Oleh: Nur Hasaniyah*
Tradisi halalbihalal yang menjadi ciri khas umat Muslim Indonesia pasca-Idul Fitri sejatinya merupakan perwujudan hidup dari khazanah komunikasi profetik Rasulullah Alahissalam. Ditinjau dari perspektif ilmu bahasa dan sastra Arab, khususnya balaghah, peristiwa dialog beliau dengan kaum Anshar pasca-Perang Hunain menawarkan contoh paling indah bagaimana bahasa Arab yang fasih dan penuh hikmah mampu mengubah potensi konflik material menjadi penguatan ukhuwah yang mendalam dan abadi.
Baca juga:
- Tradisi Halalbihalal: Mengubah Konflik Menjadi Peluang Memperkuat Persaudaraan
- “Mohon Maaf Lahir Batin”: Bahasa Kerendahan Hati di Hari Idul Fitri
Ketika ghanimah dari Perang Hunain dibagikan lebih banyak kepada muallaf Quraisy untuk menjinakkan hati mereka yang baru memeluk Islam, kaum Anshar sempat merasakan ketidakadilan. Mereka yang telah setia mendukung dakwah sejak awal merasa tersisih. Rasulullah Alahissalam tidak merespons dengan penegasan otoritas atau pembelaan diri, melainkan mengumpulkan mereka dalam sebuah majelis khusus dan membuka dialog dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang sarat kelembutan:
يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ بِي؟ وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمُ اللَّهُ بِي؟ وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ بِي؟
(Sahih Muslim, no. 1758 dan riwayat sirah terkait).
Setiap pertanyaan itu dijawab kaum Anshar dengan penuh kerendahan hati: “Allah dan Rasul-Nya lebih berjasa.” Beliau kemudian melanjutkan dengan ungkapan yang sangat menyentuh hati, sekaligus menjadi puncak reframing yang elegan:
أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالشَّاءِ وَالْإِبِلِ، وَتَذْهَبُونَ بِرَسُولِ اللَّهِ إِلَى رِحَالِكُمْ؟ الْأَنْصَارُ شِعَارٌ وَالنَّاسُ دِثَارٌ، وَلَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ.
Metafor syiar (pakaian dalam yang melekat erat pada tubuh) dan ditsar (pakaian luar) merupakan salah satu keindahan sastra Arab yang luar biasa. Kaum Anshar digambarkan sebagai inti kedekatan spiritual yang paling dekat dengan Rasulullah Alahissalam, sementara yang lain hanya lapisan luar. Gambaran ini bukan sekadar perbandingan, melainkan isti’ara yang halus dan mendalam, yang menempatkan kedudukan Anshar jauh di atas hitungan harta duniawi.
Dalam ilmu balaghah, teknik ini selaras dengan prinsip munasabah (kesesuaian makna dengan situasi dan konteks) yang dikemukakan Imam Abdul Qahir al-Jurjani dalam karyanya Dalail al-I’jaz. Rasulullah Alahissalam tidak menyangkal perasaan kaum Anshar, melainkan menggeser cara pandang mereka dari kerangka material (“kami tidak mendapat bagian”) menuju kerangka relasional dan spiritual (“kalian membawa pulang Rasulullah ke rumah kalian”).
Penggunaan pertanyaan retoris (istifham) yang berulang juga menciptakan ruang dialog yang terbuka, memvalidasi emosi mereka tanpa menimbulkan rasa rendah diri, sehingga konflik berubah menjadi momen pengakuan dan kehangatan bersama.
Praktik komunikasi ini selaras dengan firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-Hujurat: 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Serta QS. Ali Imran: 134 yang memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesama. Rasulullah Alahissalam juga menegaskan dalam hadis: “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam perspektif Fakultas Humaniora, halalbihalal bukan sekadar acara silaturahmi biasa. Ia menjadi laboratorium kebahasaan yang hidup, dimana nilai-nilai balaghah nabawiyah dihidupkan kembali. Melalui tradisi ini, kita diajak untuk menerapkan keindahan bahasa Arab yang tidak hanya fasih (fasahah), tetapi juga penuh hikmah dalam membangun empati dan rekonsiliasi. Konflik yang muncul—baik dalam keluarga, masyarakat, maupun komunitas—dapat diubah menjadi peluang emas untuk reframing cara berpikir: dari ego dan orientasi duniawi menuju ukhuwah yang lebih kokoh dan nilai-nilai spiritual yang abadi.
Pada akhirnya, menjaga hubungan baik melalui halalbihalal adalah aplikasi nyata dari khazanah ilmu bahasa dan sastra Arab yang transformatif. Ia mengajarkan kita bahwa bahasa yang indah bukan hanya untuk keindahan, melainkan untuk mendamaikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





