HUMANIORA – (24/12/2025) Menghadapi percepatan teknologi dan pergeseran kebutuhan dunia kerja, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengambil langkah proaktif dengan menggelar agenda Pemutakhiran Kurikulum. Kegiatan strategis ini dibuka pada Selasa (23/12/2025) di Ruang Teater Fakultas Humaniora, menjadi tonggak penting bagi transformasi akademik di lingkungan fakultas.
Baca juga:
- Dekan Humaniora Ajak Civitas Akademika Bersatu Hadapi Dampak Transformasi Digital
- Dekan Humaniora UIN Malang: Sastra Arab Bukan Sekadar Teks, Tapi Media ‘Tasliyah’ yang Mencerahkan
Acara ini mempertemukan seluruh elemen kunci, mulai dari pimpinan universitas, tim Unit Pengelola Program Studi (UPPS), hingga seluruh jajaran dosen, guna menyelaraskan visi kurikulum masa depan.
Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., dalam pidato pembukaannya menegaskan bahwa kurikulum adalah instrumen hidup yang harus terus bertumbuh. Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar institusi pendidikan saat ini adalah memastikan lulusan tidak menjadi asing di tengah kemajuan sains.

“Kurikulum harus adaptif dan berbasis evaluasi yang objektif. Kita perlu mengelola subjektivitas keilmuan dosen agar selaras dengan dinamika global dan tuntutan pasar kerja,” ujar Prof. Faisol.
Transformasi ini secara teknis mengacu pada pendekatan Outcome-Based Education (OBE), yang terintegrasi dengan standar SN-DIKTI, KKNI Level 6, dan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. H. Achmad Khudori Soleh, M.Ag., membedah esensi Integrasi Islam dan Sains sebagai identitas tak terpisahkan dari UIN Malang. Merujuk pada amanat Keppres No. 50 Tahun 2004, beliau menekankan bahwa integrasi bukan sekadar wacana, melainkan pilihan metodologis dalam pengajaran.


Mantan Ketua Konsorsium Dosen MKU-MKKU ini menawarkan lima model integrasi dalam pengajaran yang dapat diadopsi dosen, mulai dari Internalisasi Nilai, Ayatisasi & Saintisasi, Dedukasi Al-Qur’an, hingga Integrasi Quantum, sebuah titik temu di mana agama dan sains saling mendekat dan menguatkan.
Tak hanya berfokus pada kecakapan teknis, kurikulum baru ini juga memuat nilai-nilai spiritualitas yang humanis. Dr. Jamilah, M.A. memaparkan bahwa nilai Panca Cinta—cinta kepada Allah, alam, ilmu, bangsa, diri, dan sesama—akan diinternalisasikan ke dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).
Hal menarik lainnya adalah penguatan konsep Ekoteologi. Mahasiswa Humaniora diarahkan untuk memiliki tanggung jawab etis sebagai khalifah di bumi. Nilai ini diharapkan membentuk karakter lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Sebagai penutup rangkaian sosialisasi, Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Halimi, memaparkan timeline penyusunan yang sistematis. Proses ini akan dimulai dari penyusunan bahan kajian dan struktur mata kuliah, diikuti dengan perancangan RPS berbasis OBE.
Guna menjaga kualitas, fakultas juga akan melakukan uji publik bersama para stakeholder serta validasi internal oleh Unit Penjaminan Mutu (UPM) dan Senat Fakultas sebelum akhirnya ditetapkan melalui SK Pimpinan.
Optimisme membuncah di akhir kegiatan. Dengan pemutakhiran ini, Fakultas Humaniora UIN Malang berkomitmen melahirkan lulusan yang berdaya saing internasional dengan fondasi spiritualitas yang kokoh. [unr]





