MIU Login

Dibalik Tagar #Bukber: Telisik Pergeseran Semantik Ramadan di Ruang Digital

HUMANIORA – (17/3/2026) Ramadan di era layar sentuh tidak hanya mengubah pola ibadah, tetapi juga memicu evolusi bahasa yang menarik untuk dibedah. Istilah “Bukber”, yang secara harfiah adalah abreviasi dari buka puasa bersama, kini tengah mengalami fenomena pergeseran makna (semantic shift) yang signifikan di jagat media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X.

Baca juga:

Bagi Sobat Humaniora yang akrab dengan kajian lingustik, fenomena ini bukan sekadar tren nongkrong, melainkan potret bagaimana bahasa keagamaan beradaptasi dengan budaya digital yang dinamis dan pragmatis.

Jika dulu “bukber” sarat dengan nilai sakralitas dan doa bersama, kini tagar #bukber di ruang digital sering kali menjadi simbol gaya hidup dan dokumentasi visual. Fokusnya bergeser; dari sekadar membatalkan puasa menjadi ajang kurasi konten, presentasi estetika makanan, hingga penegasan eksistensi pertemanan.

Novia, mahasiswi Fakultas Humaniora, melihat fenomena ini sebagai bentuk perluasan makna yang lebih inklusif. Menurutnya, bukber masa kini tidak lagi dimaknai secara tunggal.

“Bukber di zaman modern sekarang tidak hanya tentang menjalankan ritual ibadah, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang silaturahmi untuk menikmati indahnya kebersamaan di bulan Ramadan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Arina, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, memberikan analisis dari sudut pandang semantik dan pragmatik. Ia menilai konteks media sosial membuat istilah ini menjadi sangat cair.

“Media sosial menjadikan istilah bukber lebih fleksibel dan pragmatis, tergantung pada tujuan komunikasi penuturnya. Secara pragmatik, bukber kini kerap digunakan hanya sebagai penanda waktu pertemuan, bukan lagi murni simbol ibadah itu sendiri,” jelas Arina.

Dalam dunia digital yang menuntut kecepatan, istilah keagamaan seperti bukber mengalami proses adaptasi agar tetap “renyah” dan bernilai tren (trendy). Ini membuktikan bahwa bahasa tidak bersifat statis, melainkan organisme hidup yang bergerak mengikuti arus teknologi.

Meski maknanya meluas ke ranah profan (sosial-duniawi), para intelektual muda Humaniora ini sepakat bahwa fenomena ini bukanlah bentuk degradasi nilai agama. Sebaliknya, ini adalah bukti bahwa bahasa agama mampu bernafas dan bertahan di tengah modernitas.

Ramadan tetap menjadi ruhnya, namun ekspresi kebahasaannya kini memiliki warna baru yang lebih berwarna. Fenomena bukber menjadi contoh konkret bagaimana sebuah istilah dapat bertransformasi tanpa kehilangan identitas dasarnya, sekaligus mencerminkan cara masyarakat digital memaknai bulan suci.

Bagi Sobat Humaniora, fenomena ini adalah laboratorium bahasa yang nyata. Bahasa akan selalu berkembang sejauh kebutuhan komunikatif penuturnya menuntut perubahan tersebut. Jadi, sudahkah Sobat Humaniora melakukan “bukber” dengan makna yang baru hari ini? [ica/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait