MIU Login

Dosen Humaniora Jadi Asesor Kompetensi, Perkuat Profesionalisme Penerjemah

HUMANIORA – (27/8/2026) Kepakaran dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak hanya hadir dalam pembelajaran dan pengembangan keilmuan di ruang akademik, tetapi juga mengambil peran dalam memastikan kompetensi dapat terhubung dengan standar profesi. Hal tersebut ditunjukkan melalui keterlibatan dua dosen Faculty of Humanities, Ahmad Ghozi dan Dien Nur Chotimah, sebagai asesor dalam Uji Kompetensi Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum yang diselenggarakan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Read too:

Keterlibatan keduanya memiliki arti strategis karena bidang penerjemahan beririsan langsung dengan keilmuan bahasa yang dikembangkan di Faculty of Humanities. Melalui peran sebagai asesor, kepakaran akademik dosen tidak berhenti pada proses transfer pengetahuan kepada mahasiswa, tetapi turut digunakan dalam proses pengukuran kompetensi berdasarkan skema sertifikasi profesi.

Foto : Dien Nur Chotimah menjalankan tugas sebagai asesor pada Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum

Ahmad Ghozi merupakan dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora. Selain memiliki kompetensi sebagai asesor, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur LSP P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Posisi tersebut menempatkannya dalam pengembangan dan pengelolaan sistem sertifikasi kompetensi di lingkungan universitas.

Sementara itu, Dien Nur Chotimah merupakan dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora. Selain menjalankan tugas sebagai asesor pada Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum, ia juga dipercaya sebagai Manajer Sertifikasi LSP P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kombinasi peran tersebut memperlihatkan keterhubungan antara kepakaran yang dikembangkan di lingkungan fakultas dengan kebutuhan penguatan kompetensi profesional mahasiswa. Dosen tidak hanya mendampingi mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan akademik, tetapi turut mengambil bagian dalam ekosistem yang memungkinkan kemampuan tersebut diuji berdasarkan standar kompetensi.

Dalam pelaksanaan uji kompetensi, asesor memiliki posisi penting karena proses asesmen harus dilakukan berdasarkan kompetensi yang dipersyaratkan dalam skema sertifikasi. Proses tersebut diperlukan untuk memperoleh bukti mengenai kemampuan peserta dan menjadi dasar bagi asesor dalam memberikan rekomendasi hasil asesmen.

Peran tersebut menuntut objektivitas, ketelitian, serta pemahaman terhadap kompetensi yang diujikan. Dalam konteks Skema Penerjemah Teks Umum, latar belakang akademik kedua dosen di bidang bahasa memberikan relevansi yang kuat terhadap proses asesmen yang dilaksanakan. Bagi Faculty of Humanities, keterlibatan Ahmad Ghozi dan Dien Nur Chotimah sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi memiliki spektrum yang luas.

Kepakaran dosen dapat memberikan kontribusi bukan hanya terhadap pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga pada penguatan sistem pengakuan kompetensi profesional.

Hal tersebut menjadi semakin relevan ketika perguruan tinggi menghadapi kebutuhan untuk mempertemukan dunia akademik dengan dunia profesional. Lulusan tidak hanya membutuhkan ijazah sebagai bukti telah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga perlu membangun portofolio kompetensi yang dapat menunjukkan kemampuan spesifik sesuai bidang keahliannya.

Sertifikasi kompetensi menjadi salah satu instrumen yang dapat mendukung kebutuhan tersebut. Melalui asesmen, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menguji kemampuan yang telah dikembangkan selama proses pendidikan dalam kerangka kompetensi profesi.

Keterlibatan dosen Humaniora sebagai asesor memberikan nilai strategis dalam konteks tersebut. Pengalaman akademik yang mereka miliki dapat bertemu dengan perspektif kompetensi profesional, sehingga hubungan antara proses pembelajaran dan kebutuhan di luar kampus dapat semakin dipahami secara utuh.

Lebih jauh, pengalaman dosen dalam proses sertifikasi dapat memberikan perspektif tambahan terhadap pengembangan pendidikan. Pemahaman mengenai kompetensi yang dibutuhkan dalam praktik profesional dapat menjadi salah satu referensi dalam melihat relevansi materi, pengalaman belajar, maupun pengembangan keterampilan mahasiswa.

Dengan demikian, hubungan antara dunia akademik dan sertifikasi tidak berjalan dalam dua jalur yang terpisah. Keduanya dapat saling memperkuat untuk membangun lulusan yang memiliki landasan keilmuan sekaligus kemampuan profesional yang terukur.

Konteks tersebut terlihat nyata pada pelaksanaan Uji Kompetensi Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum yang juga diikuti mahasiswa Faculty of Humanities. Sebanyak 14 mahasiswa dari English Literature Study Program dan Arabic Language and Literature mengikuti asesmen dan seluruhnya memperoleh rekomendasi Kompeten dari asesor setelah menyelesaikan rangkaian uji kompetensi.

Capaian mahasiswa dan keterlibatan dosen sebagai asesor memperlihatkan sebuah ekosistem yang saling terhubung. Di satu sisi, mahasiswa memperoleh kesempatan menguji kompetensi kebahasaannya. Di sisi lain, dosen dengan kepakaran yang relevan mengambil peran dalam pengembangan dan pelaksanaan sistem sertifikasi profesi di tingkat universitas.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi pengembangan sertifikasi kompetensi yang semakin dekat dengan kebutuhan mahasiswa. Fakultas dapat mendorong mahasiswa mengenali bidang-bidang profesional yang relevan dengan keilmuannya sekaligus mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan sejak masa studi.

Bagi mahasiswa English Literature dan Arabic Language and Literature, penerjemahan merupakan salah satu bidang profesional yang memiliki hubungan erat dengan kompetensi bahasa. Namun, peluang pengembangan karier lulusan Humaniora tentu tidak berhenti pada satu profesi. Kemampuan bahasa, analisis teks, komunikasi lintas budaya, literasi, dan berbagai kompetensi humaniora dapat dikembangkan untuk beragam ruang profesional.

Karena itu, kehadiran dosen yang memahami dunia akademik sekaligus sistem sertifikasi menjadi aset penting dalam membangun jembatan antara pendidikan dan karier mahasiswa. Pengembangan kompetensi dapat diarahkan tidak semata untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran, tetapi juga membantu mahasiswa memahami bagaimana pengetahuan dan keterampilannya dapat diterapkan setelah menyelesaikan pendidikan.

Peran Ahmad Ghozi sebagai Direktur dan Dien Nur Chotimah sebagai Manajer Sertifikasi LSP P1 juga menunjukkan kontribusi sumber daya manusia Faculty of Humanities pada pengembangan kelembagaan di tingkat universitas. Amanah tersebut memperluas ruang kontribusi dosen sekaligus membawa kepakaran Humaniora ke dalam penguatan sistem sertifikasi kompetensi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bagi Faculty of Humanities, kontribusi semacam ini menjadi bagian penting dari pengembangan budaya akademik yang berorientasi pada relevansi dan dampak. Keunggulan keilmuan tidak hanya diukur dari apa yang dihasilkan melalui pembelajaran dan penelitian, tetapi juga dari sejauh mana kepakaran tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pada saat yang sama, keberadaan asesor kompetensi dari lingkungan fakultas diharapkan dapat semakin mendekatkan mahasiswa dengan budaya sertifikasi profesional. Mahasiswa dapat melihat bahwa kompetensi yang mereka pelajari memiliki ruang aktualisasi yang nyata dan dapat terus dikembangkan menuju standar yang dibutuhkan dalam profesi.

Melalui keterlibatan Ahmad Ghozi dan Dien Nur Chotimah dalam LSP P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Faculty of Humanities memperlihatkan kontribusi konkret dalam mempertemukan keilmuan, kompetensi, dan profesionalisme. Sinergi tersebut menjadi modal penting untuk membangun proses pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan penguasaan akademik yang kuat, tetapi juga mendorong mereka memiliki kompetensi profesional yang terukur dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. [sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait