MIU Login

Tingkatkan Kompetensi Keilmuan, Prodi Sasing Bekali Mahasiswa Ilmu Pragmatik

HUMANIORA – (13/10/2026) Kalimat sederhana seperti It’s cold in here ternyata tidak selalu sekadar menyampaikan bahwa suhu ruangan sedang dingin. Dalam situasi tertentu, ungkapan tersebut bisa menjadi cara seseorang meminta orang lain menutup jendela tanpa harus mengatakannya secara langsung. Perbedaan antara apa yang diucapkan dan apa yang sebenarnya dimaksud inilah yang menjadi pintu masuk bagi mahasiswa baru Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk mengenal salah satu bidang menarik dalam linguistik, yakni pragmatik.

Read too:

Perspektif tersebut diperkenalkan Dr. Agustinus Hary Setyawan, M.A., dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), dalam kuliah tamu bertajuk Say Hello to Pragmatics. Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room Lantai 1 Fakultas Humaniora ini diikuti mahasiswa baru Sastra Inggris yang tengah menempuh mata kuliah Introduction to Linguistics.

Foto : Ketua Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora, Dr. Agwin Degaf, M.A., menyampaikan penjelasan dalam sesi perkuliahan tamu Say Hello to Pragmatics. Pemaparan tersebut mengajak mahasiswa Sastra Inggris melihat bagaimana kajian pragmatik membantu mengungkap makna di balik tuturan sekaligus menghubungkan teori linguistik dengan fenomena komunikasi dalam kehidupan nyata.

Bagi mahasiswa yang baru memasuki dunia kajian bahasa, pragmatik menawarkan cara pandang yang berbeda. Bahasa tidak lagi dipahami hanya sebagai susunan kata dan kalimat dengan makna yang tetap, tetapi juga sebagai praktik komunikasi yang dipengaruhi situasi, hubungan antarpenutur, dan tujuan yang ingin dicapai.

Melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Agustinus mengajak mahasiswa menyadari bahwa manusia sering menyampaikan maksud secara tidak langsung. Sebuah pernyataan dapat berfungsi sebagai permintaan, sindiran, penolakan, atau bentuk kesantunan, bergantung pada siapa yang mengucapkannya, kepada siapa, dan dalam keadaan seperti apa.

Contoh It’s cold in here menjadi salah satu ilustrasi yang digunakan untuk menjelaskan persoalan tersebut. Secara harfiah, kalimat itu menyatakan kondisi suhu ruangan. Namun, ketika disampaikan kepada seseorang yang berada di dekat jendela terbuka, ungkapan yang sama dapat ditafsirkan sebagai permintaan agar jendela ditutup.

Foto : Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Humaniora mengikuti pemaparan materi pragmatik dalam suasana akademik yang kondusif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan tentang pentingnya memahami maksud tersirat, konteks percakapan, serta dinamika penggunaan bahasa sebagai bagian dari penguatan kompetensi analisis linguistik.

Perbedaan makna tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan tata bahasa. Penutur dan pendengar juga perlu memiliki pemahaman terhadap konteks agar pesan dapat ditafsirkan secara tepat.

Dalam pemaparannya, Agustinus menjelaskan perbedaan antara semantik dan pragmatik. Semantik berfokus pada makna yang dikandung oleh satuan bahasa, sedangkan pragmatik memberikan perhatian pada bagaimana makna dipahami melalui penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi tertentu.

Pembedaan ini menjadi dasar penting bagi mahasiswa untuk memahami mengapa sebuah kalimat dapat menghasilkan penafsiran berbeda meskipun susunan katanya tidak berubah.

Foto : Narasumber dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menyampaikan materi bertajuk Say Hello to Pragmatics di hadapan mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Humaniora. Kegiatan ini menjadi ruang pengayaan akademik untuk mengenalkan pragmatik sebagai cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa, konteks, dan makna dalam praktik komunikasi sehari-hari.

Agustinus kemudian memperkenalkan konsep conversational implicature atau implikatur percakapan. Konsep ini membantu menjelaskan bagaimana seseorang dapat menyampaikan pesan yang melampaui makna harfiah tuturan, sementara lawan bicara mampu menangkap maksud tersebut melalui konteks dan pengetahuan yang dimiliki bersama.

Dalam kehidupan sehari-hari, implikatur sering muncul tanpa disadari. Seseorang tidak selalu menyampaikan seluruh maksudnya secara eksplisit. Ada pesan yang dipahami melalui situasi, pilihan kata, hubungan sosial, maupun kebiasaan komunikasi yang telah dikenal oleh para partisipan.

Melalui pembahasan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada kenyataan bahwa penggunaan bahasa merupakan aktivitas yang kompleks. Komunikasi menuntut kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara langsung sekaligus membaca maksud yang tersirat.

Foto : Suasana perkuliahan tamu yang diikuti mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui pengenalan kajian pragmatik, mahasiswa diajak memahami bahwa makna komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kata-kata yang diucapkan, tetapi juga oleh konteks, maksud penutur, dan situasi sosial yang melatarbelakanginya.

Materi semakin diperkaya dengan pengenalan model SPEAKING yang dikembangkan oleh Dell Hymes. Model ini digunakan untuk memahami berbagai unsur yang memengaruhi sebuah peristiwa komunikasi, termasuk latar situasi, partisipan, tujuan, urutan tindakan komunikasi, serta norma yang berlaku.

Pengenalan model tersebut membantu mahasiswa melihat bahwa bahasa tidak pernah digunakan dalam ruang yang benar-benar kosong. Setiap percakapan berlangsung dalam konteks sosial dan budaya tertentu yang ikut membentuk pilihan bahasa maupun penafsiran maknanya.

Sebagai contoh, cara seseorang berbicara kepada teman sebaya dapat berbeda dengan cara menyampaikan pesan kepada dosen atau pimpinan. Perbedaan tersebut tidak selalu berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga dengan pemahaman terhadap hubungan sosial, tujuan komunikasi, dan norma kesantunan.

Bagi mahasiswa English Literature, pemahaman ini memiliki relevansi yang luas. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris tidak cukup hanya ditopang oleh penguasaan kosakata, pelafalan, dan struktur gramatikal. Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana bahasa digunakan secara tepat dalam beragam situasi dan lingkungan budaya.

Dalam konteks komunikasi lintas budaya, misalnya, suatu ungkapan yang dianggap wajar dalam satu komunitas dapat dipahami secara berbeda oleh komunitas lain. Karena itu, kepekaan terhadap konteks menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang efektif sekaligus menghindari kesalahpahaman.

Melalui berbagai ilustrasi visual dan contoh percakapan, Agustinus berupaya mendekatkan konsep-konsep linguistik yang bersifat teoretis dengan pengalaman komunikasi yang akrab bagi mahasiswa.

Pendekatan tersebut memberikan gambaran bahwa kajian linguistik bukan hanya berkaitan dengan istilah dan konsep akademik. Fenomena kebahasaan dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari, interaksi di ruang kelas, maupun komunikasi yang berlangsung di lingkungan sosial yang lebih luas.

Di balik penguatan substansi pembelajaran tersebut, kuliah tamu Say Hello to Pragmatics juga menjadi bagian dari implementasi kerja sama akademik antara Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Kerja sama ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar dari akademisi perguruan tinggi mitra, sekaligus memperluas interaksi keilmuan antardosen.

Ketua Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora, Dr. Agwin Degaf, M.A., memandang keterlibatan akademisi dari luar kampus sebagai salah satu cara memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Kehadiran narasumber dengan latar belakang dan pengalaman akademik yang berbeda memungkinkan mahasiswa mengenal perspektif tambahan dalam memahami materi perkuliahan.

Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa kerja sama antarlembaga dapat diwujudkan melalui aktivitas akademik yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan pembelajaran mahasiswa.

Kolaborasi antara Humaniora dan UMBY sendiri telah berlangsung secara timbal balik. Sebelumnya, Program Studi Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga mengirimkan dua dosen untuk menjadi narasumber kuliah tamu di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMBY.

Wakil Dekan Bidang AUPK Faculty of Humanities, Dr. Miftahul Huda, M.Pd., Ph.D., membagikan keilmuan melalui materi Interculturality in Language Education yang mengangkat pentingnya pemahaman lintas budaya dalam pendidikan bahasa. Sementara itu, Sekretaris English Literature Study Program Faculty of Humanities, Habiba Al Umami, M.Hum., menyampaikan materi mengenai penerjemahan dalam konteks pendidikan bahasa.

Keterlibatan dosen dari kedua perguruan tinggi tersebut memperlihatkan hubungan akademik yang dibangun melalui pertukaran pengetahuan dan keahlian. Humaniora tidak hanya menghadirkan narasumber dari perguruan tinggi mitra, tetapi juga berkontribusi dalam kegiatan pembelajaran di institusi lain.

Pola kolaborasi semacam ini memiliki nilai penting bagi pengembangan program studi. Selain memperluas jejaring akademik, pertukaran dosen dapat memperkaya pengalaman pembelajaran, mempertemukan beragam pendekatan keilmuan, serta membuka peluang pengembangan kegiatan bersama pada masa mendatang.

Bagi mahasiswa baru English Literature, pengalaman mengikuti kuliah tamu juga menjadi pengenalan awal terhadap budaya akademik yang lebih terbuka. Mereka memperoleh kesempatan untuk belajar dari akademisi di luar lingkungan perkuliahan reguler sekaligus memahami bahwa sebuah disiplin ilmu dapat dijelaskan melalui beragam perspektif.

Kuliah tamu ini sekaligus memperkuat peran Faculty of Humanities sebagai ruang pembelajaran yang mendorong keterhubungan antara teori, pengalaman, dan praktik komunikasi. Melalui kajian pragmatik, mahasiswa diajak membangun kepekaan terhadap penggunaan bahasa dalam kehidupan nyata, sementara melalui kolaborasi antarkampus mereka diperkenalkan pada pentingnya pertukaran pengetahuan dalam pengembangan keilmuan.

Pada akhirnya, pelajaran dari Say Hello to Pragmatics melampaui pemahaman tentang satu cabang linguistik. Mahasiswa diajak menyadari bahwa berbahasa bukan hanya persoalan menyusun kalimat yang benar, tetapi juga memahami manusia yang menggunakan bahasa tersebut.

Sebab, dalam sebuah percakapan, makna yang paling penting terkadang justru hadir melalui sesuatu yang tidak diucapkan secara langsung. [unr-sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait