HUMANIORA – (31/8/2026) Setelah mendapatkan pembekalan tentang strategi pemasaran digital, 11 mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memasuki tahap berikutnya membuktikan kompetensi yang telah mereka pelajari melalui uji kompetensi Digital Marketing, Kamis (27/8/2026). Pada tahap asesmen ini, Khusnul Chotimah bertindak sebagai asesor yang menilai kemampuan peserta berdasarkan standar kompetensi yang dipersyaratkan.
Baca juga:
Uji kompetensi menjadi kelanjutan dari rangkaian pembekalan profesional yang sebelumnya diikuti mahasiswa. Sehari sebelumnya, peserta mendapatkan pelatihan Digital Marketing bersama Dinia Saridewi, M.A. Dalam sesi tersebut, mahasiswa tidak sekadar belajar membuat konten untuk media digital, tetapi diajak memahami bagaimana aktivitas pemasaran dibangun dari kemampuan membaca pasar, menentukan target konsumen, menciptakan nilai, hingga merancang strategi yang tepat.

Tahap asesmen menjadi penting karena pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan kini harus diterjemahkan menjadi kemampuan yang dapat ditunjukkan. Mahasiswa tidak lagi berada pada posisi sekadar memahami konsep, tetapi dituntut mampu menggunakan konsep tersebut untuk menyelesaikan persoalan pemasaran secara sistematis.
Fondasi kompetensi yang dipelajari peserta berangkat dari Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP). Melalui kerangka tersebut, mahasiswa belajar bahwa strategi pemasaran tidak seharusnya dimulai dari pertanyaan “konten apa yang akan dibuat?”, melainkan dari pemahaman mengenai siapa konsumen yang akan dilayani, apa yang mereka butuhkan, serta bagaimana sebuah produk ingin diposisikan dibandingkan dengan kompetitornya.

Pemahaman terhadap pasar tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam strategi yang lebih konkret melalui diferensiasi dan marketing mix. Peserta sebelumnya telah mempelajari empat elemen utama Product, Price, Place, dan Promotion (4P) sebagai instrumen untuk menghubungkan kebutuhan konsumen dengan produk serta strategi pemasaran yang akan dijalankan.
Dalam proses uji kompetensi, kemampuan berpikir seperti inilah yang menjadi bagian penting dari kesiapan peserta. Digital marketing tidak cukup dikuasai melalui keterampilan teknis menggunakan media sosial. Seorang praktisi pemasaran digital juga perlu memahami alasan di balik pemilihan target pasar, platform, pesan, dan pendekatan pemasaran.

Sebelum memasuki asesmen, mahasiswa telah berlatih mengintegrasikan berbagai elemen pemasaran melalui Marketing Foundation Canvas. Instrumen tersebut digunakan untuk menyusun fondasi pemasaran melalui lima komponen, yakni Target Market & Persona, Positioning Statement, Differentiation, Marketing Mix (4P), serta Customer Value (Brand & Service).
Melalui kerangka tersebut, mahasiswa belajar melihat aktivitas digital sebagai bagian dari strategi yang lebih besar. Konten, media sosial, maupun platform digital merupakan alat. Efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa baik seorang digital marketer memahami audiens dan tujuan yang ingin dicapai.
Persiapan asesmen dalam materi pelatihan juga mengarahkan peserta pada sejumlah kemampuan yang lebih aplikatif. Mahasiswa dituntut mampu menentukan target pasar dan produk, melakukan analisis SWOT, memilih metode serta platform digital, menyusun kalender pemasaran, hingga merancang anggaran aktivitas pemasaran digital.
Dengan demikian, uji kompetensi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengetahui istilah-istilah pemasaran, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menyusun sebuah perencanaan.
Dalam proses tersebut, Khusnul Chotimah sebagai asesor memiliki peran penting dalam melakukan asesmen terhadap kompetensi peserta. Penilaian dalam uji kompetensi bukan semata-mata melihat seberapa banyak teori yang dapat diingat mahasiswa, melainkan menguji keterhubungan antara pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan peserta menerapkannya sesuai standar kompetensi.
Bagi mahasiswa, situasi asesmen tentu berbeda dengan pembelajaran di kelas. Mereka harus mampu menunjukkan apa yang diketahui, menjelaskan keputusan yang dibuat, serta memperlihatkan bukti bahwa kompetensi tersebut benar-benar dapat diterapkan.
Uji kompetensi Digital Marketing juga memiliki makna yang lebih luas bagi pengembangan mahasiswa Humaniora. Perubahan dunia kerja membuat lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya memiliki penguasaan akademik, tetapi juga keterampilan profesional yang dapat digunakan dalam berbagai konteks pekerjaan.
Dalam hal ini, mahasiswa Humaniora memiliki modal yang cukup dekat dengan dunia digital. Kemampuan memahami bahasa, komunikasi, budaya, karakter audiens, serta menyusun pesan merupakan bagian penting dalam aktivitas pemasaran. Ketika kemampuan tersebut dipadukan dengan pengetahuan mengenai strategi digital, peluang penerapannya menjadi semakin luas.
Mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi tersebut pada bidang content development, komunikasi digital, industri kreatif, pengelolaan media sosial, pemasaran, kewirausahaan, pengembangan brand, maupun bidang profesional lain yang membutuhkan kemampuan membangun komunikasi dengan audiens.
Karena itu, asesmen kompetensi tidak seharusnya dipandang hanya sebagai tahapan untuk memperoleh pengakuan kompetensi. Proses tersebut juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk mengukur sejauh mana keterampilan yang mereka miliki dapat diterapkan dalam situasi profesional.
Rangkaian pelatihan dan uji kompetensi ini sekaligus memperlihatkan upaya Fakultas Humaniora dalam mempertemukan pendidikan akademik dengan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa tetap memperoleh fondasi keilmuan sesuai bidang studinya, tetapi pada saat yang sama mendapatkan ruang untuk memperluas keterampilan yang relevan dengan perkembangan industri.
Bagi 11 mahasiswa yang mengikuti asesmen, uji kompetensi Digital Marketing menjadi titik penting setelah melalui proses pembekalan. Apa yang sebelumnya dipelajari melalui konsep, diskusi, Marketing Foundation Canvas, dan simulasi pemasaran kini harus mereka tunjukkan dalam proses penilaian kompetensi.
Pada akhirnya, dunia digital membutuhkan lebih dari kemampuan membuat unggahan yang menarik. Di balik sebuah aktivitas pemasaran yang efektif terdapat kemampuan membaca manusia sebagai audiens, memahami kebutuhannya, merancang nilai, menentukan strategi, dan memilih media yang tepat.
Melalui uji kompetensi Digital Marketing ini, mahasiswa Humaniora didorong untuk membawa kekuatan keilmuan humaniora ke ruang profesional yang semakin digital bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai calon profesional yang mampu berpikir strategis, memahami audiens, dan mengelola komunikasi berbasis kebutuhan pasar. [sof/Infopub]





