MIU Login

Mudik, Basa-Basi, dan Seni Memahami Pertanyaan Keluarga

Oleh: Agwin Degaf*

Menjelang Idulfitri, jutaan orang Indonesia kembali menjalani tradisi tahunan yang sangat khas: mudik. Jalan raya dipadati kendaraan, stasiun dan bandara penuh oleh para perantau yang pulang ke kampung halaman.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mudik memiliki dua makna. Secara harfiah, kata ini berarti pergi ke udik. Namun dalam penggunaan sehari-hari, mudik merujuk pada kebiasaan pulang ke kampung halaman, terutama menjelang Lebaran. Mereka yang melakukan perjalanan ini disebut sebagai pemudik, yakni orang yang kembali ke tempat asalnya untuk bertemu keluarga.

Baca juga:

Bagi banyak orang, mudik bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke desa. Ia juga merupakan perjalanan emosional untuk kembali menjalin hubungan dengan orang-orang yang mungkin hanya ditemui setahun sekali. Rumah-rumah kembali ramai, meja makan kembali penuh, dan percakapan keluarga besar kembali mengalir.

Dalam suasana seperti ini, sering muncul satu fenomena yang cukup akrab: pertanyaan-pertanyaan keluarga yang terasa sangat khas.

“Sekarang kerja di mana?”
“Sudah lulus belum?”
“Kapan nikah?”
“Atau kapan punya anak?”

Di media sosial, pertanyaan-pertanyaan seperti ini kerap menjadi bahan meme menjelang Lebaran. Tidak sedikit meme yang menggambarkan bagaimana seseorang “membalas” pertanyaan tante atau budhe dengan jawaban yang sarkastik, misalnya dengan mengatakan, “Budhe kapan meninggal?” atau respons lain yang bernada sinis.

Humor semacam ini memang dimaksudkan sebagai candaan. Namun fenomena tersebut juga menunjukkan adanya kesalahpahaman dalam memahami fungsi percakapan dalam budaya kita.

Dalam kajian linguistik, ujaran-ujaran seperti ini dikenal sebagai phatic communion. Konsep yang diperkenalkan oleh Bronisław Malinowski ini merujuk pada penggunaan bahasa yang bertujuan membangun atau memelihara hubungan sosial, bukan semata-mata menyampaikan informasi. Bentuk komunikasi ini biasanya hadir dalam ujaran-ujaran basa-basi atau small talk yang berfungsi menciptakan keakraban, mengurangi ketegangan dalam interaksi, serta menandai kehadiran sosial antarpenutur.

Ucapan seperti “Halo”, “Apa kabar?”, atau komentar ringan seperti “Panas ya hari ini” tidak selalu dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang serius. Fungsi utamanya justru untuk menciptakan kenyamanan, memecah keheningan, dan membangun kedekatan dalam interaksi sosial.

Pertanyaan keluarga saat mudik sering kali berada dalam kategori ini. Ketika seorang budhe bertanya “kapan nikah?”, belum tentu ia benar-benar menuntut jawaban yang pasti. Sangat mungkin pertanyaan tersebut hanyalah cara sederhana untuk membuka percakapan atau menunjukkan perhatian setelah lama tidak bertemu.

Dalam banyak budaya, bentuk basa-basi seperti ini justru merupakan tanda keakraban.

Ukuran kesantunan dalam bahasa memang sangat bergantung pada konteks sosial dan budaya. Sebuah ujaran bisa dianggap sopan dalam satu budaya, tetapi terasa tidak sopan dalam budaya lain.

Di India, misalnya, memuji seseorang dengan mengatakan “kamu terlihat semakin gemuk” dapat dianggap sebagai pujian karena berat badan sering dikaitkan dengan kesehatan dan kemakmuran. Namun di Inggris, ujaran yang sama dapat dianggap sebagai penghinaan.

Begitu pula di beberapa budaya Asia Timur, pertanyaan seperti “sudah makan?” atau “mau ke mana?” sering digunakan sebagai sapaan ramah, bukan benar-benar permintaan informasi.

Dalam konteks Indonesia, kita juga mengenal bentuk kesantunan tidak langsung. Di sebuah toko pakaian, misalnya, seorang pembeli mungkin mengatakan, “Saya lihat-lihat yang lain dulu ya,” padahal maksud sebenarnya adalah ia tidak tertarik dengan barang yang ditawarkan. Penjual biasanya memahami pesan tersebut tanpa perlu penjelasan yang terlalu eksplisit.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa komunikasi manusia tidak selalu bersifat literal. Sering kali yang lebih penting bukanlah isi informasinya, melainkan fungsi sosial dari ujaran tersebut.

Mudik Lebaran pada akhirnya menjadi ruang sosial tempat berbagai bentuk komunikasi semacam ini berlangsung. Basa-basi yang mungkin terdengar sepele justru berfungsi menjaga kehangatan hubungan keluarga.

Karena itu, kita tidak perlu menanggapi setiap pertanyaan dengan terlalu serius atau emosional. Kadang cukup dengan senyum, candaan ringan, atau jawaban santai.

Sebab di balik pertanyaan sederhana seperti “kapan nikah?”, sering kali tersembunyi pesan yang jauh lebih sederhana: senang sekali kamu pulang dan kita bisa berbincang kembali.

Namun refleksi ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang ditanya. Kita yang berada di posisi sebagai pakdhe, budhe, atau tante juga perlu bijak dalam memilih basa-basi. Sapaan yang dimaksudkan sebagai bentuk perhatian bisa saja terasa menyinggung jika tidak mempertimbangkan konteks dan kondisi lawan bicara. Dalam kajian etnografi komunikasi, Dell Hymes mengingatkan bahwa percakapan selalu dipengaruhi oleh situasi, hubungan antarpenutur, serta norma sosial yang berlaku. Karena itu, sebelum melontarkan pertanyaan, ada baiknya kita mempertimbangkan apakah topik tersebut tepat untuk disampaikan, terutama ketika tingkat kedekatan dengan lawan tutur tidak terlalu tinggi.

Pada akhirnya, mudik adalah momentum untuk merawat silaturahmi. Jangan sampai momen berkumpul bersama keluarga justru ternodai oleh salah paham dalam percakapan. Bagi yang ditanya, tidak semua basa-basi perlu ditanggapi dengan emosi. Bagi yang bertanya, tidak semua topik perlu diangkat sebagai bahan percakapan.

Karena tujuan mudik bukan untuk saling menghakimi, melainkan untuk menghangatkan kembali hubungan yang mungkin sempat berjauhan oleh jarak dan waktu.

*Penulis adalah dosen Sastra Inggris, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait