Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*
Kita hidup di zaman yang gemar mengukur segala sesuatu dengan angka. Jurusan dinilai dari prospek kerja. Penelitian diukur dari hilirisasi. Bahkan minat dan bakat pun ditanya: “Bisa jadi cuan nggak? Ilmu-ilmu humaniora—sastra, bahasa, filsafat, sejarah, antropologi—sering ditempatkan di sudut ruangan dengan pertanyaan klasik: “Lulusannya jadi apa?” Seolah-olah nilai sebuah ilmu hanya sah jika langsung terserap pasar.
Baca juga:
- Bangga! Alumni Sastra Inggris Raih Beasiswa Magister di Australia
- Sunan Bonang: Dakwah yang Merangkul Bukan Menggusur
Padahal, pertanyaan yang lebih mendesak adalah ini: jika semua orang sibuk memproduksi dan mengoptimalkan, siapa yang menjaga arah? Jika semua mengejar pertumbuhan, siapa yang menjaga keseimbangan?
Peradaban Konsumsi dan Hasrat yang Tak Pernah Cukup
Modernitas berdiri di atas logika konsumsi. Produksi harus terus meningkat. Iklan harus terus menggoda. Keinginan harus terus diperbarui.
Kita didorong untuk merasa kurang: kurang update, kurang mapan, kurang relevan. Maka kita membeli, mengganti, memperbarui—tanpa henti. Watak manusia yang merasa selalu kurang, menemukan relevansinya di dunia modern ini.
Krisis lingkungan hari ini bukan sekadar krisis teknologi. Ia adalah krisis hasrat. Bumi tidak rusak karena kekurangan mesin, melainkan karena manusia sulit berkata “cukup”.
Di titik inilah puasa tampil sebagai kritik paling sunyi terhadap budaya rakus. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang tersedia harus dikonsumsi. Tidak semua dorongan harus diikuti.
Lapar sebagai Latihan Kosmis
Puasa sering dipahami sebagai ibadah individual. Padahal, jika jutaan manusia menahan diri secara serentak, itu adalah peristiwa kosmis. Tubuh belajar menahan. Hasrat belajar tertunda. Keinginan belajar dikendalikan.
Ini bukan sekadar disiplin pribadi, melainkan latihan keseimbangan. Dalam kosmos, tidak ada yang terus-menerus berlebihan tanpa konsekuensi. Siang dan malam bergantian. Hujan dan kemarau silih berganti. Puasa menempatkan manusia kembali dalam ritme alam: ada saat menikmati, ada saat menahan. Dan manusia yang mampu menahan diri adalah syarat pertama bagi kelestarian bumi. Keberlanjutan dunia ini tergantung para pemangkunya.
Humaniora: Menjaga Arah di Tengah Laju
Jika teknologi menjawab pertanyaan “bagaimana”, humaniora bertanya “mengapa” dan “untuk siapa”. Teknologi bisa membuat mesin lebih cepat. Humaniora bertanya: apakah percepatan itu adil dan bermakna?
Ekonomi bisa meningkatkan produksi. Humaniora bertanya: siapa yang terdampak dan paling banyak diuntungkan? Sains bisa membuka sumber daya baru. Humaniora bertanya: apa dampaknya bagi generasi berikutnya?
Ilmu-ilmu ini mungkin tidak selalu menghasilkan produk instan. Tetapi ia membentuk manusia yang berpikir sebelum bertindak. Tanpa perspektif kemanusiaan, kemajuan berubah menjadi dominasi. Dan jika diterus-teruskan, maka keseimbangan kosmik akan mengalami turbulensi.
Krisis Mental dan Ritme yang Terlalu Cepat
Selain krisis lingkungan, kita juga menyaksikan krisis mental. Burnout, kecemasan, rasa hampa. Dunia semakin canggih, tetapi jiwa semakin lelah.
Mengapa? Karena ritme hidup melampaui kapasitas manusia. Kita hidup dalam overstimulasi: informasi tanpa henti, tuntutan produktivitas, ekspektasi sosial yang tinggi.
Puasa memperlambat ritme itu. Ada sahur yang hening. Ada jeda panjang sebelum berbuka.
Ada malam yang lebih sunyi untuk merenung. Dalam jeda itu, manusia belajar bahwa hidup tidak harus selalu cepat. Bahwa diam bukan kemunduran. Bahwa keheningan adalah ruang pemulihan.
Humaniora tumbuh dalam ruang refleksi semacam ini. Tanpa jeda, tidak ada kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, tidak ada keberlanjutan.
Empati sebagai Fondasi Keberlanjutan
Lapar menyadarkan kita bahwa makan adalah anugerah. Ia menghubungkan kita dengan mereka yang hidup dalam kekurangan—bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai pengalaman yang dirasakan.
Empati adalah fondasi keberlanjutan sosial. Tanpa empati, alam dieksploitasi dan manusia diperalat. Relasi berubah menjadi transaksi.
Sastra menumbuhkan empati lewat cerita. Bahasa menumbuhkan empati lewat kata-kata yang bermakna. Sejarah menumbuhkan empati lewat ingatan kolektif. Filsafat menumbuhkan empati lewat pertanyaan etis.
Dan ada kesamaan dengan nilai-nilai puasa. Puasa menumbuhkan empati lewat tubuh. Ketika empati hidup, keseimbangan sosial lebih mungkin terjaga.
Keseimbangan sebagai Inti Peradaban
Kosmos bekerja dalam keseimbangan. Ketika satu unsur dominan, unsur lain terganggu. Prinsip ini berlaku pada alam, juga pada manusia. Pertumbuhan ekonomi tanpa kendali menghasilkan kerusakan ekologis. Ambisi tanpa etika melahirkan ketimpangan. Konsumsi tanpa batas menimbulkan krisis sumber daya. Puasa adalah latihan kecil yang berdampak besar untuk mencegah dominasi hasrat dan nafsu serakah manusia. Humaniora adalah pengingat besar agar peradaban tidak kehilangan kompas moralnya. Keduanya mungkin tampak tidak praktis. Tetapi peradaban tidak runtuh karena kekurangan teknologi. Ia runtuh ketika kehilangan kendali diri dan kehilangan makna.
Revolusi yang Dimulai dari “Cukup”
Di zaman yang serba cepat ini, mungkin yang paling revolusioner justru kesediaan untuk berhenti. Untuk menahan. Untuk berkata “cukup”. Puasa melatih manusia berkata cukup pada dirinya sendiri. Humaniora melatih masyarakat berkata cukup pada ambisinya yang terlalu ambisius. Jika tubuh, pikiran, dan hasrat mampu diseimbangkan, maka relasi dengan alam pun akan lebih harmonis. Jika manusia mampu menunda keinginan, maka eksploitasi dapat dikurangi.
Menjaga keseimbangan kosmos tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau teknologi canggih. Kadang ia dimulai dari satu keputusan sederhana yang diulang setiap hari: hari ini, saya memilih untuk tidak berlebihan. Dan mungkin, dari pilihan-pilihan kecil itulah, peradaban menemukan kembali keseimbangannya. Semoga.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





