HUMANIORA – (20/2/2026) Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memacu akselerasi mutu akademiknya. Sebagai langkah konkret dalam proses pemutakhiran kurikulum, Prodi BSA menggelar sesi sharing pengembangan kurikulum bersama Dr. Djamaluddin Perawironegoro S.Th.I., M.Pd.I. dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Kamis (19/2/2026).
Read too:
- Menjadikan Ramadhan Sebagai Ruang Rekonsiliasi Diri
- Prestasi Mendunia: Mahasiswa Humaniora Sabet Juara Esai Internasional di Chulalongkorn University Thailand
Kegiatan yang digelar secara daring ini dihadiri oleh Ketua Prodi BSA, Dr. Abdul Basid, Sekretaris Prodi, Dr. Moh. Zawawi, serta seluruh Tim Pemutakhiran Kurikulum Prodi BSA. Diskusi ini dinilai sangat krusial untuk memastikan arah pendidikan di prodi tetap relevan, berkualitas, dan mampu menjawab tantangan zaman yang dinamis.

Dalam sesi diskusi, Djamal menegaskan bahwa instrumen akreditasi saat ini mewajibkan perguruan tinggi untuk mengadopsi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Berbeda dengan model konvensional, OBE menitikberatkan pada hasil akhir atau kompetensi yang dikuasai lulusan, bukan sekadar penyelesaian materi perkuliahan.
“Membuat Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang tepat adalah pondasi utama dalam kurikulum berbasis OBE. CPL yang baik harus merumuskan kompetensi yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terukur dan terarah,” ungkap narasumber dalam sesi tersebut.
Langkah awal yang menjadi fokus tim adalah penentuan Profil Lulusan. Profil ini harus dirancang agar menarik dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Dengan profil yang jelas, masyarakat dan calon mahasiswa akan mengetahui secara pasti kompetensi apa yang akan dimiliki setelah lulus dari prodi BSA.

Pemutakhiran ini juga membedah keterkaitan sistemik antara Delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Kurikulum dirancang sebagai siklus input-proses-output yang saling mengunci, meliputi input yang melibatkan profesionalisme pendidik dan kesiapan sarana prasarana, proses, yang menentukan standar isi dan metode pembelajaran yang aktif serta kreatif, serta output, yaitu standar penilaian yang berfungsi mengevaluasi sejauh mana kompetensi lulusan telah tercapai. Sinergi ini memastikan bahwa kurikulum tidak hanya kokoh secara teoretis, tetapi juga didukung sumber daya memadai dan dievaluasi secara konsisten untuk menjamin kualitas lulusan.
Selain berbasis OBE, alur pengembangan kurikulum baru ini dirancang untuk mendukung penuh program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Prodi BSA sedang merancang mekanisme agar mahasiswa memiliki otonomi untuk belajar di luar program studi hingga tiga semester (setara 60 SKS) tanpa kehilangan capaian pembelajaran utama.

Tahapan pengembangan kurikulum ini meliputi analisis kebutuhan, perumusan CPL yang mengacu pada SN-Dikti dan KKNI, hingga penyusunan mekanisme rekognisi atau ekuivalensi hasil kegiatan MBKM seperti magang dan pertukaran pelajar menjadi SKS mata kuliah.
Ketua Prodi BSA, Dr. Abdul Basid, menegaskan bahwa pemutakhiran ini adalah upaya untuk menjembatani kesenjangan (link and match) antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri 4.0. Melalui evaluasi diri dan keterlibatan tracer study, kurikulum 2026 diharapkan menjadi lebih segar dan inovatif.
“Diskusi ini bertujuan memperbarui materi ajar dan metode pembelajaran agar tidak usang. Kami ingin menghasilkan lulusan yang tidak hanya ahli dalam bahasa dan sastra Arab, tetapi juga memiliki keterampilan yang diakui secara profesional di dunia kerja,” pungkasnya.
Dengan langkah intensif ini, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang semakin mengukuhkan komitmennya dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, fleksibel, dan berorientasi pada masa depan. [unr/Infopub]





