HUMANIORA – (12/6/2026) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan bedah buku antologi puisi Sebut Saja Puisi pada Jumat (22/5/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini mengusung tema reflektif “Puisi Apa Gunanya?” dan menjadi ruang dialog akademik yang mempertemukan dosen, mahasiswa, penulis, dan pegiat literasi untuk mendiskusikan posisi puisi di tengah kehidupan modern.
Read too:
- Perluas Jejaring Global, Humaniora Teken MoU dengan The Omani Research and Studies Centre IIUM Malaysia
- Prof. Rahmah di IASQRE 2026: Humaniora Menjadi Penjaga Makna di Tengah Ledakan AI
Bedah buku ini menghadirkan empat narasumber dari kalangan akademisi dan sastrawan, yakni Prof. Dr. M. Misbahul Amri, M.A., Prof. Dr. Mundi Rahayu, M.Hum., Misbahus Surur, M.Pd., serta Dr. Ahmad Kholil, M.Fil. sebagai penulis buku Sebut Saja Puisi.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh refleksi intelektual. Para narasumber tidak hanya membahas aspek estetika puisi, tetapi juga mengulas sastra sebagai medium kontemplasi, ekspresi kemanusiaan, hingga ruang spiritualitas di tengah kehidupan yang semakin pragmatis dan serba cepat. Tema “Puisi Apa Gunanya?” menjadi pintu masuk untuk mengajak peserta melihat kembali relevansi puisi dalam membangun kepekaan dan kesadaran manusia.

Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad Kholil, M.Fil. menjelaskan bahwa buku Sebut Saja Puisi lahir dari pergulatan batin, perenungan hidup, serta respons terhadap berbagai pengalaman manusia yang sulit diungkapkan secara biasa. Menurutnya, puisi bukan sekadar permainan kata, melainkan medium untuk memahami diri, kehidupan, dan relasi manusia dengan realitas di sekitarnya.
“Puisi adalah ruang untuk merawat kepekaan. Di tengah dunia yang semakin bising dan serba instan, puisi membantu manusia berhenti sejenak, merenung, dan mendengarkan suara batinnya sendiri,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan bedah buku ini bertujuan membuka ruang apresiasi sastra yang lebih luas di lingkungan akademik. Sastra, menurutnya, perlu dipahami bukan hanya sebagai karya artistik, tetapi juga sebagai medium pembelajaran nilai, refleksi sosial, dan penguatan kemanusiaan.
Sementara itu, Prof. Dr. M. Misbahul Amri memberikan ulasan mendalam terhadap karya-karya Ahmad Kholil dengan menempatkannya dalam konteks sosial, spiritual, dan akademik. Ia menjelaskan bahwa posisi dosen Sastra Arab di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri karena sering kali dipandang bukan hanya sebagai akademisi, tetapi juga figur religius yang identik dengan nilai-nilai keislaman.
“Sebagai dosen Sastra Arab, Ahmad Kholil tidak bisa dilepaskan dari identitas keislamannya. Karena itu, puisi-puisinya sangat mungkin menjadi bentuk refleksi spiritual sekaligus respons sosial terhadap kehidupan,” jelasnya.
Prof. Misbahul Amri menilai bahwa puisi-puisi dalam buku tersebut tidak hadir sebagai karya estetis semata, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan manifestasi nilai amar ma’ruf nahi munkar. Ia mengaitkan hal tersebut dengan pandangan sastra klasik yang menempatkan karya sastra memiliki dua sisi penting, yakni utile (kebermanfaatan) dan dulce (keindahan atau hiburan).
Dalam ulasannya, Prof. Misbahul Amri juga menyoroti judul buku Sebut Saja Puisi yang menurutnya menarik karena memperlihatkan sikap rendah hati penyair. Ia mengaitkan pernyataan Ahmad Kholil dalam bagian “Sekapur Sirih” yang menyebut puisinya sebagai “puisi-puisi jelek” sebagai bentuk kesadaran bahwa karya sastra adalah ruang permenungan, bukan sekadar ajang pamer kemampuan.
Selain itu, ia juga menyinggung jumlah puisi dalam buku tersebut yang berjumlah 133 karya—jumlah ganjil yang menurutnya memiliki kemungkinan keterkaitan simbolik dengan tradisi spiritual Islam yang memandang bilangan ganjil sebagai sesuatu yang istimewa.
Bedah buku ini menjadi semakin menarik ketika para peserta diajak melihat puisi tidak hanya dari aspek bentuk, tetapi juga dari sisi pengalaman batin, nilai religius, dan fungsi sosial sastra dalam kehidupan manusia. Diskusi pun berkembang menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana sastra mampu menjaga kepekaan manusia di tengah arus modernitas yang sering kali mengikis ruang kontemplasi.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Humaniora kembali menegaskan komitmennya dalam menghidupkan budaya literasi dan diskursus sastra di lingkungan akademik. Bedah buku Sebut Saja Puisi tidak hanya menjadi forum apresiasi karya, tetapi juga ruang intelektual untuk memahami bahwa puisi adalah medium yang mampu menghubungkan estetika, spiritualitas, dan pengalaman manusia secara lebih mendalam. [al/Infopub]





