HUMANIORA – (20/8/2026) Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Humaniora, A. Habil Maulana, mengajak mahasiswa baru menjadikan masa perkuliahan sebagai proses untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Pesan tersebut disampaikannya dalam pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas (PBAK-F) 2026, Kamis (20/8/2026).
Read too:
- Dekan Humaniora Buka PBAK-F 2026 dengan Simbol Harmoni Budaya
- PBAK-F 2026 Resmi Dibuka, Dekan Humaniora Tekankan Kemandirian, Keberanian, dan Sikap Menghargai Perbedaan

Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Humaniora Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu diikuti sekitar 353 mahasiswa baru dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris. PBAK menjadi pintu awal bagi mereka untuk mengenal lingkungan akademik, budaya fakultas, organisasi kemahasiswaan, serta tanggung jawab baru yang menyertai status sebagai mahasiswa.
Dalam sambutannya, Habil menyampaikan pesan singkat mengenai pentingnya perubahan diri secara berkelanjutan. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2023 tersebut menekankan bahwa menjadi lebih baik hari ini dibandingkan kemarin merupakan salah satu tanda keberuntungan.
Pesan itu mengajak mahasiswa baru memahami keberhasilan sebagai proses yang dibangun dari hari ke hari. Kehidupan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh satu pencapaian besar, tetapi juga oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten selama masa studi.
Mahasiswa yang bersedia mengevaluasi kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan meningkatkan kemampuannya secara bertahap memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Sebaliknya, perjalanan akademik dapat kehilangan arah ketika mahasiswa merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki dan berhenti melakukan pembaruan terhadap dirinya.
Dalam konteks perkuliahan, menjadi lebih baik dapat dimulai dari berbagai tindakan sederhana. Datang tepat waktu, membaca materi sebelum perkuliahan, menyelesaikan tugas dengan jujur, berani bertanya, serta terbuka terhadap masukan merupakan bagian dari proses pertumbuhan akademik.
Perubahan juga dapat terlihat dari kemampuan mahasiswa mengelola waktu dan menentukan prioritas. Perguruan tinggi menawarkan banyak pilihan kegiatan, mulai dari pembelajaran di kelas, organisasi, penelitian, kompetisi, pengabdian masyarakat, hingga program pengembangan kompetensi. Tanpa pengelolaan diri yang baik, banyaknya kesempatan tersebut justru dapat membuat mahasiswa kehilangan fokus.

Karena itu, pesan Habil memiliki relevansi dengan kebutuhan mahasiswa baru yang sedang memasuki fase transisi. Mereka tidak lagi menjalani sistem belajar seperti di sekolah. Mahasiswa dituntut lebih mandiri dalam mencari sumber pengetahuan, mengatur agenda, dan mempertanggungjawabkan keputusan akademiknya.
Kemandirian itu tidak berarti mahasiswa harus menghadapi seluruh proses seorang diri. Mereka tetap menjadi bagian dari komunitas akademik yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, dan teman sebaya. Namun, setiap mahasiswa perlu memiliki kesadaran pribadi untuk menentukan arah pertumbuhannya.
Sebagai Ketua SEMA Fakultas Humaniora, Habil juga membawa perspektif lembaga legislatif mahasiswa. SEMA memiliki posisi dalam kehidupan kemahasiswaan sebagai ruang penyaluran aspirasi, pengawasan organisasi, penyusunan aturan kemahasiswaan, serta penguatan budaya demokratis di tingkat fakultas.
Kehadiran SEMA memperlihatkan bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal. Mahasiswa juga belajar memahami tata kelola organisasi, menyampaikan aspirasi secara etis, membangun argumentasi, serta mengambil keputusan yang mempertimbangkan kepentingan bersama.
Kemampuan tersebut merupakan bagian dari pertumbuhan mahasiswa sebagai warga akademik. Kebebasan menyampaikan pendapat harus berjalan bersama tanggung jawab. Kritik perlu didasarkan pada data dan disampaikan melalui cara yang beradab, sedangkan perbedaan pandangan perlu dikelola melalui dialog.
Nilai itu penting bagi mahasiswa Humaniora yang mempelajari bahasa, sastra, komunikasi, dan kebudayaan. Mereka akan berhadapan dengan beragam teks, perspektif, serta cara masyarakat memahami realitas. Keterbukaan terhadap perbedaan menjadi syarat agar proses akademik tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi berkembang menjadi kedewasaan berpikir.
Pesan untuk terus bertumbuh juga berkaitan dengan kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan dunia yang cepat. Perubahan teknologi, pola komunikasi, serta kebutuhan profesional menuntut mahasiswa terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
Kompetensi yang relevan pada hari ini belum tentu mencukupi untuk menjawab persoalan pada masa mendatang. Karena itu, kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi salah satu bekal penting. Mahasiswa perlu terbiasa mencari pengetahuan baru, menguji pemahamannya, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip serta nilai kemanusiaan.
