MIU Login

Dekan Humaniora: Kesuksesan Sejati Berakar pada Adab dan Moralitas

HUMANIORA – (5/2/2026) Moralitas merupakan kompas hakiki yang menentukan martabat seorang sarjana di tengah hiruk-pikuk dunia profesional. Tanpa fondasi etika yang kokoh, gelar akademik setinggi apa pun hanyalah aksesoris tanpa makna yang gagal memberikan kemaslahatan bagi sesama. Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., dalam gelaran Yudisium dan Pelepasan Mahasiswa Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, di ruang teater lantai 3, Rabu (5/2).

Baca juga:

Mengawali sambutannya, Prof. Faisol mengajak para peserta untuk merefleksikan pencapaian mereka sebagai nikmat Allah yang besar. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan hari ini adalah buah dari pengorbanan dan doa orang tua yang menjadi jembatan keberkahan hidup.

Dalam paparannya, Prof. Faisol mengutip pemikiran Thomas J. Stanley dari buku The Millionaire Mind. Ia menekankan fakta bahwa 80 hingga 90 persen kesuksesan tidak ditentukan oleh modal finansial atau kecerdasan intelektual semata, melainkan oleh soft skill yang berakar pada kejujuran, karakter, dan kemampuan berkomunikasi.

“Keahlian teknis mungkin mengantarkan kalian mendapatkan pekerjaan, namun hanya karakter dan integritaslah yang akan membuat kalian bertahan dan berkembang,” tegasnya di hadapan para calon wisudawan.

Memasuki narasi yang lebih filosofis, Prof. Faisol menyoroti bahwa persoalan moralitas adalah tantangan serius di era modern. Ia menegaskan bahwa adab memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar ilmu pengetahuan. Merujuk pada kitab Tahdzibul Akhlaq karya Ibnu Miskawayh, ia menjelaskan bagaimana integritas secara historis menjadi kunci kesuksesan yang langgeng.

“Ilmu yang tinggi tanpa disertai sikap tawadlu (rendah hati), moralitas, dan etika, tidak akan memberikan manfaat nyata bagi pemiliknya maupun orang lain,” tuturnya.

Lebih lanjut, dengan mengutip Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimya’ Al-Sa’adah, Prof. Faisol memaparkan bahwa dalam diri manusia terdapat dua potensi dominan: syahwat dan amarah. Jika tidak dikendalikan dengan ilmu, syahwat akan mendorong pada kerakusan dan amarah akan melahirkan kebencian.

“Ilmu adalah kendali. Dengan ilmu dan kebijaksanaan, amarah bisa menjelma menjadi semangat perubahan, dan syahwat menjadi dorongan positif untuk membangun peradaban,” jelasnya. Baginya, kebahagiaan sejati tercapai ketika manusia mampu mengelola emosi dan egonya melalui tuntunan ilmu yang benar.

Menutup sambutannya, Prof. Faisol menitipkan pesan agar lulusan Fakultas Humaniora tidak hanya mengejar kesuksesan individu, tetapi juga berperan aktif dalam membentuk masyarakat yang lebih beradab. Ia berharap para sarjana baru ini menjadi pribadi yang sukses tanpa terjebak dalam kesombongan, menjadikan ilmu sebagai instrumen untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Inti dari kehidupan agar kita sukses adalah morality. Jadilah pribadi yang bermanfaat bagi orang banyak dalam posisi apa pun di masyarakat,” pungkasnya penuh harapan.

Prosesi yudisium pun diakhiri dengan doa bersama, membalut kebahagiaan akademik dengan harapan spiritual agar langkah para lulusan diberkahi dan membawa kemaslahatan bagi nusa, bangsa, dan agama. Fakultas Humaniora kembali melepas generasi baru sarjana yang siap menjadi penjaga nilai dan pembangun peradaban yang beradab. [unr/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait