MIU Login

Siapkan Lulusan Profesional, Humaniora Bekali Mahasiswa Kompetensi Service Excellence

HUMANIORA – (27/8/2026) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja melalui pengembangan kompetensi profesional yang melengkapi kemampuan akademik. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan Service Excellence atau Pelayanan Prima yang diikuti 11 mahasiswa Fakultas Humaniora secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (26/8/2026).

Baca juga:

Menghadirkan Rita Anggraini Rahayu, S.AB., M.AB., praktisi dan trainer dari RR Consulting Indonesia. Dalam sesi tersebut, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep pelayanan prima, tetapi juga diajak memahami bagaimana sikap, komunikasi, kemampuan menyelesaikan masalah, dan etika profesional menjadi bagian penting dari kualitas seseorang ketika memasuki

Foto : Materi pelatihan dan para peserta Service Excellence atau Pelayanan Prima

Materi pelatihan menempatkan pelayanan prima bukan sekadar tentang bersikap ramah kepada orang lain. Lebih jauh, pelayanan dipahami sebagai kemampuan memberikan pengalaman yang baik, tepat, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan orang yang dilayani.

Dalam materi yang disampaikan, Rita memperkenalkan enam fondasi pelayanan prima, yakni Attitude, Attention, Action, Ability, Accountability, dan Appearance. Ke enam unsur tersebut menjadi kerangka untuk membangun perilaku profesional dalam memberikan layanan.

Mahasiswa diajak memahami bahwa sikap positif perlu berjalan bersama perhatian terhadap kebutuhan pelanggan, tindakan yang cepat, kompetensi yang memadai, rasa tanggung jawab, serta penampilan yang mencerminkan profesionalisme. Dengan kata lain, pelayanan prima tidak hanya dinilai dari hasil akhir, tetapi juga dari cara seseorang berkomunikasi dan memperlakukan orang lain sepanjang proses layanan.

Pelatihan tersebut juga mencakup sejumlah unit kompetensi yang dekat dengan kebutuhan dunia profesional, mulai dari keterampilan dasar komunikasi, pengelolaan rapat, komunikasi melalui telepon, kerja sama dengan kolega dan pelanggan, komunikasi lisan Bahasa Inggris tingkat operasional, pemberian layanan kepada pelanggan, pemrosesan keluhan, penanganan konflik, pemenuhan kebutuhan pelanggan, hingga penerapan etika profesi.

Bagi mahasiswa Humaniora, materi tersebut menjadi relevan karena kompetensi bahasa dan komunikasi yang selama ini dikembangkan di ruang kuliah perlu dilengkapi dengan kemampuan menggunakannya dalam situasi profesional.

Kemampuan berkomunikasi, misalnya, tidak hanya berarti mampu menyampaikan pesan. Dalam lingkungan kerja, komunikasi juga membutuhkan kejelasan, kesopanan, ketepatan informasi, empati, serta kemampuan menjaga kerahasiaan. Prinsip-prinsip tersebut turut ditekankan dalam materi komunikasi melalui telepon.

Aspek komunikasi menjadi salah satu bagian penting dalam pelatihan karena pelayanan yang baik sangat bergantung pada kemampuan memahami orang lain. Perbedaan persepsi, emosi negatif, prasangka, maupun sikap defensif dapat menjadi hambatan yang mengganggu proses komunikasi. Karena itu, peserta perlu mampu menjaga cara berbicara, mendengarkan dengan baik, dan memastikan pesan diterima secara tepat.

Selain komunikasi, mahasiswa juga dibekali dengan kemampuan menangani keluhan. Dalam praktik layanan, keluhan tidak selalu harus dipandang sebagai masalah yang mengganggu. Sebaliknya, keluhan dapat menjadi ruang untuk menunjukkan kualitas respons dan profesionalisme sebuah institusi.

Materi pelatihan menekankan pentingnya empati, respons yang cepat dan solutif, objektivitas, transparansi, serta perlindungan terhadap data dan privasi pelanggan ketika menghadapi keluhan.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada metode STARS, yaitu Situation, Task, Action, Result, dan Self-Reflection/Self-Evaluation. Kerangka tersebut membantu peserta membaca sebuah persoalan secara lebih sistematis: memahami situasi, menentukan tugas, mengambil tindakan, melihat hasil, kemudian mengevaluasi proses yang telah dilakukan.

Kemampuan seperti ini menjadi penting karena lingkungan profesional sering kali menuntut seseorang mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu ideal. Pelayanan prima karena itu membutuhkan ketenangan, kemampuan berpikir, dan kesediaan mencari solusi tanpa memperburuk keadaan.

Rita juga menekankan posisi petugas layanan sebagai fasilitator, komunikator, problem solver, sekaligus representasi institusi. Artinya, cara seseorang memberikan layanan tidak hanya mencerminkan dirinya sendiri, tetapi juga memengaruhi citra dan kepercayaan terhadap lembaga yang diwakilinya.

Perspektif tersebut menjadi salah satu pesan penting bagi mahasiswa. Ketika kelak bekerja di lembaga pemerintah, perusahaan, industri kreatif, lembaga pendidikan, atau sektor lainnya, mereka tidak hanya membawa kompetensi pribadi, tetapi juga menjadi wajah dari organisasi tempat mereka bekerja.

Karena itu, kemampuan menjaga etika profesi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan prima. Materi pelatihan menempatkan integritas, tanggung jawab, kerahasiaan, keadilan dan objektivitas, serta profesionalisme sebagai prinsip utama. Indikator penerapannya terlihat dari sikap jujur, transparan, patuh terhadap SOP dan kode etik, serta meningkatnya kepercayaan dari pihak yang dilayani.

Pelaksanaan secara daring melalui Zoom Meeting tidak mengurangi substansi pelatihan. Justru format ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengikuti materi secara fleksibel sekaligus tetap terlibat dalam diskusi dan latihan yang diberikan.

Bagi Fakultas Humaniora, pelatihan tersebut memiliki nilai strategis dalam menyiapkan mahasiswa agar tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kesiapan profesional yang lebih utuh. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang mampu berkomunikasi, bekerja sama, menangani masalah, menjaga etika, serta memberikan layanan yang berkualitas.

Hal tersebut semakin penting karena lulusan Humaniora memiliki peluang karier yang luas. Kemampuan bahasa, komunikasi, analisis, dan pemahaman budaya dapat berkembang ke berbagai profesi, tetapi kesiapan kerja juga membutuhkan soft skill yang mendukung interaksi dengan kolega, pelanggan, mitra, dan masyarakat.

Pelatihan Service Excellence menjadi salah satu cara mempertemukan dua aspek tersebut. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di ruang akademik diperkuat dengan kompetensi praktis yang dapat langsung diterapkan ketika mereka memasuki dunia profesional.

Keikutsertaan 11 mahasiswa dalam kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pengembangan karier tidak harus menunggu menjelang kelulusan. Mahasiswa dapat mulai membangun portofolio kompetensi sejak masih kuliah melalui pelatihan, sertifikasi, pengalaman organisasi, penelitian, maupun aktivitas lain yang memperluas kemampuan diri.

Melalui pelatihan ini, Fakultas Humaniora mendorong mahasiswa untuk memahami bahwa profesionalisme bukan hanya soal kemampuan teknis. Profesionalisme juga tercermin dari bagaimana seseorang bersikap, berkomunikasi, menyelesaikan persoalan, menjaga integritas, dan memberikan pengalaman layanan yang baik kepada orang lain.

Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi dunia kerja yang menuntut tidak hanya kecakapan akademik, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan dan memberikan layanan yang bertanggung jawab.

Pelatihan Service Excellence pun menjadi bagian dari upaya Fakultas Humaniora membangun lulusan yang tidak hanya kompeten di bidang keilmuan, tetapi juga adaptif, profesional, beretika, dan siap membawa nilai-nilai Humaniora ke dalam berbagai ruang kerja dan kehidupan masyarakat. [sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait