MIU Login

Dari Scroll ke Karya, Peserta NSS 2026 Belajar Jadi Kreator Digital

HUMANIORA – (20/10/2026) Menjadi kreator konten tidak harus dimulai dengan kamera mahal, studio profesional, atau kemampuan menyunting video yang sempurna. Terkadang, perjalanan besar justru berawal dari keberanian menyalurkan hobi dengan peralatan sederhana. Pesan inilah yang dibagikan Dian Agustiningsih, S.S., alumni Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kepada peserta National Student Summit (NSS) 2026 dalam Workshop Social Media Content Creation di Hotel Sinergi, Malang, Senin malam (19/10/2026).

Baca juga:

Di hadapan 30 siswa dari berbagai sekolah di Indonesia, Dian membagikan pengalaman pribadinya membangun karier sebagai kreator konten hingga berhasil meraih penghargaan Silver Play Button dari YouTube. Perjalanannya menjadi gambaran bahwa media sosial tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai sarana mengembangkan bakat, menyebarkan pesan positif, dan membangun peluang ekonomi digital.

Foto : Ketua Panitia NSS 2026 Makhi Ulil Kirom, M.Pd menyerahkan sertifikat penghargaan kepada pemateri workshop konten digital NSS 2026 sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam menginspirasi generasi kreator muda.

Dian mengawali kisahnya dari ketertarikan pada dunia tarik suara. Dengan latar belakang suami yang berprofesi sebagai musisi, ia mulai mengembangkan konten musik religi melalui YouTube pada 2017. Saat itu, tujuannya sederhana, yakni menyalurkan bakat sekaligus menjadikan musik sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan keagamaan.

Namun, perjalanan tersebut tidak langsung membuahkan hasil secara finansial. Dian baru mulai memperoleh penghasilan dari YouTube pada 2020, sekitar tiga tahun setelah pertama kali menekuni pembuatan konten. Pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran penting yang ia bagikan kepada peserta. Di balik konten yang terlihat menarik dan pencapaian seorang kreator, terdapat proses panjang yang menuntut kesabaran, kemauan belajar, serta konsistensi dalam menghasilkan karya.

Baginya, keberhasilan di media sosial bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa cepat sebuah konten mendapatkan perhatian. Lebih dari itu, keberhasilan dibangun melalui kemampuan mengenali potensi diri, menjaga semangat berkarya, dan terus memperbaiki kualitas konten dari waktu ke waktu.

Foto : Peserta NSS 2026 antusias mengikuti workshop konten digital untuk memahami strategi menciptakan karya kreatif, mengembangkan ide, serta memanfaatkan media sosial secara produktif dan bertanggung jawab.

Selain YouTube, Dian juga memanfaatkan Instagram untuk berbagai kebutuhan. Platform tersebut digunakannya sebagai jurnal pribadi, album digital, sarana membangun personal branding, hingga media untuk menjalankan aktivitas afiliasi. Ia juga mengembangkan peluang melalui Shopee Affiliate sebagai salah satu sumber penghasilan di dunia digital.

Melalui pengalamannya, Dian memperlihatkan bahwa setiap platform memiliki karakter dan peluang yang berbeda. YouTube dapat menjadi ruang untuk mengembangkan karya audiovisual, Instagram membantu membangun identitas digital, sementara program afiliasi membuka kesempatan memperoleh penghasilan melalui aktivitas promosi produk.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa langkah awal menjadi kreator tidak harus langsung berorientasi pada keuntungan. Hal terpenting adalah menemukan bidang yang disukai, memahami kemampuan diri, dan membangun kebiasaan menghasilkan karya secara konsisten.

Foto : Peserta National Student Summit (NSS) 2026 berfoto bersama usai mengikuti workshop konten digital yang mendorong kreativitas, literasi media, dan keterampilan berkarya di ruang digital.

Dalam pemaparannya, Dian memperkenalkan empat bekal utama bagi seseorang yang ingin memulai perjalanan sebagai kreator konten, yakni niat, belajar, aksi nyata, dan istiqamah atau konsistensi.

Keempat prinsip tersebut menjadi fondasi sebelum seseorang memikirkan jumlah pengikut, kualitas peralatan, maupun peluang monetisasi. Niat yang kuat perlu diikuti kemauan mencari referensi, mempelajari teknik pembuatan konten, serta keberanian untuk langsung mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh.

Dian kemudian mengajak peserta memahami proses produksi konten secara sederhana. Langkah pertama dimulai dengan menentukan niche atau bidang yang ingin ditekuni. Setelah itu, kreator perlu menyusun konsep yang mencakup pembukaan, isi, dan penutup sebelum mulai merekam.

Tahap berikutnya adalah melakukan penyuntingan, mengunggah hasil karya, dan mengevaluasi respons maupun kualitas konten sebagai bahan perbaikan. Ia menekankan bahwa proses tersebut tidak harus dilakukan dengan perangkat canggih. Kreator pemula dapat memanfaatkan telepon genggam dan aplikasi penyuntingan sederhana yang tersedia, kemudian meningkatkan keterampilannya secara bertahap.

Pesan tersebut semakin terasa relevan ketika salah seorang peserta mengungkapkan keraguannya untuk memulai karena merasa masih memiliki kekurangan. Menanggapi pertanyaan itu, Dian mengingatkan bahwa menunggu seluruh kebutuhan terpenuhi justru dapat membuat seseorang terus menunda langkah pertamanya.

“Memulai menjadi content creator tidak perlu menunggu punya alat-alat yang komplet dan kualitas yang bagus, hanya perlu niat, kemampuan, dan konsistensi. Karena jika menunggu mempunyai alat yang berkualitas, kita tidak akan segera memulainya,” jelas Dian.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama workshop. Bagi Dian, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba. Justru melalui proses membuat konten, seseorang dapat mengenali kekurangannya, belajar dari kesalahan, dan menemukan cara untuk berkembang. Dalam materi yang disampaikan, ia juga mengingatkan peserta agar tidak takut menghadapi kegagalan. Kesalahan merupakan bagian wajar dari proses belajar, sedangkan keberanian mencoba memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang tidak didapatkan apabila seseorang terus menunda.

Workshop berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya menyimak perjalanan Dian, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan mulai mempraktikkan pembuatan konten berdasarkan materi yang telah dipelajari. Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk menerjemahkan ide menjadi karya digital. Mereka diajak memahami bahwa sebuah konten tidak selalu harus rumit. Video pendek, dokumentasi kegiatan, foto, desain grafis, maupun tulisan dapat menjadi media untuk menyampaikan informasi, menghibur, mengedukasi, dan menginspirasi audiens.

Tidak berhenti pada keterampilan teknis, Dian turut mengajak peserta melatih kemampuan public speaking. Ia memberikan pertanyaan kepada peserta untuk dijawab secara spontan, sehingga mereka terdorong untuk berani berbicara, menyusun gagasan, dan menyampaikan pendapat secara langsung. Latihan ini memperlihatkan bahwa kemampuan menjadi kreator konten juga berkaitan dengan keterampilan komunikasi. Seorang kreator tidak hanya dituntut mampu mengoperasikan kamera atau aplikasi penyuntingan, tetapi juga perlu memiliki kepercayaan diri untuk menyampaikan pesan dengan jelas dan menarik.

Bagi peserta NSS 2026, kesempatan belajar langsung dari alumni Humaniora yang telah berkecimpung di dunia kreatif digital menghadirkan gambaran nyata mengenai peluang pengembangan diri di luar ruang kelas. Pengalaman Dian menunjukkan bahwa keterampilan berbahasa, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dapat menjadi bekal untuk memasuki berbagai bidang profesi yang terus berkembang seiring perubahan teknologi.

Workshop ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Fakultas Humaniora dalam menghadirkan pengalaman belajar yang relevan bagi generasi muda. Melalui NSS 2026, para siswa tidak hanya diperkenalkan pada kehidupan akademik perguruan tinggi, tetapi juga memperoleh kesempatan mengasah keterampilan yang dapat mendukung pengembangan potensi dan kesiapan menghadapi masa depan.

Dari kisah Dian yang memulai konten musik religi pada 2017 hingga berhasil membangun kanal YouTube yang meraih Silver Play Button, peserta mendapatkan pelajaran bahwa karya besar tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Terkadang, semuanya dimulai dari satu ide sederhana, keberanian menyalakan kamera, dan kemauan untuk terus belajar meskipun hasil pertama belum sempurna.

Melalui workshop tersebut, peserta NSS 2026 diharapkan semakin percaya diri untuk tidak hanya menjadi penikmat konten di media sosial, tetapi juga tumbuh sebagai generasi kreatif yang mampu menghasilkan karya, menyampaikan gagasan, dan memanfaatkan ruang digital secara produktif. [tub-sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait