MIU Login

Humaniora Asah Kompetensi Mahasiswa Rancang Strategi Pemasaran Digital

HUMANIORA – (28/8/2026) Kemampuan digital saat ini tidak lagi cukup diukur dari kecakapan membuat konten atau mengoperasikan media sosial. Di balik sebuah kampanye digital yang efektif terdapat kemampuan membaca pasar, menentukan target audiens, membangun posisi produk, menciptakan nilai, hingga memilih strategi pemasaran yang tepat. Kompetensi inilah yang diperkuat Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui pelatihan Digital Marketing bagi 11 mahasiswa, Rabu (26/8/2026).

Baca juga:

Pelatihan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan Dinia Saridewi, M.A. sebagai narasumber. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembekalan mahasiswa Fakultas Humaniora dalam menghadapi uji kompetensi BNSP Skema Pemasaran Digital Marketing Bootcamp, sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi dunia profesional yang semakin membutuhkan kemampuan adaptasi dan literasi digital.

Foto : Narasumber dan para peserta Digital Marketing

Alih-alih langsung membawa peserta pada praktik membuat konten, Dinia mengawali pembelajaran dari fondasi yang lebih mendasar: memahami pasar. Dalam materi Digital Marketing Bootcamp, peserta diajak melihat bahwa pemasaran digital merupakan sebuah proses yang bergerak dari strategi menuju tindakan digital. Karena itu, kemampuan mengenali siapa konsumen dan nilai apa yang mereka butuhkan menjadi fondasi sebelum menentukan platform maupun aktivitas pemasaran.

Pendekatan tersebut membawa 11 mahasiswa memahami tiga komponen utama strategi pemasaran, yakni segmenting, targeting, dan positioning (STP). Pada tahap segmentasi, mahasiswa belajar memetakan pasar berdasarkan karakteristik demografis, psikografis, dan perilaku. Setelah itu, mereka diarahkan menentukan segmen yang paling potensial untuk dilayani melalui proses targeting.

Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan positioning. Mahasiswa diajak memahami bagaimana sebuah produk atau merek harus memiliki posisi yang jelas dalam benak konsumen dibandingkan kompetitornya. Dengan demikian, strategi pemasaran tidak dibangun berdasarkan asumsi semata, tetapi berangkat dari pemahaman mengenai konsumen, kebutuhan mereka, dan nilai pembeda yang ditawarkan.

Materi kemudian bergerak dari strategi menuju aspek taktis. Mahasiswa mempelajari diferensiasi sebagai cara membangun pembeda produk, sekaligus menghubungkannya dengan konsep marketing mix atau 4P: Product, Price, Place, dan Promotion. Keempat unsur tersebut menjadi instrumen untuk menerjemahkan strategi pemasaran menjadi tindakan yang lebih konkret.

Melalui pembelajaran tersebut, peserta tidak hanya dituntut mengetahui produk apa yang akan ditawarkan, tetapi juga memahami nilai yang dipertukarkan melalui harga, kemudahan konsumen memperoleh produk, hingga bagaimana produk tersebut dikomunikasikan kepada pasar.

Pembahasan juga menyentuh perbedaan antara marketing dan selling. Marketing berfungsi membangun ketertarikan audiens, sementara selling membawa calon konsumen menuju keputusan transaksi. Keduanya kemudian diarahkan pada tujuan yang lebih panjang, yakni menciptakan customer value yang mampu membangun loyalitas konsumen.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan pada pemahaman bahwa brand tidak sebatas nama atau logo. Brand berkaitan dengan reputasi, kepercayaan, serta kesan yang tertinggal dalam benak konsumen. Sementara itu, brand equity menjadi nilai tambah, baik secara finansial maupun emosional, yang melekat pada suatu produk karena kekuatan mereknya.

Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah pengalaman pelanggan. Peserta mempelajari customer journey yang berlangsung sejak sebelum transaksi, selama proses transaksi, hingga layanan purnajual. Materi tersebut dihubungkan dengan keseimbangan Quality, Cost, dan Delivery (QCD) untuk menunjukkan bahwa kualitas layanan dan proses turut menentukan bagaimana konsumen menilai sebuah brand.

Menariknya, pembelajaran dirancang tidak berhenti pada penyampaian konsep. Berbagai simulasi dan tantangan digunakan untuk mendorong mahasiswa menerapkan pengetahuan yang baru diperoleh. Salah satunya melalui Integrated Case Lab: Marketing Agency Simulation, ketika peserta ditempatkan seolah-olah menjadi sebuah tim pemasaran yang menangani klien.

Dalam simulasi tersebut, mahasiswa ditantang mengintegrasikan sejumlah kompetensi sekaligus, mulai dari menentukan segment, target, dan positioning, merancang diferensiasi dan marketing mix, menentukan pendekatan penjualan, hingga membangun customer value melalui brand dan layanan.

Pendekatan praktik tersebut diperkuat melalui Marketing Foundation Canvas. Mahasiswa menggunakan canvas sebagai blueprint untuk merancang fondasi pemasaran sebuah bisnis atau proyek. Komponen yang harus dipetakan meliputi target market and persona, positioning statement, differentiation, marketing mix, serta customer value.

Bagi peserta, latihan tersebut sekaligus menjadi jembatan menuju proses asesmen kompetensi. Materi pelatihan secara khusus menghubungkan pembelajaran dengan FR.IA.02 Kelompok Pekerjaan 1, yang menuntut peserta mampu merancang aktivitas pemasaran digital. Di dalamnya terdapat kemampuan menentukan target pasar dan produk, melakukan analisis SWOT, menentukan metode dan platform digital, serta menyusun kalender pemasaran dan anggaran.

Dengan orientasi tersebut, pelatihan tidak sekadar menambah pengetahuan mahasiswa mengenai tren pemasaran digital. Lebih jauh, kegiatan diarahkan agar mahasiswa mampu mengubah pengetahuan menjadi kompetensi yang dapat dipraktikkan, diukur, dan nantinya diuji melalui mekanisme sertifikasi profesi.

Bagi Fakultas Humaniora, pembekalan semacam ini menjadi relevan dengan kebutuhan mahasiswa menghadapi lanskap dunia kerja yang terus berubah. Kompetensi kebahasaan dan keilmuan humaniora yang diperoleh melalui perkuliahan perlu diperkuat dengan keterampilan profesional yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan ide, memahami audiens, berkomunikasi secara strategis, serta memanfaatkan ekosistem digital secara produktif.

Keterampilan pemasaran digital juga membuka ruang yang luas bagi mahasiswa Humaniora untuk mengembangkan portofolio profesional. Kemampuan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari industri kreatif, komunikasi dan publikasi, pengembangan bisnis, kewirausahaan, pengelolaan media digital, hingga berbagai pekerjaan yang membutuhkan kemampuan memahami audiens dan membangun komunikasi berbasis nilai.

Melalui pelatihan yang diikuti 11 mahasiswa tersebut, Fakultas Humaniora terus mendorong agar proses pendidikan tidak berhenti pada penguasaan akademik. Mahasiswa juga dipersiapkan untuk memiliki kompetensi praktis dan profesional yang relevan dengan perkembangan dunia kerja.

Pelatihan Digital Marketing ini sekaligus menjadi tahapan penting sebelum mahasiswa menghadapi asesmen kompetensi. Dari memahami konsumen hingga menciptakan nilai, mahasiswa dibekali fondasi agar aktivitas digital yang mereka lakukan tidak sekadar menghasilkan konten, tetapi lahir dari strategi yang terukur dan berorientasi pada kebutuhan pasar. Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi uji kompetensi sekaligus membawa kemampuan yang diperolehnya ke dalam pengalaman profesional setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Humaniora. [sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait