HUMANIORA – (15/5/2025) Pengalaman alumni tidak berhenti ketika mereka meninggalkan ruang kuliah dan menerima ijazah. Justru setelah memasuki dunia kerja dan kehidupan profesional, alumni memiliki sudut pandang baru untuk melihat kembali pendidikan yang pernah mereka jalani. Pengalaman itulah yang menjadi salah satu sumber penting bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam melibatkan alumni pada proses perumusan visi dan misi program studi.
Baca juga:
Pelibatan alumni menjadi bagian dari upaya program studi untuk merumuskan arah pengembangan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan perubahan masyarakat dan kebutuhan dunia profesional. Alumni membawa pengalaman nyata tentang bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang diperoleh selama kuliah berhadapan dengan tantangan setelah mereka lulus.

Dalam proses tersebut, alumni tidak sekadar hadir sebagai lulusan yang dimintai pendapat. Mereka ditempatkan sebagai bagian dari pemangku kepentingan yang memiliki pengalaman langsung terhadap proses pendidikan di program studi sekaligus mengetahui realitas di luar kampus.
Perspektif ini penting. Sebab, alumni pernah berada pada posisi yang kini dijalani mahasiswa: mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas akademik, terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia setelah kampus. Setelah lulus, mereka kemudian memperoleh pengalaman baru dari dunia kerja, pendidikan lanjutan, organisasi, kewirausahaan, maupun berbagai ruang pengabdian di masyarakat.

Pengalaman dari dua sisi itulah yang dapat membantu program studi melihat dirinya secara lebih utuh.
Visi dan misi bukan sekadar rangkaian kalimat yang ditempatkan dalam dokumen kelembagaan. Keduanya menjadi arah yang menentukan bagaimana program studi akan berkembang, karakter lulusan seperti apa yang ingin dibangun, serta kontribusi apa yang ingin diberikan kepada masyarakat.
Karena memiliki fungsi strategis tersebut, perumusannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pandangan akademisi tetap menjadi fondasi penting, tetapi suara mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, dan pemangku kepentingan lainnya juga diperlukan agar arah pengembangan program studi tetap berhubungan dengan realitas yang terus berubah.
Di antara berbagai pemangku kepentingan tersebut, alumni memiliki posisi yang khas. Mereka dapat memberikan gambaran mengenai kompetensi yang terasa kuat setelah lulus, keterampilan yang semakin dibutuhkan di dunia profesional, maupun area yang masih dapat diperkuat untuk mempersiapkan mahasiswa generasi berikutnya.
Masukan seperti inilah yang membantu program studi tidak hanya melihat apa yang sedang terjadi di dalam kampus, tetapi juga membaca perubahan di luar kampus.
Dunia profesional saat ini bergerak cepat. Perkembangan teknologi digital mengubah banyak pola kerja. Kolaborasi tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis. Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, serta membangun jejaring semakin dibutuhkan berdampingan dengan penguasaan keilmuan.
Bagi program studi di lingkungan Humaniora, perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Kompetensi bahasa, komunikasi, budaya, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi fondasi keilmuan yang penting. Namun, kompetensi tersebut perlu terus dipertemukan dengan perkembangan baru agar mahasiswa mampu mengaktualisasikannya dalam berbagai konteks kehidupan dan profesi.
Ada nilai penting ketika seorang alumni kembali berbicara tentang program studinya. Ia tidak lagi melihat kampus hanya dari sudut pandang mahasiswa, tetapi melalui pengalaman yang telah diperoleh setelah lulus.
Apa yang dahulu dipelajari di ruang kuliah dapat dibandingkan dengan apa yang kemudian dibutuhkan di tempat kerja. Pengalaman berorganisasi dapat dilihat kembali manfaatnya ketika harus bekerja bersama tim. Kemampuan berbahasa dan berkomunikasi menemukan konteks baru ketika berhadapan dengan kolega, mitra, pelanggan, maupun masyarakat yang beragam.
Dari pengalaman tersebut, alumni dapat memberikan perspektif mengenai keterampilan dan karakter yang perlu terus diperkuat.
Namun, keterlibatan alumni dalam penyusunan visi dan misi bukan berarti pendidikan tinggi semata-mata diarahkan mengikuti kebutuhan pasar kerja. Program studi tetap memiliki tanggung jawab akademik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun kemampuan berpikir kritis, menanamkan nilai, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Masukan alumni justru menjadi salah satu cara untuk menemukan titik temu antara identitas keilmuan, kebutuhan masyarakat, perkembangan zaman, dan kesiapan profesional lulusan.
Dengan demikian, program studi dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakter akademiknya.
Pelibatan alumni juga memperlihatkan bahwa hubungan antara kampus dan lulusan semestinya tidak berakhir pada wisuda. Alumni tetap menjadi bagian dari keluarga akademik dan dapat mengambil peran dalam perjalanan almamaternya.
Kontribusi tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk. Selain memberikan masukan terhadap visi, misi, dan pengembangan akademik, alumni dapat berbagi pengalaman karier kepada mahasiswa, membuka jejaring profesional, menjadi mitra kolaborasi, memberikan informasi perkembangan dunia kerja, hingga menciptakan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman di luar kampus.
Hubungan yang terbangun secara berkelanjutan membuat manfaatnya bergerak dua arah. Program studi mendapatkan perspektif dari dunia profesional, sementara alumni tetap memiliki ruang untuk terhubung dan memberikan kontribusi kepada institusi yang pernah menjadi tempat mereka bertumbuh.
Yang paling penting, manfaat tersebut pada akhirnya kembali kepada mahasiswa.
Masukan dari alumni hari ini dapat menjadi bagian dari pertimbangan ketika program studi menentukan arah pendidikan untuk tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, pengalaman satu generasi tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya.
Perumusan visi dan misi pada akhirnya bukan hanya persoalan menentukan kalimat yang tepat. Di dalamnya terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar program studi ingin bergerak ke mana, lulusan seperti apa yang ingin dipersiapkan, dan kontribusi apa yang ingin diberikan di masa depan?
Menjawab pertanyaan tersebut membutuhkan keberanian untuk melihat ke depan sekaligus kesediaan untuk mendengarkan pengalaman dari perjalanan yang telah dilalui.
Mereka membawa cerita tentang apa yang terjadi setelah bangku kuliah. Mereka mengetahui bagaimana kompetensi yang diperoleh di kampus digunakan dalam kehidupan nyata. Mereka juga dapat melihat peluang dan tantangan yang mungkin kelak dihadapi mahasiswa yang saat ini masih berada di ruang perkuliahan.
Melalui keterlibatan alumni dalam perumusan visi dan misi, Fakultas Humaniora mendorong tumbuhnya budaya pengembangan program studi yang partisipatif, terbuka, dan berorientasi pada masa depan. Kampus tidak berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama komunitas akademiknya.
Sebab, masa depan program studi bukan hanya milik mereka yang hari ini berada di kampus. Ada perjalanan para alumni di belakangnya dan ada generasi mahasiswa berikutnya yang akan melanjutkannya.
Dari alumni, pengalaman itu dibawa kembali. Bersama program studi, pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi gagasan. Dan untuk generasi mendatang, visi dan misi dirumuskan sebagai arah bersama menuju pendidikan Humaniora yang tetap berakar pada keilmuan, tetapi responsif terhadap perubahan zaman. (al)