MIU Login

Al-Qur’an: Bukan Beban, Tetapi Cahaya

Oleh: Arief Rahman Hakim*

Ada satu ayat di awal Surah Taha yang pendek, tetapi terasa seperti kalimat penghibur dari langit.

طه  مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ  إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ

Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah (Q.S. Thaha 1-3)

Ayat ini turun kepada Nabi dalam keadaan yang tidak ringan. Beliau memikirkan umatnya. Beliau ingin semua manusia selamat. Beliau ingin mereka mengenal Allah. Namun kenyataannya tidak semua menerima dakwah beliau. Sebagian menolak. Sebagian mengejek.Sebagian bahkan memusuhi.

Baca juga:

Dalam tafsirnya, Al-Qurtubi menjelaskan makna kata li tasyqa dengan sangat halus:

لِتُتْعِبَ بِفَرْطِ تَأَسُّفِكَ عَلَيْهِمْ وَعَلَى كُفْرِهِمْ وَتَحَسُّرِكَ عَلَى أَنْ يُؤْمِنُوْا

Jangan sampai engkau terlalu letih karena sangat bersedih memikirkan mereka—karena kekafiran mereka—dan karena keinginanmu yang besar agar mereka beriman.

Ini menggambarkan betapa dalam kasih sayang Nabi kepada umatnya. Beliau bukan sekadar menyampaikan wahyu. Beliau ingin manusia benar-benar selamat. Saking besarnya rasa itu, kesedihan beliau hampir menguras tenaga beliau sendiri.

Al-Qur’an bahkan menyebut keadaan itu di ayat lain:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ

Seakan-akan engkau akan mencelakakan dirimu sendiri karena terlalu sedih memikirkan mereka. (Q.S. Al Kahfi: 6)

Lalu Allah menenangkan Nabi. Tugasmu hanya menyampaikan. Bukan memastikan semua orang pasti beriman. Hidayah tetap milik Allah.

Di sinilah kita bisa memahami satu ungkapan yang dikutip oleh Al-Qurtubi dari penyair besar Arab, Al-Mutanabbi:

ذُوْ العَقْلِ يَشْقَى فِي النَّعِيْمِ بِعَقْلِهِ

وَأَخْو الجَهَالَةِ فِي الشَقَاوَةِ يَنْعَمُ

Orang yang berakal kadang merasa lelah bahkan dalam kenikmatan karena pikirannya terus bekerja.

Sedangkan orang yang tidak memikirkan apa-apa bisa tetap merasa santai bahkan ketika hidupnya sebenarnya sulit.

Kalimat ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Coba lihat dalam keluarga. Seorang ayah sering memikirkan banyak hal: biaya sekolah anak, masa depan keluarga, kesehatan orang tua, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Kadang ia sulit tidur karena memikirkan semuanya. Sementara anak kecil di rumah itu bisa tidur sangat nyenyak. Ia tidak memikirkan biaya listrik. Tidak memikirkan masa depan. Tidak memikirkan tanggung jawab. Yang gelisah justru orang yang memikirkan.

Di masyarakat juga begitu. Seorang guru ngaji sering merasa resah ketika melihat santrinya belum lancar membaca Al-Qur’an. Ia memikirkan metode apa yang lebih baik. Bagaimana membuat anak-anak mencintai Al-Qur’an. Bagaimana agar mereka tidak meninggalkan Al-Qur’an ketika dewasa.

Sementara santri-santri itu sendiri kadang santai saja. Yang memikirkan justru gurunya. Begitulah sifat orang yang peduli. Dan Rasulullah adalah manusia yang paling peduli kepada umatnya.

Di sisi lain Al-Qurtubi menafsirkan ayat 1-3 surat thaha ini sebagai jawaban Allah terhadap kafir Quroisy. Tokoh-tokoh Quraisy seperti Abu Jahl dan Al-Nadr ibn al-Harith pernah berkata kepada Nabi:“Engkau menjadi orang yang sengsara karena meninggalkan agama nenek moyangmu.”

Menurut mereka, Nabi telah kehilangan kebahagiaan karena mengikuti wahyu. Ayat ini datang sekaligus untuk membantah ucapan itu. Allah menegaskan Al-Qur’an bukan penyebab kesengsaraan. Justru ia adalah jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Yang sebenarnya sengsara adalah orang yang menolak petunjuk Allah.

Ada pelajaran yang juga menarik dari ayat ini untuk kita. Rasulullah itu sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Dalam beberapa riwayat yang disebut dalam tafsir Ibn Kathir disebutkan bahwa beliau shalat malam sangat lama sampai kaki beliau bengkak.

Kemudian Jibril mengingatkan beliau:

أَبْقِ عَلَى نَفْسِكَ فَإِنَّ لَهَا عَلَيْكَ حَقًّا

Jagalah dirimu. Tubuhmu juga memiliki hak atasmu.

Karena itu sebagian ulama juga memahami ayat ini sebagai pengingat bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan untuk membuat manusia memforsir dirinya secara berlebihan. Islam adalah agama yang lurus dan penuh kemudahan. Ada keseimbangan antara ibadah, keluarga, kesehatan, dan kehidupan.

Ayat berikutnya menyebutkan:

إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ

Al-Qur’an adalah peringatan bagi orang yang memiliki khasyah (Q.S Thaha: 3).

Khasyah bukan sekadar takut. Khasyah adalah rasa takut yang lahir karena mengenal keagungan Allah. Karena itu Al-Qur’an menyatakan:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Yang paling takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu (Q.S Fathir: 28).

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia tunduk kepada-Nya. Lalu bagaimana seseorang mendapatkan ilmu? Jawabannya sangat sederhana dalam Al-Qur’an:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

Bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu.(Q.S Al Baqarah: 282)

Takwa berarti menjaga diri dari murka Allah: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ketika hati sudah bersih karena takwa, Allah sendiri yang akan membuka pintu ilmu. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan sahabat Nabi, Abdullah ibn Mas’ud:

إِنَّ هَذَا القُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَمَنْ دَخَلَ فِيْهِ فَهُوَ آمِن، وَمَنْ أَحَبَّ القُرْآنَ فَلْيَبْشِرْ

Al-Qur’an adalah jamuan Allah. Siapa yang masuk ke dalamnya akan aman. Siapa yang mencintai Al-Qur’an maka bergembiralah (HR Ad Darimi)

Ad Darimi juga meriwayatkan hadist lain dari sahabat Abu Umamah al-Bahili, Rosulullah bersabda:

اِقْرَأ القُرْآنَ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُعَذِّبُ قَلْباً وَعَى القُرْآنَ

Bacalah Al-Qur’an karene Allah SWT tidak akan menyiksa hati yang menyimpan Al-Qur’an.(HR Ad Darimi)

Ini adalah kabar gembira bagi para orang tua. Jika seorang anak sudah mau belajar mengaji, itu tanda Allah menghendaki kebaikan baginya. Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Allah akan memberinya pemahaman agama. (HR Bukhari)

Artinya ketika seorang anak mulai mencintai Al-Qur’an, itu bukan kebetulan. Itu tanda Allah sedang menyiapkan masa depan yang baik baginya. Bahkan ada kabar yang lebih menggembirakan lagi bagi orang-orang yang belajar agama.Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada hari kiamat Allah akan berkata kepada para ulama: Aku tidak menaruh ilmu dan hikmah-Ku pada kalian kecuali karena Aku ingin mengampuni kalian.

Betapa mulianya jalan ilmu. Karena itu ayat pertama surah Taha ini sebenarnya bukan hanya untuk Rasulullah. Ia juga untuk kita. Al-Qur’an tidak diturunkan untuk membuat hidup kita berat. Ia diturunkan agar hidup kita terarah. Agar hati kita tidak kosong. Agar kita tahu tujuan hidup di dunia ini. Karena itu mari kembali kepada Al-Qur’an. Mulai dari yang sederhana. Membacanya setiap hari.

Memahami maknanya. Mengajarkannya kepada anak-anak kita.Karena semakin kita mengenal Al-Qur’an, semakin kita mengenal Allah. Dan semakin kita mengenal Allah dan Rasul-Nya, semakin kita mencintai keduanya. Dan hidup yang dipenuhi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah menjadi hidup yang sengsara.

*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait