MIU Login

LiNGUA Perkuat Arah Keilmuan Humaniora melalui Reformulasi Focus and Scope Berorientasi SDGs

HUMANIORA – (30/7/2026) Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas publikasi ilmiah bereputasi internasional melalui reformulasi Focus and Scope LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. Langkah strategis tersebut menjadi bagian dari penguatan identitas akademik jurnal sekaligus memperluas kontribusi riset humaniora terhadap berbagai isu pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs). Reformulasi ini juga merupakan tahapan penting dalam mempersiapkan pengajuan kembali indeksasi Scopus pada tahun 2027.

Baca juga:

Perubahan tersebut mencerminkan arah baru pengembangan LiNGUA sebagai jurnal yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan teori linguistik, sastra, dan budaya, tetapi juga pada relevansi penelitian terhadap persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat global. Dengan demikian, publikasi ilmiah diharapkan mampu menghasilkan kontribusi akademik sekaligus dampak sosial yang lebih luas.

Foto : Senior Editor, Prof. Dr. Rohmani Nur Indah berikan arahan kepada Tim Jurnal Lingua

Perubahan tersebut mencerminkan arah baru pengembangan LiNGUA sebagai jurnal yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan teori linguistik, sastra, dan budaya, tetapi juga pada relevansi penelitian terhadap persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat global. Dengan demikian, publikasi ilmiah diharapkan mampu menghasilkan kontribusi akademik sekaligus dampak sosial yang lebih luas.

Selama ini LiNGUA telah menjadi wadah publikasi bagi berbagai penelitian di bidang linguistik, sastra, dan kajian budaya. Topik yang diterbitkan mencakup World Englishes, analisis wacana kritis, pragmatik, sosiolinguistik, linguistik terapan, teori sastra, kritik sastra, sejarah sastra, hingga kajian budaya Asia Tenggara. Reformulasi Focus and Scope tidak menghilangkan kekayaan tersebut, melainkan mempertegas orientasi keilmuan agar lebih responsif terhadap dinamika global.

Foto : Ketua Unit Informasi dan Publikasi, Zainur Rofiq, M.A. saat rapat bersama tim pengelola Jurnal LiNGUA

Melalui ruang lingkup baru, LiNGUA menempatkan perspektif humaniora sebagai fondasi dalam mengkaji isu-isu strategis seperti kesetaraan gender, perdamaian, keadilan sosial, transformasi digital, keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga perubahan sosial. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa bahasa, sastra, dan budaya merupakan instrumen penting dalam membangun masyarakat yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari penguatan arah ilmiahnya, LiNGUA mengintegrasikan ruang lingkup publikasi dengan SDGs Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 10 (Pengurangan Kesenjangan), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Integrasi tersebut bukan sekadar perluasan tema publikasi, melainkan perubahan paradigma dalam memandang penelitian humaniora. Setiap artikel diharapkan mampu menunjukkan keterkaitan yang jelas antara temuan ilmiah dengan tantangan pembangunan berkelanjutan sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada pengembangan konsep, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat.

LiNGUA juga mempertahankan komitmennya sebagai jurnal yang berakar pada konteks Indonesia, Asia, dan Asia Tenggara. Penulis didorong untuk mengangkat persoalan lokal sekaligus menghubungkannya dengan diskursus akademik internasional sehingga penelitian yang lahir dari kawasan ini mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan global.

Dalam bidang linguistik, LiNGUA memprioritaskan kajian mengenai inklusi linguistik bagi kelompok marginal, pelestarian bahasa masyarakat adat dan kelompok minoritas, analisis wacana untuk pembangunan perdamaian, serta hubungan antara bahasa, identitas budaya, dan pembangunan berkelanjutan. Pada bidang sastra, perhatian diarahkan pada kesetaraan gender, ekokritik, sastra pascakolonial, sastra feminis, hak asasi manusia, hingga sastra digital. Adapun dalam kajian budaya, ruang lingkup baru mencakup ketahanan budaya, pemberdayaan komunitas, adaptasi masyarakat terhadap perubahan lingkungan, budaya populer, media, dan kewargaan digital.

Selain itu, LiNGUA membuka peluang bagi penelitian humaniora integratif yang menghubungkan linguistik, sastra, budaya, etika, ilmu sosial, transformasi digital, kecerdasan artifisial, dan aksi iklim. Pendekatan lintas disiplin tersebut diharapkan mampu menghasilkan perspektif yang lebih komprehensif terhadap berbagai persoalan pembangunan berkelanjutan.

Reformulasi Focus and Scope juga diikuti dengan penguatan tata kelola editorial. LiNGUA akan menyelaraskan pedoman penulis, sistem penelaahan, komposisi mitra bestari, strategi internasionalisasi, serta pengembangan jejaring akademik agar selaras dengan arah keilmuan baru. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan kualitas artikel, memperkuat orisinalitas penelitian, serta memperluas dampak akademik jurnal pada tingkat internasional.

“Reformulasi Focus and Scope mencerminkan komitmen LiNGUA untuk mempertemukan ketelitian akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa penelitian linguistik, sastra, dan budaya tidak berhenti pada pengembangan konsep, tetapi juga memberikan pemahaman kritis mengenai kesetaraan, perdamaian, keberlanjutan, dan transformasi sosial,” ujar Ketua Unit Informasi dan Publikasi Fakultas Humaniora, Zainur Rofiq, M.A.

Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, langkah ini menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem publikasi ilmiah yang berkualitas, adaptif, dan bereputasi internasional. Penguatan tata kelola jurnal diharapkan tidak hanya meningkatkan rekognisi akademik, tetapi juga memperluas kontribusi ilmu humaniora dalam menjawab tantangan pembangunan global. Melalui reformulasi ini, LiNGUA menegaskan posisinya sebagai jurnal humaniora yang berakar pada konteks Indonesia dan Asia Tenggara, memiliki orientasi internasional, serta berkomitmen menghadirkan publikasi ilmiah yang relevan, berdampak, dan mendukung pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi fondasi penting menuju pengajuan kembali indeksasi Scopus pada tahun 2027. [Sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait