HUMANIORA – (11/6/2025) Kurikulum yang baik tidak cukup hanya menjawab apa yang perlu dipelajari mahasiswa di ruang kuliah. Ia juga harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih jauh: setelah lulus, kemampuan apa yang benar-benar dimiliki mahasiswa dan sejauh mana kemampuan tersebut relevan ketika mereka memasuki dunia kerja dan kehidupan profesional. Kesadaran inilah yang mendorong program studi di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melibatkan alumni dalam pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Read too:
Pelibatan alumni menjadi penting karena mereka memiliki pengalaman langsung dalam membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah menuju dunia setelah kampus. Dari pengalaman tersebut, alumni dapat memberikan gambaran mengenai kompetensi yang benar-benar digunakan, tantangan yang mereka temui, hingga kemampuan baru yang semakin dibutuhkan dalam lingkungan profesional.
Dengan mendengarkan alumni, program studi memperoleh perspektif yang tidak selalu dapat ditemukan dari ruang akademik. Ada pengalaman nyata tentang bagaimana kemampuan bahasa digunakan dalam komunikasi profesional, bagaimana keterampilan berpikir kritis membantu menyelesaikan persoalan, bagaimana kemampuan bekerja bersama orang lain dibutuhkan dalam organisasi, hingga bagaimana perkembangan teknologi digital mengubah cara orang bekerja.
Masukan semacam itu menjadi salah satu bahan penting agar kurikulum terus berkembang dan tetap memiliki hubungan yang kuat dengan kehidupan yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus.
Pendekatan berbasis outcome membawa perubahan penting dalam cara melihat proses pendidikan. Perhatian tidak hanya diberikan pada materi apa yang telah disampaikan dosen, tetapi juga pada kemampuan apa yang benar-benar dapat ditunjukkan mahasiswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran.
Dengan cara pandang tersebut, kurikulum tidak berhenti pada daftar mata kuliah dan jumlah SKS. Di dalamnya terdapat capaian yang ingin dibangun secara bertahap melalui proses pembelajaran, pengalaman akademik, kegiatan praktis, hingga berbagai aktivitas pengembangan mahasiswa.
Pertanyaan yang kemudian menjadi penting bukan lagi sekadar “apa yang sudah diajarkan?”, tetapi juga “apa yang dapat dilakukan mahasiswa setelah mempelajarinya?”
Orientasi seperti ini menempatkan mahasiswa sebagai pusat dari proses pendidikan. Pengetahuan tetap menjadi fondasi, tetapi mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut, berkomunikasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, serta menunjukkan sikap profesional dalam berbagai situasi.
Di sinilah pengalaman alumni memiliki nilai strategis. Mereka dapat membantu program studi melihat apakah capaian yang dirancang benar-benar bertemu dengan realitas setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Alumni berada pada posisi yang khas. Mereka pernah mengalami kurikulum sebagai mahasiswa, kemudian mengujinya secara tidak langsung ketika memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, bergabung dengan organisasi, maupun terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan profesional.
Pengalaman tersebut membuat alumni mampu melihat kembali proses pendidikan dari sudut pandang yang berbeda.
Ada kompetensi yang mungkin baru terasa manfaatnya setelah mereka bekerja. Sebaliknya, ada pula kemampuan yang ternyata perlu diperkuat karena perkembangan dunia profesional bergerak lebih cepat dibandingkan ketika mereka masih berada di bangku kuliah.
Karena itu, keterlibatan alumni dapat membantu program studi membaca jarak antara kompetensi yang dibangun di kampus dengan kompetensi yang dibutuhkan setelah lulus.
Masukan alumni juga menjadi semakin relevan ketika dunia kerja terus berubah. Digitalisasi, kecerdasan artifisial, komunikasi lintas budaya, kolaborasi global, serta berkembangnya industri kreatif telah melahirkan bentuk pekerjaan dan tuntutan kompetensi yang semakin beragam.
Lulusan tidak cukup hanya menguasai bidang keilmuannya. Mereka juga membutuhkan kemampuan beradaptasi, literasi digital, komunikasi profesional, kerja sama, kreativitas, kemampuan menyelesaikan masalah, serta kesiapan untuk terus belajar.
Meski kebutuhan dunia kerja menjadi salah satu pertimbangan, pengembangan kurikulum tidak berarti menjadikan perguruan tinggi semata-mata sebagai tempat pelatihan tenaga kerja.
Program studi tetap memiliki tanggung jawab menjaga kedalaman akademik dan karakter keilmuannya.
Bagi Fakultas Humaniora, kemampuan memahami bahasa, manusia, budaya, teks, komunikasi, dan keragamantetap menjadi fondasi penting. Justru di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, kemampuan memahami manusia dan konteks sosial menjadi semakin relevan.
Tantangannya adalah bagaimana fondasi keilmuan tersebut dapat dipertemukan dengan kemampuan yang memungkinkan mahasiswa mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata.
Seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa, misalnya, tidak hanya dipersiapkan untuk memahami struktur dan penggunaan bahasa secara akademik. Kompetensi tersebut dapat dikembangkan lebih jauh dalam penerjemahan, komunikasi profesional, industri kreatif, pendidikan, media, hubungan internasional, pengelolaan konten, hingga berbagai bidang baru dalam ekosistem digital.
Dengan demikian, kurikulum berbasis outcome menjadi jembatan antara kedalaman keilmuan dan kemampuan menggunakannya secara nyata.
Keterlibatan alumni juga membawa pesan bahwa pengembangan kurikulum bukan pekerjaan yang selesai sekali kemudian digunakan tanpa perubahan. Kurikulum perlu terus dievaluasi karena masyarakat, teknologi, dan kebutuhan profesional juga terus berkembang.
Apa yang relevan bagi lulusan beberapa tahun lalu belum tentu sepenuhnya sama dengan kebutuhan mahasiswa yang akan lulus beberapa tahun mendatang.
Karena itu, komunikasi dengan alumni menjadi salah satu cara bagi program studi untuk terus mendapatkan umpan balik dari luar kampus. Pengalaman mereka dapat menjadi bahan refleksi untuk melihat kompetensi yang perlu dipertahankan, diperkuat, maupun dikembangkan.
Pada saat yang sama, hubungan tersebut membuat alumni tidak hanya ditempatkan sebagai data lulusan atau responden tracer study. Mereka menjadi mitra pengembangan akademik yang dapat ikut memberikan perspektif terhadap masa depan program studi.
Keterlibatan tersebut juga dapat membuka hubungan yang lebih luas antara kampus dan dunia profesional. Alumni dapat menjadi penghubung dengan tempat kerja, industri, komunitas profesi, maupun berbagai ruang yang kelak dapat menjadi tempat mahasiswa belajar dan memperoleh pengalaman.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kurikulum tidak hanya dapat dilihat dari selesainya seluruh mata kuliah dalam satu periode pendidikan. Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana proses tersebut membentuk lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi.
Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk lulus dari sebuah mata kuliah, tetapi secara bertahap membangun kompetensi yang akan mereka bawa setelah meninggalkan kampus. Setiap pengalaman belajar memiliki hubungan dengan profil lulusan yang ingin diwujudkan.
Pelibatan alumni membantu program studi melihat perjalanan itu dari ujung yang berbeda. Jika dosen dan mahasiswa melihat proses pendidikan dari dalam kampus, alumni membawa cerita tentang apa yang terjadi setelah proses tersebut selesai.
Melalui pengembangan kurikulum yang melibatkan alumni, program studi di Fakultas Humaniora terus mendorong pendidikan yang berbasis capaian, relevan dengan perkembangan zaman, responsif terhadap kebutuhan dunia kerja, namun tetap kokoh pada identitas keilmuan humaniora. Sebab, kurikulum pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang dipelajari mahasiswa hari ini. Kurikulum adalah tentang siapa mereka setelah lulus, kompetensi apa yang mereka bawa, dan bagaimana ilmu yang diperoleh di Humaniora dapat memberi makna ketika mereka hadir di tengah masyarakat dan dunia profesional. (al)