HUMANIORA – (16/3/2026) Di tengah riuhnya dinamika Ramadan di perantauan, sebuah fenomena unik mulai menjamur di kalangan mahasiswa: Sleep Call Sahur. Kebiasaan ini muncul bukan sekadar tren media sosial, melainkan sebagai strategi kolektif untuk melawan musuh terbesar di bulan puasa, yakni rasa kantuk yang berat saat waktu sahur tiba.
Baca juga:
- Jurnalisme Profetik dalam Spirit Ramadan: Perspektif Jurnalis Kampus dalam Menghadirkan Nilai Kenabian
- Ramadhan dan Jalan Perubahan
Fenomena ini menjadi potret bagaimana teknologi jembatan komunikasi digunakan untuk membangun solidaritas di tengah tantangan adaptasi pola tidur mahasiswa yang sering kali tak teratur akibat tugas dan aktivitas organisasi.
Bagi banyak mahasiswa, jadwal tidur sering kali bergeser drastis. Tumpukan tugas analisis, diskusi literasi hingga larut malam, serta paparan layar gawai membuat waktu istirahat berkurang. Akibatnya, banyak mahasiswa baru terlelap sesaat sebelum fajar, yang membuat tubuh terasa terlalu lelah untuk terjaga saat alarm berbunyi.
Kondisi ini memicu munculnya kebiasaan saling mengingatkan melalui pesan singkat atau panggilan telepon—yang kini populer dengan istilah sleep call sahur—sebagai upaya memastikan rekan sejawat tidak terlewat santap sahur.
Namun, esensi dari sahur bukan sekadar terbangun karena dering telepon teman. Sejatinya, disiplin sahur adalah bagian dari integritas pribadi. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan Sobat Humaniora agar tidak hanya bergantung pada sleep call:
- Ritual Sebelum Rehat: Mengawali istirahat dengan berwudu dan berdoa. Hal ini bukan hanya anjuran spiritual, tetapi secara psikologis memberikan ketenangan batin agar kualitas tidur lebih maksimal.
- Manajemen Alarm yang Taktis: Memasang lebih dari satu alarm dengan jeda waktu beberapa menit dan meletakkan ponsel jauh dari jangkauan tangan. Strategi ini memaksa tubuh untuk benar-benar bangkit dari tempat tidur.
- Persiapan Logistik Sederhana: Menyiapkan air minum atau makanan sahur praktis di dekat tempat tidur agar tidak ada alasan “malas bergerak” saat mata baru saja terbuka.
Pakar kesehatan mengingatkan bahwa kualitas tidur yang baik adalah kunci. Menghindari makan terlalu berat menjelang tidur serta mengurangi scrolling media sosial sebelum terlelap akan membantu tubuh bangun dalam kondisi lebih segar.
“Sahur yang tepat waktu bukan hanya soal mengisi energi fisik, tapi juga tentang melatih kedisiplinan mental mahasiswa sebagai calon intelektual,” tulis laporan mengenai kebiasaan mahasiswa saat Ramadan.
Sobat Humaniora juga bisa memanfaatkan grup-grup diskusi kecil untuk saling menyemangati. Berbagi pengalaman tentang cara menjaga pola tidur atau sekadar mengirim pesan pengingat sahur dapat menumbuhkan rasa kebersamaan (ukhuwah) yang kuat di perantauan.
Pada akhirnya, fenomena sleep call sahur menjadi pengingat bahwa di balik kemudahan teknologi, kebiasaan baik tetap harus dimulai dari niat dan disiplin diri sendiri. Mari jadikan Ramadan ini sebagai momentum bagi Sobat Humaniora untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mengukir prestasi melalui ibadah yang teratur dan nalar yang tetap bugar. [aql/Infopub]




