MIU Login

Menuju Indonesia Emas 2045, Ketua DEMA: Mahasiswa Humaniora Harus Ambil Peran

HUMANIORA – (20/8/2026) Memasuki perguruan tinggi bukan sekadar berpindah dari ruang kelas sekolah menuju bangku kuliah. Perubahan itu menuntut mahasiswa baru membangun cara berpikir yang lebih mandiri, memperluas kapasitas diri, dan mulai menyadari tanggung jawabnya sebagai bagian dari generasi penerus bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Humaniora, Moh Abdi, dalam pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas (PBAK-F) 2026, Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Humaniora Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik dan kemahasiswaan.

Read too:

Di hadapan mahasiswa baru Program Studi Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris, Moh Abdi menyampaikan sambutan hangat sekaligus mengajak mereka menyadari bahwa masa perkuliahan merupakan fase kehidupan yang berbeda dari jenjang pendidikan sebelumnya.

“Masa SMA sudah berlalu,” tegas mahasiswa Program Studi Sastra Inggris angkatan 2023 tersebut.

Kalimat singkat itu menjadi penanda bahwa perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa membawa konsekuensi yang lebih luas. Mahasiswa tidak lagi hanya menunggu arahan, tetapi dituntut mampu mengambil inisiatif, menentukan prioritas, mengelola waktu, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.

Menurut Moh Abdi, tantangan perkuliahan tidak hanya hadir dalam bentuk tugas, ujian, atau target akademik. Mahasiswa juga akan menghadapi proses adaptasi sosial, perbedaan cara pandang, dinamika organisasi, serta berbagai pilihan yang dapat menentukan arah pengembangan dirinya.

Karena itu, kesiapan memasuki perguruan tinggi perlu dibangun secara menyeluruh. Kemampuan akademik harus disertai kematangan emosional, keterampilan berkomunikasi, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan belajar dari pengalaman. Seluruh kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan, melainkan tumbuh melalui proses yang dijalani secara sadar dan konsisten.

Dalam sambutannya, Moh Abdi mengajak mahasiswa baru tidak memandang perkuliahan sebagai rutinitas untuk hadir di kelas, menyelesaikan tugas, kemudian memperoleh gelar. Kampus menyediakan ruang yang jauh lebih luas untuk belajar memahami diri, mengembangkan potensi, membangun jejaring, dan menemukan bentuk kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Budaya akademik menjadi salah satu lingkungan penting yang perlu dimasuki mahasiswa sejak awal. Di dalamnya, mahasiswa belajar membaca secara kritis, menyampaikan pendapat berdasarkan argumentasi, menghargai perbedaan, serta terbuka terhadap koreksi. Kebiasaan tersebut menjadi fondasi bagi tumbuhnya kedewasaan intelektual.

Pada saat yang sama, kehidupan kemahasiswaan menawarkan ruang untuk mengembangkan kemampuan yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di kelas. Organisasi, komunitas, kegiatan ilmiah, pengabdian masyarakat, serta berbagai forum kreativitas dapat menjadi tempat mahasiswa melatih kepemimpinan, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Sebagai Ketua DEMA, Moh Abdi menempatkan organisasi kemahasiswaan sebagai salah satu bagian dari ekosistem pembelajaran di perguruan tinggi. Organisasi tidak semata-mata menjadi tempat menjalankan program kerja, tetapi juga laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar menyampaikan gagasan, mengelola perbedaan, membangun kesepakatan, dan bertanggung jawab terhadap kepentingan bersama.

Pengalaman tersebut penting karena tantangan setelah lulus tidak hanya menilai penguasaan teori. Dunia profesional dan kehidupan sosial juga membutuhkan pribadi yang adaptif, mampu bekerja dalam tim, memiliki kepekaan terhadap lingkungan, dan berani mengambil peran ketika menghadapi persoalan.

Moh Abdi kemudian menghubungkan perjalanan mahasiswa dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurutnya, visi besar bangsa tersebut tidak akan terwujud apabila generasi muda tidak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh sejak berada di perguruan tinggi.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar gagasan mengenai kemajuan ekonomi atau teknologi. Cita-cita itu membutuhkan sumber daya manusia yang berpengetahuan, berintegritas, kreatif, mampu berkolaborasi, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial. Mahasiswa hari ini akan berada pada usia produktif ketika Indonesia memasuki satu abad kemerdekaannya.

