Oleh: M. Faisol*
Setiap datangnya Idul Fitri, masyarakat Muslim di Indonesia hampir selalu mengucapkan satu kalimat yang sangat akrab: “Mohon maaf lahir batin.” Kalimat ini terdengar di ruang keluarga, di halaman masjid setelah salat Id, di pesan singkat, hingga di berbagai media sosial. Ia telah menjadi bagian penting dari tradisi hari raya, seolah-olah Idul Fitri terasa kurang lengkap tanpa ungkapan tersebut.
Baca juga:
Sekilas, kalimat itu tampak sederhana. Namun jika direnungkan lebih dalam, ia sebenarnya mengandung pesan moral yang cukup dalam. Ungkapan “mohon maaf lahir batin” menyiratkan kesadaran bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Ada kesalahan yang tampak dalam tindakan dan ucapan—itulah yang disebut sebagai kesalahan lahir. Namun ada pula kesalahan yang tersembunyi dalam hati: prasangka, rasa iri, atau niat yang mungkin tidak pernah terucap—itulah yang disebut sebagai kesalahan batin.
Kesadaran semacam ini merupakan bentuk kerendahan hati. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak selalu benar dan selalu memiliki kemungkinan untuk keliru. Karena itu, meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan moral. Orang yang berani meminta maaf menunjukkan bahwa ia mampu mengalahkan egonya sendiri.
Nilai ini sebenarnya sejalan dengan pesan Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Ali Imron:134, yaitu “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” Ayat tersebut menggambarkan salah satu ciri orang yang bertakwa: mereka yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Di akhir ayat itu ditegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Jika diperhatikan, ada pesan moral yang sangat kuat dalam ayat tersebut. Menahan amarah dan memaafkan bukanlah perkara mudah. Ketika seseorang disakiti, reaksi pertama yang sering muncul adalah kemarahan. Namun Al-Qur’an justru mengajarkan sikap yang lebih tinggi: mengendalikan kemarahan dan membuka ruang untuk memaafkan. Sikap inilah yang menjadi tanda kedewasaan spiritual seseorang.
Ibn Asyur dalam kitab tafsirnya, al-Tahrir wa al-Tanwir, saat menjelaskan ayat 134 dari surat Ali Imron tersebut mengatakan, bahwa sifat memaafkan manusia (al-‘afw an al-nas) atas kesalahan yang mereka lakukan kepada dirinya merupakan penyempurna dari sifat menahan amarah (kadzm al-ghaizh), sekaligus sebagai bentuk kehati-hatian. Sebab menahan amarah terkadang masih dapat diikuti oleh rasa penyesalan, sehingga seseorang bisa saja terdorong untuk menuntut balas kepada orang yang telah membuatnya marah dengan alasan kebenaran. Namun ketika mereka digambarkan sebagai orang yang memaafkan kesalahan orang lain, hal itu menunjukkan bahwa menahan amarah telah menjadi sifat yang mengakar dalam diri mereka dan terus menyertai mereka.
Penjelasan Ibn Asyur tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang mampu menahan amarah dan memaafkan, sifat-sifat kebaikan lain akan lebih mudah tumbuh dalam dirinya. Itulah sebabnya ayat tersebut ditutup dengan kalimat bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Artinya, memaafkan bukan sekadar sikap sosial, tetapi merupakan bagian dari puncak keutamaan moral (ihsan).
Di sinilah makna ungkapan “mohon maaf lahir batin” menemukan relevansinya dengan momen Idul Fitri. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, manusia dilatih untuk mengendalikan diri—menahan lapar, menahan keinginan, dan juga menahan emosi. Puasa tidak hanya mendidik tubuh, tetapi juga membentuk karakter.
Ketika Ramadhan berakhir, Idul Fitri menjadi momentum untuk mempraktikkan nilai-nilai itu dalam kehidupan sosial. Orang yang sebelumnya mungkin menyimpan kemarahan didorong untuk meredakannya. Hubungan yang sempat renggang diberi kesempatan untuk diperbaiki. Dalam suasana seperti itu, kalimat “mohon maaf lahir batin” menjadi pintu yang membuka jalan menuju rekonsiliasi.
Dari sudut pandang sosial, budaya saling meminta maaf ini memiliki peran yang sangat penting. Ia menjaga hubungan antar manusia tetap hangat dan saling percaya. Dalam masyarakat yang terbiasa memaafkan, konflik tidak mudah membesar karena selalu ada ruang untuk memperbaiki hubungan. Sebaliknya, dalam masyarakat yang kehilangan budaya maaf, perbedaan kecil bisa berkembang menjadi permusuhan yang panjang.
Karena itu, tradisi meminta maaf pada hari Idul Fitri bukan sekadar formalitas tahunan. Ia adalah praktik sosial yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan: kerendahan hati, pengendalian diri, dan kesediaan untuk memaafkan. Semua nilai itu sejalan dengan pesan Al-Qur’an tentang pentingnya menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Akhirnya, Idul Fitri bukan hanya perayaan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa. Ia juga merupakan perayaan kematangan moral manusia. Dalam suasana itu, kalimat sederhana “mohon maaf lahir batin” menjadi simbol dari satu sikap penting: keberanian untuk merendahkan diri, mengakui kesalahan, dan membuka hati untuk saling memaafkan. Dan di situlah letak keindahan hari raya—ketika manusia tidak hanya kembali kepada kesucian dirinya, tetapi juga kembali kepada kehangatan hubungan dengan sesamanya.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





