MIU Login

Maghfirah yang Mengalir: Ampunan Allah dalam Irama Puisi Arab

Oleh: Nur Hasaniyah*

Hari keempat Ramadhan telah tiba. Setelah hembusan rahmat yang menyapa di hari pertama, kini jiwa kita memasuki fase yang lebih dalam: maghfirah, pengampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang melimpah ruah. Puasa bukan lagi sekadar penahanan nafsu, melainkan undangan terbuka untuk membersihkan hati dari noda masa lalu. Dalam tradisi sastra Arab, bulan suci ini sering digambarkan sebagai sungai ampunan yang mengalir deras, membersihkan segala dosa bagi siapa saja yang dengan ikhlas Taqarrub kepada-Nya.

Baca juga:

Al-Qur’an menggambarkan Ramadhan sebagai bulan penuh petunjuk dan pembeda antara haq dan batil, sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ …

Maknanya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…” (Terjemahan Kementerian Agama RI).

Ayat ini mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga tentang membuka pintu hati untuk menerima hidayah dan maghfirah. Di hari-hari awal seperti ini, ketika tubuh mulai terbiasa dengan ritme baru, jiwa justru semakin peka terhadap panggilan ampunan. Tradisi ulama membagi Ramadhan menjadi tiga fase: sepuluh hari pertama rahmat, sepuluh hari kedua maghfirah, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari neraka. Memasuki hari kedua berarti kita telah melangkah ke lautan pengampunan yang lebih luas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan keutamaan puasa Ramadhan dalam sebuah hadits shahih:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Hadits ini menjadi “bait” pembuka dalam “puisi” Ramadhan: 

iman dan ihtisab (mengharap pahala) adalah kunci agar ampunan mengalir deras. Dihari kedua, ketika godaan mulai muncul kembali dan tubuh merasakan kelelahan, justru inilah momen emas untuk memperbanyak istighfar, taubat, dan doa. Puasa melatih kita tidak hanya menahan perut, tapi juga menahan lisan dari ghibah, mata dari pandangan haram, dan hati dari iri dengki—semua itu menjadi “baris-baris” yang menyempurnakan puisi ampunan.

Dalam sastra Arab klasik, tema maghfirah sering terpantul dalam puisi-puisi tasawuf. Ahmad Syauqi, sang Amir asy-Syu‘ara’, pernah merangkai kata-kata yang menggambarkan Ramadhan sebagai bulan di mana pintu-pintu langit terbuka lebar untuk pengampunan. Dalam salah satu qasidahnya, ia menggambarkan bulan suci sebagai:

شَهْرُ الصِّيَامِ لَقَدْ عَلَوْتَ مُكَرَّمَا

وَغَدَوْتَ مِنْ بَيْنِ الشُّهُورِ مُعَظَّمَا

“Bulan puasa, sungguh engkau telah naik tinggi dalam kemuliaan,

Dan engkau menjadi yang paling diagungkan di antara bulan-bulan lainnya.”

Irama bait ini seperti hembusan angin sahur yang menyegarkan, mengingatkan bahwa setiap hari di Ramadhan—termasuk hari kedua—adalah kesempatan baru untuk “menulis ulang” catatan amal kita dengan tinta taubat. 

Penyair Arab modern seperti “Nizar Qabbani” pun pernah menyentuh tema ini secara halus, dimana puasa menjadi metafor pembersihan jiwa dari beban duniawi, membuka ruang bagi cahaya ampunan Ilahi.

Dihari kedua ini, ketika badan mulai menyesuaikan diri dengan ritme puasa, mari kita jadikan momen untuk memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an. Bacalah ayat-ayat tentang ampunan, seperti dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Terjemahan Kementerian Agama RI).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni di bulan ini, asal kita kembali dengan tulus. Dalam kajian bahasa Arab, kata غَفُورٌ (Ghafūr) berulang kali muncul untuk menekankan sifat Allah yang Maha Pengampun—sebuah pengulangan yang indah dalam retorika Al-Qur’an, seolah Allah ingin kita yakin sepenuhnya akan maghfirah-Nya.

Sebagai civitas akademika Fakultas Humaniora, hari kedua Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan: bagaimana bahasa dan sastra bisa menjadi jembatan menuju ampunan? Saat kita membaca puisi Arab tentang Ramadhan atau menelaah ayat-ayat maghfirah, kita tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga membersihkan hati. Mari perbanyak istighfar, tobat nasuha, dan doa di sela-sela kesibukan mengajar, kuliah atau penelitian. Puasa hari kedua mengajarkan bahwa ampunan bukan hadiah akhir, melainkan aliran yang terus mengalir bagi siapa saja yang haus akan rahmat-Nya.

Semoga di hari kedua ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan maghfirah-Nya kepada kita semua. Perbanyaklah amal, perbanyaklah doa, karena pintu ampunan masih terbuka lebar. Taqabbalallahu minna wa minkum, shalihal a’mal. Amin ya Rabbal ‘alamin.

*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait