HUMANIORA – (17/10/2025) Sastra Arab tidak sekadar warisan masa lalu, melainkan khazanah intelektual yang terus hidup dan relevan di tengah arus modernitas. Hal itu disampaikan oleh dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Halimi dalam seminar bertajuk “Menggali Khazanah Sastra Arab: Warisan Intelektual, Identitas Budaya, dan Relevansinya di Era Modern” yang diselenggarakan oleh Program Studi BSA UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Rabu, 15 Oktober 2025, di Gedung BEC UIN KHAS Jember.
Baca juga:
- Dosen Humaniora Jadi Visiting Professor di UniSZA Malaysia, Bahas Teknologi Digital untuk Bahasa Arab
- Workshop MADINA: Humaniora Dorong Mahasiswa Kuasai Jurnalistik Kreatif dan Media Digital
Dihadiri lebih dari 200 peserta, yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan jajaran dekanat, seminar ini menjadi ruang akademik yang menggugah kesadaran akan pentingnya menggali nilai-nilai intelektual yang terkandung dalam karya sastra Arab.

Dalam pemaparannya yang berjudul “Sastra Arab di Indonesia: Peran dan Relevansinya di Era Modern,” Dr. Halimi Zuhdy menelusuri jejak panjang perjalanan sastra Arab di Nusantara. Ia menjelaskan bahwa pengaruh sastra Arab telah masuk ke wilayah kepulauan Indonesia sejak abad ke-13, bersamaan dengan datangnya para ulama dan penyebar Islam. Jejak itu terekam dalam berbagai karya keagamaan, hikayat, dan puisi keislaman yang memperkaya identitas sastra lokal.
“Sastra Arab bukan hanya warisan estetika, tetapi juga warisan intelektual yang membentuk karakter dan identitas budaya Islam di Nusantara,” ujar Dr. Halimi.
Ia juga menyoroti tokoh-tokoh ulama dan sastrawan Nusantara yang mahir menulis puisi dalam bahasa Arab, serta bagaimana karya-karya mereka menjadi medium dakwah dan penguatan nilai moral. Menurutnya, relevansi sastra Arab di era digital justru semakin penting karena mampu menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan keilmuan di tengah derasnya arus informasi global.
Lebih jauh, Dr. Halimi mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pembaca pasif, tetapi juga peneliti dan pencipta karya sastra yang kritis dan kontekstual.
“Kalau bukan mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab yang peduli, siapa lagi? Di era ini, mahasiswa harus aktif membuat kajian, penelitian, dan karya agar sastra Arab terus berkembang dan dikenal luas,” tegasnya.
Seminar ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik peserta, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya peran sastra Arab dalam membangun dialog lintas budaya dan peradaban. Sastra, menurut para narasumber, menjadi jembatan intelektual yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus ruang refleksi untuk membangun masa depan yang lebih beradab.
Melalui kegiatan ini, UIN KHAS Jember berupaya memperkuat posisi studi sastra Arab sebagai salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter akademik dan spiritual mahasiswa, sekaligus memperluas jejaring keilmuan antaruniversitas di bidang humaniora dan kebudayaan Islam. (unr)





