HUMANIORA – (5/10/2026) Dari kekompakan gerak Tari Saman, ritme beatbox, harmoni vokal, hingga energi K-Pop dance, panggung Maliki Got Talent (MTG) menjadi ruang bagi sivitas Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menunjukkan wajah kreativitas yang beragam. Empat delegasi Humaniora tampil membawa karakter seni yang berbeda dalam rangkaian Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (2/10/2026), di Student Center Lantai 2 Kampus 1.
Di antara empat penampilan tersebut, Spektra Humaniora berhasil meraih Juara Harapan III melalui kolaborasi seni yang mempertemukan enam dosen dan 14 mahasiswi. Mereka memadukan Tari Saman dari Aceh dengan Dindin Badindin dari Sumatera Barat dalam satu pertunjukan yang bertumpu pada kekompakan gerak, ritme, dan kerja kolektif.
Spektra Humaniora diperkuat oleh 14 mahasiswa, yakni Dewi Maryam Nurhaliza, Arifatus Sholihah Rizky Akbar, Indah Malihatus Sya’adah, Dwi Nur Aini, Tazkiyatul Alawiyah, Maura Hanifah Arista, Nabila Hanum Safitri, Putri Mikaila Kada, Siti Fauzia Ardiangi, Naila Dias Saputri, Atika Nabila, Syech Nabila Alya Fathiyyah, Renata Asya Amelia, dan Alvina Aurellia Dwi Resnanda.
Kolaborasi tersebut semakin menarik karena panggung yang sama juga mempertemukan mahasiswa dengan enam dosen Fakultas Humaniora, yakni Mira Shartika, M.A., Dr. Ika Farihah Hentihu, M.Pd., Dr. Nur Hasaniyah, M.A., Dr. Yayuk Widyastuti Herawati, M.Pd., Finda Muftihatun Najihah, M.Pd., dan Asni Furaida, M.A. Kehadiran dosen dan mahasiswa dalam satu tim membuat Spektra Humaniora tidak hanya tampil sebagai delegasi seni, tetapi juga membawa semangat kolaborasi lintas unsur sivitas akademika.
Foto: Tim Spektra Fakultas Humaniora menunggu giliran untuk tampil
Di atas panggung, relasi dosen dan mahasiswa yang biasanya terbentuk melalui aktivitas akademik berubah menjadi kerja kolektif. Mereka harus menyelaraskan gerak, menjaga tempo, dan membangun kekompakan sebagai satu tim. Proses tersebut menjadi salah satu sisi menarik dari partisipasi Humaniora dalam MTG tahun ini: seni menjadi ruang perjumpaan yang lebih cair antara dosen dan mahasiswa.
Capaian itu menjadi salah satu warna dari keterlibatan Humaniora dalam MTG tahun ini. Sebab, Humaniora tidak hadir dengan satu bentuk ekspresi saja. Selain seni tradisional melalui Spektra Humaniora, delegasi fakultas membawa eksplorasi beatbox melalui The Humanity Boyz, harmoni vokal lewat Humaniora Voice, serta budaya populer global melalui penampilan K-Pop dance oleh Nailah Rahma Harsono. Keragaman tersebut menjadikan panggung MTG bukan sekadar arena kompetisi, tetapi ruang yang mempertemukan tradisi, kreativitas kontemporer, serta kolaborasi dosen dan mahasiswa.
Foto: Humaniora Voice membawakan lagu You Raise Me Up di Ajang Maliki Got Talent (MGT)
Pilihan terhadap dua khazanah seni Nusantara memberikan karakter tersendiri pada penampilan. Kekompakan gerak menjadi elemen penting dalam pertunjukan sekaligus merepresentasikan kebersamaan yang dibangun para anggota tim selama mempersiapkan penampilan. Dosen dan mahasiswa tidak lagi berada dalam relasi formal pembelajaran, melainkan menjadi satu tim yang harus menyelaraskan gerak dan ritme di atas panggung.
