MIU Login

PBAK-F 2026 Resmi Dibuka, Dekan Humaniora Tekankan Kemandirian, Keberanian, dan Sikap Menghargai Perbedaan

HUMANIORA – (20/8/2026) Memasuki perguruan tinggi bukan sekadar berpindah dari ruang kelas sekolah menuju bangku kuliah. Bagi mahasiswa baru, fase ini menandai perubahan penting ketika keberhasilan belajar semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola diri, mengambil keputusan, membangun relasi yang sehat, serta bertanggung jawab terhadap pilihan masing-masing. Pesan itulah yang ditekankan Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., saat membuka Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas (PBAK-F) Humaniora 2026, Kamis (20/8/2026).

Read too:

Digelar di Auditorium Lantai 3 Fakultas Humaniora, Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, PBAK-F 2026 menjadi pintu awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan akademik sekaligus memahami tanggung jawab baru yang menyertai status mereka sebagai mahasiswa. Kegiatan tersebut dihadiri mahasiswa baru, jajaran dekanat, serta panitia PBAK dari unsur fakultas dan mahasiswa.

Di hadapan mahasiswa baru, Prof. Faisol mengawali sambutannya dengan menyampaikan selamat datang dan menegaskan bahwa mereka kini telah menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Humaniora.

“Selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kalian kini telah menjadi bagian dari keluarga besar Humaniora, tempat di mana kreativitas, pemikiran kritis, dan semangat kolaborasi akan berkembang bersama,” ujarnya.

Namun, sambutan tersebut tidak berhenti pada ucapan selamat datang. Prof. Faisol mengajak mahasiswa melihat masa awal perkuliahan sebagai momentum perubahan cara berpikir dan bersikap. Memasuki perguruan tinggi, menurutnya, berarti memasuki sistem pendidikan yang memberikan ruang kemandirian jauh lebih besar kepada mahasiswa.

Mahasiswa tidak lagi berada dalam situasi ketika orang tua, keluarga, dosen, maupun fakultas dapat mengawasi setiap aktivitas mereka sepanjang waktu. Kebebasan yang semakin besar itu sekaligus membawa konsekuensi berupa tanggung jawab yang lebih besar terhadap diri sendiri.

“Kita memasuki dunia baru. Kita masuk dalam sistem pendidikan di mana diri kita sendiri menjadi salah satu kunci kesuksesan. Kita jauh dari keluarga dan tidak mungkin dipantau orang tua, dosen, maupun fakultas selama 24 jam,” pesannya.

Karena itu, Prof. Faisol menempatkan kemampuan mengelola diri sebagai salah satu bekal penting mahasiswa selama menjalani pendidikan tinggi. Mahasiswa perlu belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, membangun disiplin, memilih lingkungan pergaulan, serta menjaga konsistensi antara tujuan yang ingin dicapai dan tindakan sehari-hari.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan mahasiswa yang semakin kompleks. Di satu sisi, perkembangan teknologi menyediakan akses pengetahuan dan kesempatan belajar yang semakin luas. Di sisi lain, mahasiswa juga berhadapan dengan derasnya informasi, perubahan sosial, lingkungan pergaulan yang beragam, serta berbagai distraksi yang menuntut kemampuan mengambil keputusan secara matang.

Prof. Faisol mengingatkan bahwa kewaspadaan terhadap diri sendiri menjadi penting. Kebebasan di perguruan tinggi tidak semestinya dimaknai sebagai kehidupan tanpa batas, melainkan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab atas proses pertumbuhannya sendiri.

Selain kemandirian, Dekan memberikan perhatian khusus terhadap keberagaman yang akan ditemui mahasiswa selama menjalani kehidupan kampus. Fakultas Humaniora dihuni mahasiswa dengan latar belakang daerah, bahasa, budaya, pengalaman sosial, dan keyakinan yang beragam.

Dalam konteks tersebut, Prof. Faisol secara khusus menyebut keberadaan mahasiswa Humaniora yang beragama non-Islam. Ia meminta mereka tidak merasa minder ataupun terasing, karena lingkungan akademik Humaniora harus menjadi ruang yang menghormati perbedaan.

“Jangan minder. Fakultas Humaniora menghargai ribuan budaya dan menghargai perbedaan,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus memperkuat karakter keilmuan humaniora yang menempatkan manusia, bahasa, sastra, budaya, dan relasi sosial sebagai bagian penting dari proses akademik. Perbedaan tidak semestinya menjadi jarak antarmahasiswa, tetapi dapat menjadi sumber pengalaman belajar yang memperluas perspektif dan membangun kemampuan hidup bersama.

Menurut Prof. Faisol, terciptanya situasi yang damai juga memiliki hubungan erat dengan pencapaian cita-cita mahasiswa. Lingkungan belajar yang saling menghargai memungkinkan mahasiswa tumbuh, berdiskusi, mengembangkan gagasan, dan membangun kolaborasi tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Dengan demikian, PBAK menjadi momentum penting untuk memperkenalkan bahwa kehidupan akademik tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual. Mahasiswa juga perlu mengembangkan empati, kemampuan berkomunikasi, penghargaan terhadap orang lain, serta kedewasaan dalam menghadapi pandangan yang berbeda.

Pesan lain yang mengemuka dalam sambutan Dekan adalah keberanian menghadapi persoalan. Prof. Faisol mengingatkan mahasiswa baru bahwa perjalanan selama menempuh pendidikan tinggi tidak selalu berlangsung sesuai rencana.

Ada kemungkinan mahasiswa menghadapi kesulitan akademik, persoalan adaptasi, tekanan dalam menyelesaikan tugas, tantangan organisasi, maupun persoalan lain yang muncul sepanjang masa studi. Namun, rintangan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti.

“Rintangan pasti ada. Jangan pernah takut dengan rintangan,” pesannya.

Ia mengajak mahasiswa melihat masalah sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pengalaman menghadapi kesulitan dapat membentuk kematangan seseorang apabila disikapi dengan kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri.

“Allah pasti akan memberikan rintangan dan masalah agar menjadi pengalaman. Pengalaman adalah guru yang berharga,” lanjutnya.

Perspektif tersebut menjadi pesan penting bagi mahasiswa yang baru memasuki kehidupan perguruan tinggi. Kesuksesan akademik tidak selalu terbentuk melalui perjalanan yang lurus dan tanpa hambatan. Kemampuan bangkit, beradaptasi, mencari solusi, serta mengambil pelajaran dari kegagalan justru menjadi bagian dari kompetensi yang diperlukan mahasiswa untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.

Prof. Faisol juga menempatkan pesan kemandirian tersebut dalam konteks perubahan zaman. Menurutnya, mahasiswa saat ini memasuki perguruan tinggi ketika perkembangan teknologi digital dan disrupsi membawa perubahan cepat dalam cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan memperoleh pengetahuan.

Kondisi tersebut menuntut mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi. Mereka perlu membangun kemampuan berpikir kritis untuk menilai informasi, memahami pluralitas perspektif, serta mampu bekerja bersama orang lain.

“Dengan ilmu pengetahuan yang solid dan sikap kolaboratif, kita akan mampu menghadapi perubahan apa pun dan meraih kesuksesan di masa depan,” tegasnya.

Bagi mahasiswa Humaniora, kemampuan tersebut memiliki arti penting. Perkembangan teknologi memang mengubah berbagai bidang kehidupan, tetapi persoalan manusia, bahasa, budaya, komunikasi, identitas, dan relasi sosial tetap membutuhkan kemampuan membaca konteks secara kritis.

Karena itu, masa studi di Fakultas Humaniora diharapkan tidak hanya menghasilkan penguasaan bidang ilmu. Mahasiswa juga perlu memanfaatkan pengalaman akademik dan kemahasiswaan untuk membangun kreativitas, kecakapan komunikasi, kemampuan berkolaborasi, serta kesiapan berinteraksi dengan masyarakat yang semakin beragam dan terkoneksi secara global.

PBAK-F 2026 kemudian menjadi titik awal untuk memperkenalkan nilai-nilai tersebut. Kegiatan orientasi tidak ditempatkan sekadar sebagai agenda pengenalan gedung, program studi, organisasi, atau layanan fakultas, melainkan sebagai proses awal membantu mahasiswa memahami identitas dan tanggung jawab barunya.

Mahasiswa diperkenalkan pada lingkungan tempat mereka akan belajar dan bertumbuh dalam beberapa tahun mendatang. Pada saat yang sama, mereka mulai membangun relasi dengan teman sebaya, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai unsur yang akan mendukung perjalanan akademiknya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Faisol juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dari unsur dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang telah mempersiapkan PBAK-F Humaniora 2026. Kerja bersama tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan pengalaman awal yang positif bagi mahasiswa baru.

Pembukaan kemudian ditandai dengan penyematan tanda peserta secara simbolis oleh Dekan kepada perwakilan mahasiswa baru. Penyematan tersebut menandai dimulainya rangkaian PBAK sekaligus menjadi simbol diterimanya mahasiswa baru sebagai bagian dari komunitas akademik Fakultas Humaniora.

Lebih dari sebuah seremoni, pesan Dekan dalam pembukaan PBAK-F 2026 memberikan fondasi mengenai bagaimana mahasiswa perlu menjalani kehidupan kampus: mandiri dalam mengelola diri, berani menghadapi tantangan, kritis terhadap perubahan, terbuka untuk berkolaborasi, serta mampu menghormati keberagaman.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika mahasiswa dipersiapkan menghadapi dunia yang bergerak cepat dan semakin terhubung lintas budaya. Kemampuan akademik tetap menjadi fondasi, tetapi kecakapan mengelola diri dan hidup bersama orang lain akan menentukan bagaimana ilmu tersebut dapat digunakan secara bertanggung jawab.

Melalui PBAK-F 2026, Fakultas Humaniora mengawali perjalanan mahasiswa baru dengan pesan bahwa kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar. Kampus adalah ruang belajar untuk membentuk cara berpikir, karakter, kedewasaan, dan keberanian menghadapi kehidupan. Dari ruang inilah mahasiswa Humaniora diharapkan tumbuh menjadi pribadi berilmu, beretika, adaptif, menghargai perbedaan, dan siap berkarya di tengah perubahan zaman. [nada/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait