MIU Login

Puasa dan Perut: Membaca Kembali Hadis “Satu Usus” di Bulan Ramadhan

Oleh: Helmi Nawali*

Ada sebuah hadis yang kerap terdengar di bulan Ramadhan, namun jarang benar-benar direnungkan maknanya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa “Orang yang beriman itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Al-Nasai, Ahmad).

إِنَّ المُؤْمِنَ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالكَافِرَ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Hadis ini tercatat sahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan sejumlah kitab hadis besar lainnya. Namun selama berabad-abad, hadis ini kerap dibaca secara harfiah, seolah-olah ada perbedaan biologis nyata antara perut orang beriman dan perut orang yang tidak beriman. Padahal tidak demikian adanya.

Baca juga:

Secara anatomis, seluruh manusia memiliki sistem pencernaan yang sama, tanpa memandang keyakinan agamanya. Tidak ada satu pun temuan ilmu kedokteran yang menyatakan bahwa usus seorang Muslim berbeda dengan usus manusia lainnya. Maka jika hadis ini dipaksakan untuk dipahami secara literal, ia bukan saja bertentangan dengan fakta medis, tetapi juga berpotensi melahirkan kesimpulan yang diskriminatif dan tidak sejalan dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Di sinilah urgensi membaca hadis secara lebih cermat dan bertanggung jawab. Para ulama klasik sejatinya telah lebih dahulu menyadari persoalan ini. Ibnu Hajar al-Asqalani, salah satu otoritas hadis terbesar dalam sejarah Islam, menegaskan bahwa hadis ini tidak dimaksudkan dalam maknanya yang hakiki. Para ulama secara konsensus mengarahkan pemaknaannya pada dimensi metaforis dan etis, bukan biologis. Ibnu al-Jauzi menawarkan pemaknaan bahwa orang beriman yang membaca basmalah sebelum makan mendapatkan keberkahan, sehingga makanan sedikit pun terasa cukup. Sementara orang yang tidak beriman makan tanpa kesadaran keberkahan, sehingga terus merasa kurang meski telah makan banyak. Abu Hamid at-Thusi menambahkan bahwa “usus” dalam hadis ini adalah kiasan bagi nafsu makan, bukan organ tubuh.

Ramadhan adalah momen paling tepat untuk merenungkan pesan di balik hadis ini. Bulan ini mengajarkan kita, secara langsung dan melalui pengalaman fisik, bagaimana membatasi konsumsi bukan sebagai siksaan, melainkan sebagai jalan menuju kebebasan. Berpuasa dari fajar hingga maghrib adalah latihan paling nyata untuk menaklukkan apa yang dalam tradisi Islam disebut hawa nafsu. Dan nafsu makan, atau syahwat al-batn, adalah salah satu pintu masuk godaan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia.

Dalam tradisi keilmuan Arab-Islam, perut bukan sekadar organ pencernaan. Ia adalah simbol dari wadah keinginan manusia. Filsuf dan tabib besar Ibnu Sina meyakini adanya korelasi erat antara perut yang kekenyangan dengan tumpulnya kejernihan pikiran. “Satu usus” bagi orang beriman melambangkan kondisi yang seimbang; ia makan secukupnya untuk menopang ketaatan, bukan untuk memperturutkan selera. Sebaliknya, “tujuh usus” adalah metafora bagi jiwa yang terus-menerus lapar meski telah kenyang secara fisik, karena yang sesungguhnya dicari bukanlah makanan, melainkan pengisi kekosongan batin.

Di era modern yang dikepung oleh budaya konsumerisme, pesan ini terasa semakin relevan. Kita hidup dalam zaman di mana makan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan tubuh, melainkan telah menjadi ritual hiburan, ajang pamer, dan bahkan pelarian dari tekanan hidup. Tren all-you-can-eat, unggahan foto makanan di media sosial, dan berbagai konten mukbang yang ditonton jutaan orang adalah cerminan dari gaya hidup “tujuh usus” yang sedang mewabah secara kultural. Ramadhan, dengan segala larangannya yang keras terhadap makan dan minum di siang hari, sesungguhnya menawarkan terapi kolektif dari kecanduan konsumsi yang akut ini.

Imam asy-Syafi’i pernah mengungkapkan suatu pandangan yang sangat mendalam: bahwa kondisi kekenyangan yang berlebihan itu memberatkan tubuh, meredupkan kecerdasan, dan membuat seseorang malas beribadah. Secara neurologis, hal ini pun dapat dijelaskan: ketika tubuh sedang mencerna makanan dalam jumlah besar, aliran darah terkonsentrasi di sistem pencernaan, sehingga otak kehilangan sebagian pasokannya dan mengakibatkan rasa kantuk serta penurunan kapasitas berpikir. Fenomena ini sangat akrab kita rasakan saat berbuka puasa dengan porsi yang berlebihan, lalu mendapati diri kita mengantuk saat waktu tarawih tiba.

Di sinilah makna etis hadis “satu usus” menemukan relevansinya yang paling kontekstual dalam Ramadhan. Anjuran berpuasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi melatih diri untuk mengelola keinginan secara menyeluruh. Rasulullah ﷺ mengajarkan manajemen lambung yang sangat terukur: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga sisanya dibiarkan sebagai ruang kosong untuk pernapasan yang optimal. Prinsip ini bukan sekadar resep kesehatan, melainkan arsitektur kehidupan seorang mukmin yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.

Maka hadis tentang “satu usus dan tujuh usus” bukanlah klaim tentang keunggulan biologis satu kelompok manusia atas kelompok lainnya. Ia adalah undangan untuk berefleksi tentang orientasi hidup. Siapakah yang benar-benar makan untuk hidup dan beribadah? Siapakah yang hidupnya justru berputar di sekeliling meja makan? Ramadhan, dengan segala ritualnya yang menekan konsumsi dan memperluas ruang spiritual, adalah jawaban praktis atas pertanyaan itu.

Semoga di penghujung Ramadhan ini, kita bukan hanya menjadi manusia yang lebih ringan secara fisik, tetapi juga lebih merdeka secara jiwa. Makan sedikit, ibadah banyak, dan hati yang selalu merasa cukup. Itulah gambaran orang beriman dengan “satu usus” yang sesungguhnya.

*Ketua IKAFAHUMA, Mahasiswa S3 UNUJA, dan Dosen Ma’had Aly PP. Annur 2 Al-Murtadlo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait