HUMANIORA — (10/3/2026) Menjalani Ramadan di perantauan bagi mahasiswa Fakultas Humaniora bukan sekadar ujian menahan lapar, melainkan seni mengelola keterbatasan. Di antara tumpukan buku dan tugas analisis literatur, Sobat Humaniora yang tinggal di kos dituntut kreatif dalam menyajikan menu sahur. Dengan keterbatasan alat dapur dan anggaran bulanan, mereka membuktikan bahwa makan sehat tidak harus mahal.
Read too:
- Perkuat Akuntabilitas, Fakultas Humaniora Bekali Pengurus Ormawa Tata Kelola Keuangan 2026
- Ramadhan dan Transformasi Waktu Sosial
Bagi mahasiswa perantau, sahur adalah tentang efisiensi tanpa mengorbankan nutrisi. Kuncinya bukan pada kemewahan menu, melainkan pada kecerdasan memilih bahan makanan yang mampu menjaga stamina tetap bugar hingga waktu berbuka tiba.
Mi instan mungkin menjadi “sahabat setia” di akhir bulan, namun Sobat Humaniora tidak berhenti pada penyajian yang biasa. Banyak dari mereka mulai sadar akan pentingnya serat dengan menambahkan sayuran segar seperti sawi, kol, atau wortel ke dalam mangkuk mereka.
“Kalau lagi punya waktu, aku masak mi instan pakai sayur supaya gizinya seimbang. Tapi kalau lagi buru-buru atau bangun mepet Imsak, biasanya cukup makan dua telur rebus sama kurma. Simpel, murah, tapi tetap kenyang sampai sore,” ungkap Luna, mahasiswi semester enam Fakultas Humaniora.
Kombinasi telur rebus dan kurma kini menjadi tren favorit di kalangan para penghuni kos. Pilihan ini bukan tanpa alasan ilmiah; telur rebus memberikan asupan protein yang membuat perut merasa kenyang lebih lama, sementara kurma memberikan glukosa alami sebagai bahan bakar otak untuk menghadapi nalar kritis di ruang kuliah.
Selain praktis karena tidak memerlukan proses memasak yang rumit, kedua bahan ini sangat ramah bagi Sobat Humaniora yang kamarnya tidak memiliki dapur pribadi. Cukup dengan pemanas air atau magic com, nutrisi harian sudah bisa terpenuhi.
Kreativitas dalam menyusun menu sahur ini mencerminkan karakter Sobat Humaniora yang adaptif dan mandiri. Dari balik pintu kos yang sederhana, mereka belajar mengelola tiga hal sekaligus: anggaran keuangan, manajemen waktu, dan investasi kesehatan.
Kebiasaan sahur cerdas ini menunjukkan bahwa menjadi mahasiswa rantau bukanlah penghalang untuk tetap berprestasi dan beribadah dengan maksimal. Dengan perut yang terisi nutrisi tepat, setiap diskusi di kelas dan penulisan skripsi tetap bisa berjalan dengan lancar.
Mari jadikan Ramadan ini sebagai ajang pendewasaan dalam mengelola diri. Selamat bersahur cerdas, Sobat Humaniora! [shl/Infopub]





