dinikmati dan bahkan meninggalkan kesan mendalam. Saya sempat menikmati ayam dengan nasi lemak yang rasanya cukup familiar dengan makanan di Indonesia sehingga membuat saya merasa lebih nyaman. Selain itu, saya mencoba Som Tam atau salad pepaya muda yang terkenal dengan rasa segar, asam, pedas, dan manis yang bercampur jadi satu, meskipun agak sulit untuk lidah saya. Salah satu makanan penutup favorit saya adalah Mango Sticky Rice atau ketan dengan mangga yang manis berpadu dengan santan gurih, benar-benar unik dan khas. Saya juga berkesempatan merasakan seafood Thailand yang segar, kue tradisional Khanom Sod Sai yang dibungkus daun pisang dengan isi kelapa manis yang mengingatkan saya pada jajanan tradisional Indonesia, serta Khao Pad atau nasi goreng Thailand yang cukup mirip dengan nasi goreng kita namun dengan aroma bumbu khas Thailand.
Tidak ketinggalan, saya juga mencoba Tom Yum, sup asam pedas paling ikonik di Thailand yang sebenarnya cukup menantang untuk saya nikmati karena dominan asam dan pedas, tetapi tetap saya cicipi agar bisa merasakan langsung salah satu warisan kuliner terbesar negeri gajah putih tersebut. Dari semua pengalaman kuliner itu, saya menyadari bahwa makanan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga cerminan budaya, identitas, dan karakter masyarakat yang saya kunjungi.
Pengalaman ini mengajarkan saya tentang pentingnya adaptasi. Terkadang, kita memang harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, namun juga tidak salah untuk mencari alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi tubuh kita. Pada akhirnya, saya tetap bisa menikmati makanan di Thailand meski tidak semua jenis bisa saya makan dengan lahap.
PKL saya dilaksanakan di daerah Phetchaburi, sebuah wilayah yang relatif tenang dan sepi. Berbeda dengan hiruk-pikuk Bangkok, Phetchaburi menyajikan suasana yang lebih damai dengan lingkungan yang masih dikelilingi hutan. Justru suasana sepi inilah yang saya sukai, karena saya pribadi merasa lebih nyaman berada di tempat yang tenang daripada di tengah keramaian.
Selain itu, ketika liburan, para guru dan masyarakat setempat tidak membiarkan kami merasa kesepian. Mereka dengan sukarela membawa kami jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat wisata di Phetchaburi. Pengalaman berkunjung ke tempat-tempat wisata tersebut semakin memperkaya wawasan saya mengenai keindahan alam dan budaya Thailand. Saya merasakan keakraban yang begitu erat, seolah-olah saya bukan seorang pendatang, melainkan bagian dari keluarga mereka.
Salah satunya adalah Kaeng Krachan Dam, sebuah bendungan besar yang dikelilingi panorama alam hijau dan suasana tenang yang membuat pikiran terasa segar. Di tempat ini, saya bisa menikmati keindahan alam Thailand yang masih asri, sekaligus merasakan ketenangan yang jarang saya jumpai di kota besar. Selain itu, saya juga berkunjung ke Khlong Krachaeng Mueang Phetchaburi, sebuah kawasan kanal yang terkenal dengan pemandangan klasik dan nuansa lokal yang kental, sehingga memberikan pengalaman berbeda tentang kehidupan masyarakat Thailand yang masih menjaga tradisi.
Tidak hanya itu, ada pula kunjungan ke beberapa bendungan lain yang menambah wawasan saya mengenai pengelolaan sumber daya air di Thailand sekaligus menyajikan panorama alam yang menakjubkan. Perjalanan wisata ini bukan hanya sekadar rekreasi, tetapi juga membuat saya semakin dekat dengan guru-guru dan masyarakat setempat, karena selama perjalanan banyak percakapan ringan, tawa, dan cerita yang membuat hubungan kami terasa lebih akrab seperti keluarga.
Kami Juga diajak berkunjung ke rumah Teacher Halimah diperkenalkan kepada kedua orang tuanya yang sangat baik, tak lupa kami juga berkunjung ke Pantai terkenal di Petchburi, yaitu pantai Cha-am, kami juga mengikuti study tour anak-anak yaitu mengunjungi Festival di Masjid Darul Ibadah, serta mengunjungi pantai Ao Manao Dolphin an Dugong Park.
Selama 20 hari PKL di Thailand, saya mengalami banyak hal yang sulit untuk dilupakan. Dari sambutan hangat masyarakat, tantangan bahasa, adaptasi makanan, hingga kehidupan sehari-hari anak-anak di sekolah, semua memberikan pengalaman yang membekas.
Saya belajar bahwa menjadi seorang pendidik tidak hanya tentang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga tentang membangun komunikasi, kesabaran, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi. Saya juga semakin menyadari pentingnya memahami budaya lokal dalam proses mengajar. Bahasa bisa menjadi hambatan, tetapi keramahan dan ketulusan hati dapat menembus segala batas komunikasi.
PKL di Thailand merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Banyak hal baru yang saya pelajari, mulai dari cara berinteraksi dengan budaya yang berbeda, menghadapi tantangan bahasa, hingga belajar beradaptasi dengan makanan yang asing bagi lidah saya. Semua pengalaman tersebut membuat saya lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih menghargai perbedaan.
Kegiatan PKL ini juga mengajarkan saya bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, melainkan juga dalam setiap interaksi, setiap tantangan, dan setiap pengalaman yang kita jalani. 20 hari di Thailand mungkin terasa singkat, tetapi makna dan pembelajaran yang saya dapatkan akan menjadi bekal yang berharga untuk perjalanan hidup saya selanjutnya, Kalau ditanya mau tidak balik ke Thailand, tentu saja mau.
Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan saya bahwa dunia bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, melainkan juga tentang hati yang diperkaya. Thailand mungkin hanyalah nama negara di peta, namun bagi saya, ia telah menjelma menjadi ruang kenangan yang akan selalu hidup dalam ingatan. Di setiap senyum ramah yang menyambut, di setiap rasa asing yang perlahan menjadi akrab, dan di setiap langkah kecil anak-anak yang penuh semangat saya menemukan arti sesungguhnya dari sebuah pengabdian. Seperti seorang pengembara yang pulang membawa setangkup cahaya, saya pun pulang dengan hati yang lebih lapang. Waktu boleh berjalan, jarak boleh menjauh, tetapi kenangan akan selalu tinggal. Dan saya percaya, sebagaimana kata seorang sastrawan: “Perjalanan sejati bukanlah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan menemukan diri sendiri di setiap persinggahan.”
*Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan merupakan peserta I-Smash 2025





