Oleh: Ustaz Tamim Mulloh, S.S., M.Pd.
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir sama: masjid penuh, tilawah meningkat, linimasa media sosial dipenuhi ayat dan hadis. Namun ada satu pertanyaan yang menurut saya jarang kita jawab dengan jujur: apakah Ramadhan benar-benar mengubah kita?
Baca juga:
- Tingkatkan Daya Saing Lulusan, Prodi BSA Pertajam Kurikulum Berbasis OBE dan MBKM
- Menjadikan Ramadhan Sebagai Ruang Rekonsiliasi Diri
Bagi saya, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah musiman. Ia adalah momentum psikologis dan spiritual yang seharusnya menjadi titik balik. Masalahnya, banyak dari kita—termasuk saya sendiri—sering menjadikan Ramadhan hanya sebagai ritual tahunan, bukan sebagai pintu taubat yang sesungguhnya.
Padahal Allah ﷻ sudah menyeru dengan sangat jelas:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Ayat ini tidak ditujukan kepada pendosa kelas berat saja, tetapi kepada orang beriman. Artinya, taubat adalah kebutuhan permanen, bukan program darurat.
Ramadhan: Bulan yang Terlalu Berharga untuk Disia-siakan
Allah ﷻ menjelaskan keistimewaan Ramadhan dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Menurut saya, ini bukan sekadar informasi historis tentang turunnya Al-Qur’an. Ini adalah pengingat bahwa Ramadhan adalah bulan hidayah—bulan perubahan arah hidup. Jika arah hidup kita masih sama setelah Ramadhan berlalu, maka ada yang perlu kita evaluasi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan harapan besar: Ramadhan adalah momentum reset spiritual. Namun sekaligus menjadi kritik halus—ampunan itu bersyarat: iman dan ihtisab (mengharap pahala). Bukan sekadar menahan lapar.
Mengapa Kita Sering Menunda Taubat?
Menurut hemat saya, ada dua alasan utama.
Pertama, kita merasa masih punya waktu. Padahal Allah ﷻ telah menegaskan:
وَما تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Dan tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok, dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Ayat ini membongkar ilusi “nanti saja”. Kita hidup dalam ketidakpastian total, tetapi sering berperilaku seolah-olah umur sudah dijamin panjang.
Kedua, kita merasa dosa kita terlalu banyak. Padahal Allah sendiri berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Bagi saya, ayat ini adalah deklarasi kasih sayang Tuhan. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, kecuali ketika kita memilih untuk tidak kembali.
Ramadhan Bukan Sekadar Puasa
Allah ﷻ menegaskan tujuan puasa: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa adalah kesadaran penuh bahwa Allah mengawasi kita. Dan kesadaran itu tidak mungkin lahir tanpa taubat. Maka menurut saya, Ramadhan tanpa taubat adalah kehilangan substansi.
Rasulullah ﷺ bahkan memperingatkan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)
Hadis ini terasa keras. Namun justru di situlah letak peringatannya: jangan sampai Ramadhan hanya menjadi rutinitas biologis tanpa transformasi moral.
Taubat: Bukan Sekadar Istighfar
Dalam literatur klasik, termasuk pembahasan para ulama seperti Imam Al-Ghazali, taubat memiliki tiga syarat: meninggalkan dosa, menyesal, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika terkait hak manusia, harus ada pengembalian hak.
Rasulullah ﷺ bersabda:“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah)
Di sinilah saya melihat Ramadhan sebagai momen paling ideal. Suasana spiritualnya mendukung. Qiyamullail melunakkan hati. Tilawah membuka kesadaran. Sedekah membersihkan ego. Masalahnya bukan pada kurangnya kesempatan, tetapi kurangnya keseriusan.
Opini Pribadi: Ramadhan adalah Ujian Konsistensi
Menurut saya, ukuran keberhasilan Ramadhan bukan pada seberapa sering kita menghadiri buka bersama atau seberapa cepat kita khatam Al-Qur’an. Ukurannya adalah: apakah setelah Ramadhan kita lebih dekat kepada Allah dibanding sebelumnya?
Ramadhan sejatinya adalah laboratorium pembiasaan. Jika selama 30 hari kita mampu menahan diri dari hal yang halal (makan dan minum), maka secara logika spiritual kita seharusnya lebih mampu meninggalkan yang haram.
Jika setelah Ramadhan kebiasaan lama kembali tanpa perubahan, maka bisa jadi kita hanya menjalani bentuknya, bukan maknanya. Jangan Tunggu Ramadhan Berikutnya
Setiap Ramadhan adalah kemungkinan terakhir. Kita tidak pernah tahu apakah masih diberi kesempatan tahun depan. Maka bagi saya, kalimat “kalau bukan sekarang, kapan lagi?” bukan sekadar retorika, tetapi peringatan eksistensial.
Ramadhan adalah undangan Allah untuk kembali. Undangan itu tidak selalu datang dua kali.
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai pengantar taubat—bukan sekadar jeda dari dosa, tetapi titik balik yang nyata. Semoga Allah menerima taubat kita, mengampuni kesalahan kita, dan menjadikan Ramadhan ini sebagai awal kehidupan yang lebih bertakwa.
اللهم تب علينا توبة نصوحًا، واجعل رمضان نقطة تحول في حياتنا. آمين.