Dengan posisi tersebut, mahasiswa baru angkatan 2026 merupakan bagian dari generasi yang kelak ikut menentukan kualitas perjalanan bangsa. Apa yang mereka pelajari, kebiasaan yang mereka bangun, dan pengalaman yang mereka himpun selama kuliah akan memengaruhi kesiapan mereka mengambil tanggung jawab di masa depan.

“Negara membutuhkan kita. Tanyakan pada diri: apa yang bisa kita lakukan?” tutur Moh Abdi.

Pertanyaan itu menggeser orientasi mahasiswa dari sekadar menanyakan apa yang akan diperoleh selama kuliah menuju kesadaran mengenai apa yang dapat diberikan. Pendidikan tinggi tidak hanya menyediakan jalan bagi mobilitas pribadi, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa agar mampu menggunakan pengetahuannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Bagi mahasiswa Fakultas Humaniora, kontribusi tersebut memiliki cakupan yang strategis. Penguasaan bahasa, sastra, budaya, dan komunikasi dapat digunakan untuk memperkuat dialog lintas kelompok, membangun pemahaman antarbudaya, meningkatkan literasi masyarakat, serta menjaga nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.

Kompetensi tersebut semakin relevan dalam lingkungan global yang ditandai oleh intensitas komunikasi lintas negara dan perkembangan teknologi digital. Mahasiswa Humaniora perlu mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kemampuan membaca persoalan secara kritis dan manusiawi.

Karena itu, proses pendidikan di Fakultas Humaniora tidak berhenti pada penguasaan disiplin ilmu. Mahasiswa juga diarahkan untuk membangun perspektif yang terbuka terhadap keragaman, mampu berkomunikasi dalam lingkungan lintas budaya, dan menggunakan pengetahuan secara etis. Kesiapan semacam ini mendukung penguatan reputasi akademik fakultas sekaligus memperluas kontribusinya pada masyarakat.

Pesan Moh Abdi juga menegaskan bahwa masa depan tidak dipersiapkan menjelang kelulusan. Persiapan itu dimulai sejak hari pertama mahasiswa memasuki kampus. Kesungguhan mengikuti pembelajaran, keberanian mengeksplorasi kesempatan, dan kemauan mengevaluasi diri merupakan bagian dari investasi jangka panjang.

Mahasiswa baru perlu memiliki keberanian mencoba tanpa takut mengalami kegagalan. Tidak semua proses akan berjalan sesuai rencana, tetapi setiap pengalaman dapat menjadi sumber pembelajaran apabila dihadapi dengan sikap reflektif. Dari proses tersebut, mahasiswa akan mengenali kekuatan, keterbatasan, dan arah pengembangan dirinya.

PBAK-F 2026 dengan demikian menjadi pintu awal untuk memperkenalkan tanggung jawab baru tersebut. Kegiatan ini bukan hanya agenda penyambutan, melainkan ruang untuk membantu mahasiswa memahami bahwa dunia perkuliahan membutuhkan keterlibatan aktif.

Melalui sambutannya, Moh Abdi berharap mahasiswa baru tidak menyia-nyiakan kesempatan selama berada di kampus. Mereka diajak memanfaatkan ruang akademik, organisasi, jejaring pertemanan, dan berbagai program pengembangan diri sebagai sarana untuk membangun kompetensi serta pengalaman.

Pesan Ketua DEMA Humaniora itu pada akhirnya mempertemukan tiga dimensi penting dalam perjalanan mahasiswa: kesiapan menghadapi perkuliahan, kesungguhan mengembangkan diri, dan keberanian berkontribusi bagi bangsa. Ketiganya menjadi fondasi agar mahasiswa tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang memberi makna bagi lingkungan sekitarnya.

Dengan semangat tersebut, mahasiswa baru Fakultas Humaniora memulai fase baru sebagai bagian dari komunitas akademik. Perjalanan yang mereka tempuh akan menjadi ruang untuk belajar, berproses, dan mempersiapkan jawaban atas pertanyaan penting yang disampaikan Moh Abdi: apa yang dapat dilakukan mahasiswa hari ini untuk masa depan Indonesia? [asf/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait