HUMANIORA – (21/10/2026) Program pendidikan yang bermakna tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi siswa, tetapi juga menghadirkan inspirasi bagi para pendidik yang mendampingi mereka. Hal inilah yang dirasakan Zaimah Bunga, perwakilan guru dari KMI Pondok Pesantren Pabelan, saat menyampaikan kesan dan harapannya dalam Closing Ceremony National Student Summit (NSS) 2026 di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (21/10/2026).
Baca juga:
Dalam kegiatan penutupan yang berlangsung di Meeting Room Lantai 1 Fakultas Humaniora tersebut, Zaimah menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan NSS 2026 yang telah memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan memperoleh pengalaman belajar di lingkungan perguruan tinggi.

Menurutnya, para siswa yang mengikuti NSS 2026 merupakan peserta terpilih yang mendapatkan kesempatan berharga untuk mengenal dunia akademik sekaligus mengasah potensi diri melalui berbagai kegiatan pengembangan keterampilan.
“Anak-anak yang hadir di sini adalah peserta pilihan,” ungkap Zaimah saat menyampaikan kesannya.
Pernyataan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap potensi para peserta yang berasal dari berbagai sekolah dan madrasah. Kesempatan mengikuti NSS 2026 diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mereka untuk terus mengembangkan kemampuan dan memanfaatkan pengalaman yang diperoleh sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
Zaimah juga menyampaikan harapannya agar para siswa tidak berhenti belajar setelah kegiatan berakhir. Pengalaman selama tiga hari di Fakultas Humaniora diharapkan dapat mendorong mereka menjadi pribadi yang semakin berkembang, baik dalam pengetahuan, keterampilan, maupun karakter.
Harapan tersebut sejalan dengan rangkaian NSS 2026 yang menghadirkan pembelajaran melalui berbagai kegiatan, mulai dari Social Media Content Creation, Creative Writing, dan Personal Branding hingga pengenalan kehidupan akademik serta aktivitas kolaboratif antarpeserta.
Dari berbagai materi yang diberikan, Zaimah memberikan perhatian khusus pada pembelajaran yang menghubungkan unsur brave, behavior, and beauty. Ketiga aspek tersebut dinilainya relevan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi generasi muda.
Konsep brave berkaitan dengan keberanian untuk mencoba, menyampaikan gagasan, dan menghadapi tantangan. Sementara itu, behavior menekankan pentingnya perilaku, etika, serta karakter dalam membangun hubungan dengan orang lain. Adapun beauty dapat dipahami sebagai kualitas diri yang tercermin melalui sikap positif dan kepribadian.
Keterkaitan ketiga aspek tersebut memberikan pesan bahwa pengembangan potensi siswa tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan akademik. Keberanian, perilaku yang baik, dan kualitas pribadi juga perlu dibangun secara bersamaan agar siswa memiliki kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
Zaimah menilai materi yang diperoleh selama NSS 2026 memberikan manfaat yang dapat dibawa pulang oleh peserta dan menjadi bekal untuk pengembangan diri selanjutnya.
Dalam penyampaian kesannya, ia juga mengapresiasi sambutan hangat yang diberikan Fakultas Humaniora kepada para peserta dan pendamping selama kegiatan berlangsung.
“Terima kasih kepada Fakultas Humaniora atas segala sambutan yang hangat dan kegiatan yang luar biasa,” tuturnya.
Bagi Zaimah, penyelenggaraan NSS 2026 menunjukkan pentingnya menghadirkan pengalaman belajar yang mempertemukan siswa dengan lingkungan perguruan tinggi. Melalui kesempatan tersebut, peserta dapat mengenal suasana akademik secara langsung sekaligus memperoleh perspektif baru mengenai pengembangan kompetensi dan masa depan pendidikan mereka.
Tidak hanya menyampaikan apresiasi, Zaimah juga mengutarakan harapan agar program pengembangan kompetensi seperti NSS dapat diperluas dengan melibatkan para guru dan tenaga pendidik.
Ia berharap Fakultas Humaniora ke depan dapat menghadirkan kegiatan khusus bagi guru sebagai ruang untuk memperbarui wawasan, mengembangkan keterampilan, dan bertukar pengalaman mengenai praktik pembelajaran.
Harapan tersebut menjadi masukan penting bagi pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan menengah. Sebab, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya membutuhkan penguatan kompetensi siswa, tetapi juga pengembangan kapasitas guru sebagai pendamping utama dalam proses pembelajaran.
Melalui program yang melibatkan pendidik, pengalaman dan pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi berpotensi menjangkau lebih banyak siswa melalui kegiatan pembelajaran di sekolah dan madrasah.
Bagi Fakultas Humaniora, apresiasi dan harapan yang disampaikan perwakilan guru tersebut menjadi gambaran bahwa NSS 2026 memiliki nilai tidak hanya bagi peserta, tetapi juga bagi lembaga pendidikan yang mengirimkan siswanya.
Kegiatan ini sekaligus membuka peluang untuk memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, sekolah, dan pesantren melalui program pendidikan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Menutup penyampaian kesannya, Zaimah berharap seluruh peserta NSS 2026 dapat terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan proses belajar di sekolah masing-masing.
Dengan berakhirnya NSS 2026, harapan dari KMI Pondok Pesantren Pabelan tersebut menjadi salah satu pesan penting bagi keberlanjutan program: bahwa kolaborasi pendidikan akan semakin bermakna ketika kesempatan untuk belajar dan berkembang tidak hanya diberikan kepada siswa, tetapi juga kepada para pendidik yang mendampingi perjalanan mereka. [al/Infopub]





