Oleh: Ika Farihah Hentihu*
Lebaran di negeri kita selalu dirayakan dengan penuh sukacita dan kehangatan. Setelah sebulan penuh menempa diri dalam ibadah puasa, momen Idul Fitri menjadi muara yang ditunggu-tunggu untuk kembali ke pelukan keluarga. Banyak orang rela menempuh perjalanan jauh, menantang lelah demi satu tujuan: bersimpuh memohon maaf dan merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang oleh jarak dan kesibukan. Tradisi mudik ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan manifestasi dari nilai kemanusiaan yang mendalam—bahwa sejauh apa pun kita melangkah, keluarga adalah akar yang menjaga kita tetap membumi.
Baca juga:
- Percakapan Semesta di Meja Makan; Renungan tentang Lebaran, Dunia, dan Akhirat
- Menakar Makna Kemenangan
Di meja makan, kasih sayang itu mewujud dalam bentuk hidangan. Makanan Lebaran adalah simbol syukur sekaligus jembatan untuk mempererat ikatan batin. Di balik setiap sajian, ada doa dan usaha terbaik dari tuan rumah untuk memuliakan tamunya.
Bandung: Warisan Resep dan Kelembutan Hati
Salah satu yang selalu membekas adalah hidangan di Bandung, kota yang kaya akan harmoni rasa. Saya beruntung bisa mencicipi masakan lezat ala mertua yang sarat akan nilai tradisi. Ada kornet daging yang resepnya diwariskan turun-temurun dari nenek buyut—sebuah simbol bahwa cinta keluarga tidak lekang oleh waktu. Dimasak perlahan hingga empuk, ia mengajarkan kita tentang kesabaran. Lalu ada Soto Bandung yang ikonik dengan lobak putih dan kacang kedelai gorengnya. Kesegaran kuah bening ini seolah mencerminkan kejernihan hati yang fitri, mengingatkan kita untuk melepaskan segala sisa dendam dengan sambal cuka yang tajam namun menyegarkan pikiran.
Lampung: Manisnya Berbagi
Melalui sahabat-sahabat dari Sumatera, saya mengenal kekayaan kuliner Lampung. Ada kue khas (seperti Lapis Legit namun tanpa tepung) yang hanya terbuat dari telur dan gula. Teksturnya yang padat dan manis pekat mengajarkan kita bahwa hal-hal terbaik dalam hidup sering kali datang dari ketulusan yang murni. Selain itu, Pempek lokal dan Gulai Taboh menjadi bukti betapa masyarakat kita sangat menghargai hasil alam. Di sini, nilai kemanusiaan hadir dalam bentuk hantaran; makanan dikirimkan ke tetangga dan kerabat, memastikan bahwa kebahagiaan hari raya dirasakan oleh semua orang tanpa terkecuali.
Malang: Akulturasi dan Toleransi
Di kota kelahiran saya, Malang, ada pergeseran budaya yang menarik. Kini, hampir semua keluarga menyajikan ketupat sejak hari pertama dengan pendamping Sayur Labu Siam dan Telur Bumbu Petis. Hidangan ini sering disebut sebagai “Lontong Cap Go Meh versi Malang”. Fenomena ini adalah potret indah toleransi dan akulturasi budaya di Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa kemanusiaan tidak mengenal sekat; kita bisa merayakan perbedaan di atas satu meja makan dengan rasa syukur yang sama.
Pulau Buru: Perjuangan dan Penghargaan
Terakhir, memori tentang keluarga di Pulau Buru, Ambon, tempat asal orang tua dan leluhur saya. Di sana, menyajikan Sup Sayur atau Gado-gado adalah bentuk perjuangan yang luar biasa. Bahan-bahan seperti wortel dan kubis harus didatangkan jauh-jauh dari Jawa. Proses logistik yang rumit ini menjadikan sayur-mayur sebagai hidangan paling mewah. Pesan moralnya sangat dalam: kita belajar untuk tidak menganggap remeh hal-hal kecil. Sesuap sayuran di Buru adalah simbol pengorbanan dan rasa syukur yang melangit atas rezeki yang berhasil diupayakan.
Keberagaman hidangan ini—dari segarnya masakan Sunda, legitnya kuliner Lampung, hangatnya akulturasi di Malang, hingga perjuangan keluarga di Ambon—adalah wajah asli Indonesia. Di balik aroma rempah yang menggoda, ada cerita tentang perjuangan, penerimaan, dan cinta yang tulus.
Lebaran mengajarkan kita bahwa sejatinya, kemanusiaan bermula dari meja makan keluarga: tempat kita belajar berbagi rezeki, memaafkan kesalahan, dan merayakan kehidupan dengan hati penuh syukur. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga setiap suapan membawa kebahagiaan dan menguatkan kemanusiaan kita semua. Amin.
*Penulis adalah dosen Sastra Inggris, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





