HUMANIORA – (6/2/2026) Gelar sarjana hanyalah awal dari pembuktian kualitas kemanusiaan yang sesungguhnya. Hal itu diungkapkan Fronliner Cash Vault di PT. Bank Negara Indonesia, Tbk. yang sekaligus alumni Prodi Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2020 di hadapan para calon wisudawan Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Rabu, 5 Februari 2026.
Baca juga:
- Humaniora Lepas Lulusan Terbaik, Enam Mahasiswa Raih Predikat Cumlaude
- Dekan Humaniora: Kesuksesan Sejati Berakar pada Adab dan Moralitas
Dalam kesempatan tersebut, Labib mengingatkan bahwa ijazah bukanlah akhir perjuangan, melainkan garis start untuk menunjukkan jati diri di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya menanggalkan gengsi demi menjemput pengalaman serta membangun value diri yang akan menjadi kompas bagi arah dan visi hidup di masa depan.

Berbagi pengalamannya, Labib menyoroti realitas dunia kerja yang kerap membentur idealisme segar para lulusan baru, di mana gelar Sarjana Sastra (S1) menuntut fleksibilitas luar biasa dan mentalitas tangguh, bukan kebanggaan semu. “Jangan menjadi generasi yang lemah. Dunia kerja akan menuntut kita untuk menurunkan gengsi demi mengambil pengalaman,” ungkapnya. Baginya, kualitas seorang lulusan tidak lagi ditentukan oleh fasilitas mewah atau atribut materi yang melekat, melainkan oleh nilai intrinsik dan karakter yang mampu bertahan di tengah derasnya arus perubahan profesional.
Dalam refleksinya, Labib mengajak para lulusan untuk bertanya pada diri sendiri mengenai kesiapan mereka. Perusahaan saat ini tidak lagi sekadar bertanya tentang latar belakang pendidikan, namun lebih fokus pada kompetensi fundamental: kemampuan berkomunikasi, kecepatan dalam bertindak, dan daya tahan (resilience) saat menghadapi kegagalan.
“Ilmu itu bukan hanya apa yang ada di kepala, tapi bagaimana cara kita melihat manusia,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya gaya komunikasi yang efektif dan “komulatif” agar mampu menjelaskan pengalaman serta pemahaman diri dengan baik kepada pihak pemberi kerja.

Menghadapi dunia nyata yang heterogen, Labib mendorong para lulusan Humaniora untuk berpikir luas dan tidak eksklusif. Sifat luwes, moderat, dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama. Ia mengingatkan bahwa setiap individu memiliki keterbatasan, sehingga kolaborasi menjadi keharusan di era sekarang.
Bagi generasi Z, ia menitipkan pesan khusus: “Kita perlu mudah bergaul, tapi tidak boleh terbawa arus.” Karakter inilah yang dianggapnya akan membuat lulusan Humaniora tetap kokoh namun tetap relevan di tengah masyarakat.
Sesi paling emosional adalah saat Labib berbicara mengenai kegagalan. Ia melarang para lulusan untuk takut gagal atau takut mengecewakan. Baginya, kegagalan bukanlah lawan dari kesuksesan, melainkan gerbang yang harus dilewati.
“Habiskan kuota gagal kalian di masa muda, sehingga nanti tinggal menikmati kuota keberhasilan,” tuturnya disambut tepuk tangan hadirin. Ia menegaskan bahwa sukses itu tidak seragam dan hidup bukanlah lomba lari. Setiap orang memiliki titik kesuksesan yang berbeda-beda, tergantung pada orientasi dan cara pandang hidup masing-masing.
Menutup orasinya, Labib memberikan pesan pamungkas yang menyentuh sisi kemanusiaan. Ia berharap para lulusan tidak terburu-buru mengejar status profesional sebelum benar-benar memahami cara menjadi manusia yang utuh.
Prosesi Yudisium hari itu pun diakhiri dengan sebuah tantangan bagi para mahasiswa: untuk tidak sekadar pulang membawa jawaban atau ijazah, melainkan pulang dengan keberanian untuk terus bertanya dan belajar di sekolah kehidupan yang sesungguhnya. [unr/Infopub]





