MIU Login

Dari Kemanusiaan hingga Krisis Global, Humaniora Tetap Relevan

HUMANIORA – (18/2/2026) Di tengah meningkatnya konflik global, krisis kemanusiaan, dan ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, peran ilmu-ilmu humaniora kembali menemukan relevansinya. Ketika perang, kekerasan, dan ketidakadilan sosial menjadi berita harian, pendekatan kemanusiaan—yang berakar pada nilai, etika, bahasa, budaya, dan sejarah—menjadi kunci untuk memahami sekaligus merespons realitas global secara lebih bermakna.

Baca juga:

Bahwa krisis global tidak dapat dibaca semata-mata melalui kacamata politik, ekonomi, atau militer. Di balik setiap konflik, terdapat persoalan identitas, narasi, memori kolektif, dan relasi kuasa yang hanya dapat dipahami secara mendalam melalui perspektif humaniora. Di sinilah humaniora berperan sebagai ilmu yang menjaga nurani peradaban.

Konflik bersenjata, krisis pengungsi, hingga tragedi kemanusiaan lintas negara menunjukkan bahwa persoalan dunia bukan sekadar soal kekuatan, melainkan juga soal makna. Bahasa propaganda, konstruksi wacana media, legitimasi kekerasan, serta penghapusan suara kelompok rentan merupakan medan kajian utama humaniora yang sering luput dari perhatian publik. Melalui kajian sastra, linguistik, sejarah, dan studi budaya, humaniora membongkar lapisan-lapisan makna yang tersembunyi di balik konflik global.

Fakultas Humaniora memandang bahwa akademisi tidak cukup hanya berdiam di ruang kelas dan jurnal ilmiah. Dalam situasi krisis global, intelektual humaniora memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di ruang publik—memberi penjelasan, menawarkan refleksi kritis, dan menumbuhkan empati sosial. Peran ini menjadikan humaniora bukan ilmu yang netral dan pasif, melainkan ilmu yang berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan.

Lebih jauh, humaniora juga berperan dalam membangun kesadaran global yang berlandaskan moderasi, dialog, dan saling pengertian lintas budaya. Di tengah menguatnya polarisasi dan ujaran kebencian, humaniora menawarkan jalan alternatif melalui literasi kritis, pemahaman lintas budaya, dan kemampuan membaca perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman.

Melalui penguatan kurikulum, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, Fakultas Humaniora terus mendorong sivitas akademika untuk terlibat aktif dalam isu-isu kemanusiaan dan global. Humaniora tidak hanya membentuk lulusan yang cakap secara akademik, tetapi juga melahirkan intelektual publik yang peka, beretika, dan bertanggung jawab terhadap nasib kemanusiaan.

Di tengah dunia yang terus dilanda krisis, Fakultas Humaniora menegaskan satu hal penting: selama manusia masih berhadapan dengan konflik, penderitaan, dan pencarian makna hidup, selama itu pula humaniora akan tetap relevan—sebagai penuntun nurani, penjaga nilai, dan suara kemanusiaan. [cha/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait