HUMANIORA – (22/12/2025) MALANG – Suasana haru menyelimuti ruang teater Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Sabtu petang (20/12). Bukan sekadar pementasan biasa, mahasiswa semester 7 Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) sukses menyihir penonton lewat drama Masrohiyah bertajuk “Baqāyā al-Anfās” (Sisa Napas).
Baca juga:
- Fakultas Humaniora Ikuti Rapat Tinjauan Manajemen, Rektor UIN Malang Tekankan Pelayanan pada Mahasiswa
- Humaniora Gelar FGD Kurikulum, Perkuat Mutu dan Relevansi Lulusan
Pementasan berdurasi 2,5 jam ini menjadi bukti nyata bahwa bahasa Arab tidak hanya hidup dalam teks dan tata bahasa, tetapi juga mampu menjadi napas bagi ekspresi seni yang menyentuh isu-isu kemanusiaan dan medis.

Di bawah arahan sutradara M. Yusuf Ardani, drama ini mengambil inspirasi unik dari manga Tokidoki karya Komi Naoshi. Fokus ceritanya tertuju pada tokoh Alya, seorang siswi yang mengidap Sindrom Takotsubo—sebuah kondisi medis langka di mana jantung melemah akibat luapan emosi ekstrem.
Alur cerita semakin dalam saat Alya bertemu Raka, sosok yang mengajarkannya cara mencintai hidup melalui musik. Namun, plot twist tragis terjadi ketika terungkap bahwa Raka-lah yang justru menyimpan rahasia penyakit fatal. Pesan moralnya tegas: “Hidup bukan tentang durasi, melainkan tentang makna yang kita tinggalkan.”


Pementasan ini merupakan produk dari mata kuliah Fan al-Masrohi (Seni Teater) yang diampu oleh H. Ghufron Hambali, M.HI. Dengan pendekatan Project-Based Learning (PBL), angkatan yang dikenal dengan nama Nawaza 2022 ini ditantang untuk mengeksplorasi kemampuan berbahasa Arab melalui penjiwaan karakter.
“Persiapan intensif kami lakukan selama tiga bulan,” ujar Mufti Zakwan Thoriq, Ketua Pelaksana. “Satu bulan pertama untuk penyusunan naskah, dan dua bulan sisanya untuk latihan fisik serta pendalaman peran.”

Dosen pengampu, H. Ghufron Hambali, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi mahasiswanya. Ia menekankan bahwa Masrohiyah ini bukan sekadar tugas akhir, melainkan wadah pembelajaran mendalam.
“Meskipun hidup ini singkat, pesan pentingnya adalah bagaimana seseorang melakukan hal yang positif. Ini adalah produk kreatif dan bukti kerja keras tim dalam mengeksplorasi keterampilan berbahasa,” tutur beliau.
Pementasan ditutup dengan riuh tepuk tangan penonton yang terpukau. Lewat Baqāyā al-Anfās, mahasiswa BSA UIN Malang berhasil membuktikan bahwa sastra Arab bisa relevan dengan isu medis modern dan tetap mampu menggetarkan hati penontonnya. [unr]





