MIU Login

Menakar Makna Kemenangan

Oleh: Khafid Roziki*

Beberapa hari lagi, ruang digital kita akan dibanjiri oleh estetika yang seragam: desain flyer megah dengan tipografi emas yang lantang meneriakkan kata “Kemenangan”. Dari tangan desainer profesional hingga jemari orang awam melalui aplikasi instan, semua berlomba mengemas perayaan dalam visual yang paling indah. Seolah-olah, sebuah panggung raksasa sedang dipersiapkan untuk penobatan besar bagi mereka yang telah menuntaskan puasa di bulan Ramadan.

Baca juga:

Puncaknya adalah malam Lebaran nanti. Di sela lantunan takbir yang saling bersahutan dari pengeras suara masjid hingga pawai yang memadati jalan raya, ada frekuensi emosi yang bergetar di dalam hati. Sebuah suasana berbeda yang mungkin sulit didefinisikan dengan sekadar kata “bahagia”. Kita merasa seperti pelari maraton yang baru saja menyentuh garis finis; napas masih tersenggal, namun ada kelegaan yang menyeruak saat menyadari bahwa perjalanan panjang menahan diri itu telah usai.

Namun, di balik hiruk-pikuk visual dan gemuruh takbir tersebut, sebuah pertanyaan menyelinap secara provokatif ke dalam kesadaran kita: Apakah kemenangan yang kita rayakan hanyalah sebuah seremoni garis finis, ataukah sebuah transformasi batin yang sunyi? 

Jika kita menengok ke belakang, sejarah peradaban manusia sering kali menuliskan kemenangan dengan tinta darah dan narasi penaklukan. Secara naluriah, kita terbiasa membayangkan kemenangan sebagai sesuatu yang dramatis: memenangkan palagan perang, meraih takhta kekuasaan, atau melihat lawan bertekuk lutut memohon ampun. Menang identik dengan dominasi; menang berarti menyingkirkan yang lain.

Namun, tinta sejarah Islam pernah menorehkan sebuah anomali, saat Nabi Muhammad SAW mendekonstruksi makna kemenangan tersebut melalui peristiwa Sulhu Hudaibiyah (6H). Kala itu, Nabi memilih untuk menahan diri dan menempuh jalur diplomasi. Beliau dengan tenang menerima poin-poin perjanjian dari kafir Quraisy yang di atas kertas tampak sangat merugikan kaum Muslimin. Secara lahiriah, banyak sahabat yang merasa itu adalah “kekalahan” diplomatik.

Namun, di balik konsesi yang tampak “lemah” itu, tersimpan strategi besar: menciptakan ruang damai. Dalam suasana tanpa desing senjata dan tanpa kepulan debu peperangan, akal sehat manusia mulai bekerja. Masyarakat Quraisy mulai mengenal Islam bukan sebagai ancaman militer yang menakutkan, melainkan sebagai gagasan yang bisa didiskusikan secara jernih di ruang-ruang dialog.

Ibnu Syihab Az-Zuhri (w. 123 H), seorang ulama besar dari generasi Tabi’in, menyebut Sulhu Hudaibiyah sebagai kemenangan terbesar dalam sejarah awal Islam. Mengapa? Karena kemenangan sejati bukanlah saat lawan hancur secara fisik, melainkan keberhasilan memberikan ruang bagi akal sehat untuk beroperasi tanpa didikte oleh emosi dan semangat menjatuhkan orang lain. Itulah kemenangan gagasan, kemenangan kedamaian, dan kemenangan akal sehat.

Pelajaran dari Hudaibiyah adalah resonansi sempurna dari esensi Ramadan. Selama sebulan penuh, kita sebenarnya sedang berada di sebuah “sekolah rasa”. Para ulama mengajarkan bahwa puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan haus secara biologis, melainkan proses pendidikan jiwa (tarbiyah nafsiyah).

Dalam perspektif ulama terdahulu, puasa adalah momentum untuk menghargai apa yang biasanya disepelekan dan merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kesulitan. Sederhana, tapi maknanya sangat dalam. Inilah syukur yang menjadi puncak tertinggi penghambaan. Nabi Muhammad SAW memuji Ramadan bahkan melalui hal-hal yang sangat elementer: kebahagiaan saat berbuka. Di titik itulah, kita belajar kembali menjadi “manusia”. Kita merasakan nikmat yang luar biasa bahkan hanya dari seteguk air atau sesuap nasi. Nabi SAW tidak menggambarkan kemuliaan bulan suci dengan konsep teologis yang rumit, melainkan melalui pengalaman yang sangat dekat dengan kebutuhan dasar manusia. Kegembiraan saat berbuka menunjukkan bahwa manusia, seberapa pun tinggi status sosialnya, tetap bergantung pada nikmat Tuhan yang paling sederhana.

Namun di sisi lain, Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan medan pertempuran untuk menjinakkan “singa” di dalam diri. Sifat-sifat tercela seperti serakah, dengki, sombong, hingga perkataan yang menyakiti adalah racun yang merusak inang tempatnya bersemayam. Hati yang dikuasai amarah dan ego mungkin merasakan kepuasan sesaat saat berhasil menjatuhkan orang lain, namun itu hanyalah ilusi kebahagiaan. Dalam perspektif psikologi positif, kepuasan semacam itu disebut hedonia—kesenangan dangkal yang cepat menguap. Sebaliknya, membiarkan sifat-sifat jahat ini tumbuh hanya akan menjauhkan kita dari kesejahteraan subjektif (subjective well-being). Kebahagiaan sejati (eudaimonia) mustahil tumbuh di tanah hati yang penuh luka dan kebencian.

Di sini, puasa hadir sebagai jeda paksa untuk merebut kembali kedaulatan batin. Dengan menahan diri dari sifat tercela, kita sebenarnya sedang meringankan beban jiwa dari belenggu emosi negatif yang melelahkan. Menahan diri bukan berarti kalah; ia adalah cara kita merawat kewarasan dan kejernihan berpikir. Itulah mengapa Nabi SAW menegaskan bahwa orang kuat bukanlah jawara gulat yang pandai membanting lawan, melainkan mereka yang mampu memegang kendali penuh saat amarah membuncah. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai Al-Kaziminal Ghaiza— orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, Wal’afina Aninnas – dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain.  Ini bukan tentang kelemahan; ini tentang kedewasaan iman dan kedaulatan batin. Seseorang yang mampu memaafkan saat ia memiliki kekuatan untuk membalas telah mencapai puncak kemanusiaan yang paling stabil.

Relevansi pesan pengendalian diri ini menjadi semakin mendesak di tengah kepungan era digital. Hari ini, kita hidup dalam ekosistem siber yang memaksa kita untuk selalu reaktif. Ada dogma tak tertulis di grup WhatsApp atau media sosial bahwa setiap komentar harus dibalas, setiap kritik harus didebat, dan setiap serangan harus dihantam balik. Seolah-olah, diam adalah tanda menyerah dan ketenangan adalah bentuk kekalahan.

Padahal, di tengah hiruk-pikuk kebisingan siber tersebut, kemenangan sejati justru lahir dari keberanian untuk tidak ikut larut dalam pusaran kebencian. Memilih untuk tetap tenang saat diprovokasi adalah sebuah bentuk kemerdekaan diri. Agama mengajak kita untuk menggunakan akal sehat; menerima dengan segenap hati bahwa perintah Tuhan, termasuk berbuat baik kepada mereka yang berbuat buruk, adalah benar secara sisi pengabdian (teologis) maupun kemanusiaan (sosiologis).

Kita diajak untuk tidak menjadi pribadi yang mudah “didikte” oleh lingkungan. Jika kita mampu mengalahkan keinginan untuk selalu “menang” dan merasa paling benar di atas orang lain, sebenarnya kita telah memenangkan banyak hal dalam hidup. Inilah kemenangan akal sehat di atas emosi yang meluap.

Maka, kemenangan Idulfitri yang autentik pada akhirnya tidak membutuhkan panggung megah, baliho raksasa, atau validasi publik di media soaial. Ia adalah sebuah kemenangan yang personal dan sunyi. Ia mewujud dalam kesabaran yang tetap terjaga di tengah kemelut keluarga, kejujuran yang konsisten dalam pekerjaan saat tak ada yang melihat, serta kerendahhatian yang tetap menapak bumi saat kita berada di puncak pencapaian. 

Kemenangan itu muncul ketika kita bisa tetap sabar, tetap jujur, dan tetap tenang meskipun diperlakukan tidak adil. Jika Ramadan tahun ini berhasil menyisakan hati yang sedikit lebih pemaaf, pikiran yang lebih jernih, dan kendali diri yang lebih kokoh, itulah kemenangan yang paling nyata.

Saat fajar Idulfitri tiba dan gema takbir memenuhi angkasa, mari kita sadari sepenuhnya: kita tidak sedang merayakan kekalahan orang lain. Kita sedang merayakan kembalinya manusia pada fitrahnya. Fitrah sebagai pribadi yang mampu menahan diri, pribadi yang lebih mencintai dialog daripada konflik, dan pribadi yang menyadari bahwa kekuatan terbesar manusia justru ditemukan dalam kedamaian.

Kemenangan inilah yang secara perlahan membuat beban hidup terasa jauh lebih ringan. Ia membawa kita pada kebahagiaan hakiki—kebahagiaan yang tidak bergantung pada dunia luar, melainkan pada ketenangan jiwa yang telah berdamai dengan dirinya sendiri dan Tuhannya. Selamat merayakan kemenangan, selamat kembali ke fitrah.

*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait