HUMANIORA – (23/1/2026) Kualitas publikasi ilmiah kini menjadi fokus utama bagi para pengelola jurnal di lingkungan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Menyadari bahwa jurnal ilmiah adalah etalase reputasi akademik, fakultas menggelar Workshop Peningkatan Kualitas Jurnal Ilmiah pada Kamis (22/01) di Ruang Laboratorium Lantai 2. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Humaniora, Pro. Dr. M. Faisol, beserta segenap pengelola jurnal di lingkungan Fakultas Humaniora dan dan para reviewer mitra.
Baca juga:
- Prodi BSA Kawal Awal Studi Mahasiswa melalui Pemrograman KRS Serentak
- Level Up Akademik: Jalur Artikel Jurnal Jadi Alternatif Prestisius Pengganti Skripsi di Prodi Sasing
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Mahardika Zhifana, Koordinator Publikasi Ilmiah Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang membagikan best practice mengenai tata kelola jurnal profesional menuju standar internasional.
Dalam pemaparannya, Dr. Mahardika menekankan bahwa jantung dari sebuah jurnal yang berwibawa terletak pada proses review. Merujuk pada standar Scopus, ia menegaskan bahwa reviewer bukan sekadar pemeriksa naskah, melainkan mitra strategis editor yang berfungsi sebagai “penjaga gawang” mutu keilmuan.
“Seorang reviewer harus memiliki tiga pilar kompetensi utama: kedalaman keilmuan, ketajaman metodologi, dan integritas etika akademik,” ujar Dr. Mahardika di hadapan para pengelola jurnal.
Beliau juga menyoroti pentingnya penyusunan instrumen review yang proporsional. Instrumen tersebut harus mampu memotret kekuatan naskah sekaligus memetakan area of improvement secara objektif, sehingga umpan balik yang diberikan kepada penulis bersifat konstruktif, bukan sekadar menjatuhkan.
Lebih jauh, workshop ini membedah urgensi aspek legalitas dalam riset humaniora. Dr. Mahardika mengingatkan bahwa jurnal yang berkualitas wajib memiliki sistem consent form dan ethical clearance yang jelas. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa setiap data yang diperoleh dari responden telah mendapatkan persetujuan dan terlindungi secara etik.
Dalam hal kerahasiaan, pengelola jurnal diingatkan untuk memegang teguh confidentiality principle. Prinsip ini menuntut objektivitas dan keadilan, termasuk dalam menjaga kerahasiaan identitas penulis dan judul artikel demi menghindari bias sebelum naskah dipublikasikan secara resmi.

Menutup sesi materi, Dr. Mahardika menggarisbawahi dua variabel mutlak dalam standarisasi jurnal internasional: novelty (kebaruan) dan kontribusi teoretis. Sebuah artikel tidak hanya dituntut untuk benar secara metodis, tetapi harus mampu menawarkan kebaruan ide yang berdampak pada pengayaan teori di bidang humaniora.
Workshop yang berlangsung interaktif ini diharapkan menjadi katalisator bagi jurnal-jurnal di lingkungan Fakultas Humaniora untuk melakukan akselerasi kualitas. Dengan manajemen editing yang teknis namun etis, serta proses review yang terstandar, jurnal-jurnal fakultas optimis dapat meraih rekognisi yang lebih luas di kancah nasional maupun global. [unr/Infopub]