Bagi Fakultas Humaniora, orientasi pertumbuhan tersebut mendukung upaya membentuk lulusan yang memiliki wawasan lokal sekaligus kesiapan global. Penguasaan bahasa asing memberi akses terhadap komunikasi dan pengetahuan lintas negara, sedangkan pemahaman sastra dan budaya membantu mahasiswa membangun kepekaan dalam menghadapi keragaman.
Namun, kemampuan global tidak terbentuk secara mendadak menjelang kelulusan. Kesiapan itu tumbuh melalui latihan yang konsisten, seperti meningkatkan kemampuan bahasa, memperluas bacaan, mengikuti forum akademik, terlibat dalam kolaborasi, dan berani keluar dari zona nyaman.
Prinsip menjadi lebih baik setiap hari membuat mahasiswa tidak harus membandingkan seluruh prosesnya dengan capaian orang lain. Setiap mahasiswa memiliki latar belakang, kemampuan awal, dan tantangan yang berbeda. Ukuran pertumbuhan yang paling dekat adalah perkembangan dirinya sendiri.
Cara pandang tersebut dapat membantu mahasiswa membangun proses belajar yang sehat. Prestasi orang lain dapat menjadi inspirasi, tetapi bukan alasan untuk merasa tertinggal. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap pengalaman memberikan pengetahuan, keterampilan, atau kedewasaan baru.
Dalam perjalanan akademik, mahasiswa juga mungkin menghadapi kegagalan. Nilai yang belum memuaskan, gagasan yang ditolak, kesulitan beradaptasi, atau target yang belum tercapai merupakan bagian yang mungkin dijumpai selama kuliah.
Pesan Habil mendorong mahasiswa melihat kegagalan sebagai bahan evaluasi. Menjadi lebih baik tidak berarti tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi memiliki kemauan untuk belajar dari kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya dengan cara yang sama.
Dengan sikap demikian, evaluasi tidak dipahami sebagai ancaman terhadap harga diri. Evaluasi menjadi alat untuk mengenali jarak antara kondisi saat ini dan tujuan yang ingin dicapai. Dari sana, mahasiswa dapat menyusun langkah perbaikan secara lebih terarah.
Pertumbuhan pribadi juga perlu berjalan bersama kepekaan sosial. Mahasiswa yang berkembang bukan hanya mereka yang memperoleh nilai tinggi, tetapi juga yang mampu bekerja sama, menghormati orang lain, menjaga integritas, dan menggunakan pengetahuannya untuk memberi manfaat.
Dimensi tersebut menjadi penting dalam pendidikan Humaniora karena objek utama kajiannya berkaitan erat dengan manusia dan kehidupannya. Kemampuan akademik tanpa empati berisiko menjauhkan ilmu dari kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, pengetahuan yang disertai kepedulian dapat melahirkan kontribusi sosial yang lebih bermakna.
PBAK-F 2026 menjadi titik awal untuk menanamkan kesadaran tersebut. Melalui pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan, mahasiswa baru memperoleh gambaran bahwa perjalanan kuliah akan dipenuhi kesempatan sekaligus tantangan. Cara mereka merespons keduanya akan menentukan kualitas pertumbuhan selama masa studi.
Habil berharap mahasiswa baru terus berkembang dan tidak membiarkan hari-hari perkuliahan berlalu tanpa perubahan berarti. Setiap semester perlu menjadi ruang untuk menambah pengetahuan, memperbaiki kebiasaan, memperluas pengalaman, dan memperkuat karakter.
Pesan Ketua SEMA tersebut melengkapi semangat PBAK Fakultas Humaniora 2026 yang dirangkum dalam tagline “Nalar Berdikari, Nurani Membumi, Siap Beraksi.” Nalar yang mandiri membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan, nurani yang membumi tumbuh melalui kepekaan terhadap sesama, sedangkan kesiapan beraksi dibangun dari keberanian memperbaiki diri.
Pada akhirnya, perjalanan menjadi mahasiswa bukan perlombaan untuk mencapai tujuan dalam waktu paling cepat. Perjalanan itu merupakan proses pembentukan diri agar mahasiswa mampu meninggalkan kampus dengan pengetahuan, pengalaman, dan kematangan yang lebih baik daripada ketika pertama kali datang.
Dengan semangat tersebut, mahasiswa baru Fakultas Humaniora memulai babak akademiknya. Mereka diajak menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar dan setiap pengalaman sebagai ruang pertumbuhan—agar hari ini selalu menghadirkan kemajuan dibandingkan kemarin. [asf/Infopub]





