HUMANIORA – (27/2/2026) Senat Mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menggelar agenda strategis Capacity Building dan Rapat Kerja (Raker) Tahunan pada Jumat (27/2/2026). Bertempat di Auditorium Gedung Ar-Rahim Lantai 3, Kampus 3 Batu, kegiatan ini menjadi pijakan awal bagi para pengurus Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) pasca dilantik pada pertengahan Februari lalu.
Read too:
- HELO Humaniora Buka 12 Kelas English Course: Program Perdana Spesial Ramadhan
- Ramadhan: Bulan ‘Pembakaran’ Dosa-dosa
Acara yang mengusung tema “Menghidupkan Kembali Jiwa Organisasi: Meneguhkan Peran yang Relevan dan Bermakna bagi Mahasiswa” ini dihadiri langsung oleh Dekan Fakultas Humaniora, para Wakil Dekan, Kabag TU, serta pejabat pengelola keuangan.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., menekankan bahwa organisasi harus menjadi wadah kolaborasi. Menurutnya, kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama secara fisik, melainkan penggabungan potensi untuk mencapai visi besar yang tidak mungkin diraih sendirian.
“Mahasiswa harus menyadari bahwa di era modern, kecerdasan individual (IQ) harus dibarengi dengan kecerdasan sosial. Organisasi adalah simulasi dunia kerja yang sesungguhnya. Di sini kalian melatih empati, negosiasi, dan kemampuan menyelesaikan konflik,” tegas Prof. Faisol. Ia menambahkan bahwa mahasiswa yang piawai berkolaborasi akan memiliki nilai tawar tinggi karena memahami cara memimpin dan dipimpin secara proporsional.
Menyoroti aspek manajemen organisasi, Prof. Faisol merujuk pada pesan mendalam dalam Surah Al-Ashr. Ia mengingatkan bahwa waktu adalah aset paling berharga yang tidak dapat diputar kembali. Mahasiswa dituntut untuk bertanggung jawab secara moral dalam menempatkan segala sesuatu pada waktunya.

“Manajemen waktu adalah bentuk tanggung jawab moral agar tidak menjadi golongan yang merugi. Organisasi mengajarkan kalian membedakan mana yang ‘mendesak’ dan mana yang ‘penting’. Mahasiswa yang terlatih mengelola waktu di kampus akan menjadi pribadi yang efektif dan produktif di masa depan,” pesannya.
Di akhir sambutannya, Dekan mengutip nasihat bijak dari Kitab Raudlatul ‘Uqala’ bahwa “asupan akal adalah pengalaman”. Poin ini menekankan bahwa intelektualitas dan spiritualitas harus tumbuh melalui aksi nyata, bukan sekadar teori di dalam kelas.
“Kuliah memberikan kerangka berpikir atau teori, namun organisasilah yang memberikan ‘nyawa’ pada teori tersebut melalui pengalaman. Akal akan tumpul jika hanya diisi teks tanpa konteks lapangan,” ungkapnya.
Ia menganalogikan organisasi sebagai laboratorium hidup di mana setiap dinamika, kegagalan, maupun keberhasilan program kerja adalah “nutrisi” yang mendewasakan pola pikir dan mentalitas. Dengan semangat ini, Raker Tahunan diharapkan mampu melahirkan program-program kerja yang tidak hanya relevan secara akademis, tetapi juga bermakna bagi pengembangan karakter mahasiswa Humaniora. [asf/Infopub]