Wakil Dekan Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan Fakultas Humaniora, Dr. Galuh Nur Rohmah, M.Pd., M.Ed., memandang keterlibatan sivitas akademika dalam kegiatan seni sebagai ruang untuk mengembangkan potensi sekaligus memperkuat kebersamaan.
“Kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk berkolaborasi, mengekspresikan kreativitas, sekaligus belajar menghargai keberagaman budaya. Prestasi yang diraih tentu membanggakan, tetapi proses kebersamaan, keberanian tampil, dan pengalaman yang diperoleh juga menjadi bagian penting dari perjalanan sivitas akademika Humaniora,” ujarnya.
Foto: The Humanity Boyz, Muhammad Naja Ramdani dan Ero Kurnia Ramadani mengekspresikan musik melalui duet beatbox
Spektrum kreativitas Humaniora juga hadir melalui tiga delegasi lainnya. The Humanity Boyz, yang beranggotakan Muhammad Naja Ramdani dan Ero Kurnia Ramadani, membawa ekspresi musik melalui duet beatbox. Tanpa instrumen musik, keduanya mengeksplorasi suara yang dihasilkan melalui teknik vokal sebagai elemen utama pertunjukan.
Delegasi Humaniora Voice kembali menghadirkan kolaborasi dosen dan mahasiswa. Abdul Muntaqim Al Anshory tampil bersama Muhammad Rifqi Sultan dan Alfan Jamil Azis membawakan You Raise Me Up. Penampilan tersebut membawa pesan tentang dukungan, kepedulian, dan semangat untuk saling menguatkan.
Warna yang berbeda ditampilkan Nailah Rahma Harsono melalui K-Pop dance cover lagu Drama dari aespa. Kehadirannya melengkapi ragam ekspresi empat delegasi Humaniora, dari khazanah budaya Nusantara hingga budaya populer global.
Foto: Penampilan Nailah Rahma Harsono K-pop dance cover yang membawakan lagu “Drama” dari aespa
Keragaman itu menjadi salah satu nilai penting dari partisipasi Humaniora dalam MTG. Seni tradisional tidak ditempatkan berhadapan dengan ekspresi kontemporer, tetapi keduanya memperoleh ruang yang sama sebagai bagian dari kreativitas sivitas akademika. Hal ini relevan dengan lingkungan Humaniora yang berhadapan langsung dengan bahasa, sastra, budaya, serta dinamika ekspresi manusia dalam berbagai bentuk.
Keikutsertaan empat delegasi juga memperlihatkan bahwa pengembangan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berlangsung melalui ruang kelas. Kepercayaan diri, kemampuan bekerja dalam tim, kreativitas, komunikasi, dan apresiasi terhadap keberagaman dapat tumbuh melalui pengalaman-pengalaman di luar pembelajaran formal.
Dalam konteks Dies Maulidiyah, keterlibatan tersebut sekaligus menjadi bentuk partisipasi Humaniora dalam merayakan perjalanan 65 tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sivitas fakultas hadir bukan hanya sebagai penonton rangkaian perayaan, tetapi mengambil bagian melalui karya dan potensi yang mereka miliki.
Capaian Harapan III Spektra Humaniora akhirnya menjadi salah satu hasil dari proses tersebut. Namun, nilai partisipasi Humaniora tidak berhenti pada peringkat kompetisi. Empat delegasi dengan karakter berbeda menunjukkan bagaimana panggung universitas dapat menjadi ruang perjumpaan antara dosen dan mahasiswa, tradisi dan budaya populer, serta kreativitas individual dan kerja kolektif.
Melalui MTG, Humaniora membawa satu wajah yang selaras dengan karakter keilmuannya: menghargai keberagaman ekspresi manusia sekaligus membuka ruang bagi sivitas akademika untuk berkarya dan berkolaborasi. Semangat itulah yang turut dibawa Humaniora dalam memeriahkan Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. [unr/Infopub]